Monday, 3 December 2018

Yudadi BM Tri Nugraheny, Penulis Cerita Anak yang Produktif

Menulis cerita anak itu sulit nggak sih? Pasti bagi ibu satu anak ini, menulis cerita anak itu semudah menulis catatan harian. Saya katakan demikian karena telah puluhan cerita anak yang dihasilkannya. Hmmm kalau dibukukan jadi berapa buku ya? Eit, jangan malah jadi membayangkan bukunya karena sekarang saya ingin mengulik darinya tip-tip menulis cerita anak untuk media.

Akhir bulan Oktober lalu, setelah pertemuan saya dengannya di Solo, saya mengintip beranda Facebook-nya, wowwww ada dua cerita anak karyanya yang mejeng di media cetak Jawa Tengah. Bagi pembaca surat kabar Jawa Tengah, namanya pasti sudah tak asing lagi, lha cerita anaknya sudah sering sekali dimuat. 

Sekali pun saya belum pernah berhasil memejengkan cerita anak di media cetak, jujur saya iri sekali padanya (hehehe... iri tanda tak mampu). 

Menurut cerita Ibu yang pernah berkarier menjadi editor di penerbit ini cerita anak pertamanya dimuat di Kompas Anak. Wowww sekali ya.. Namun sayang kini Kompas Anak sudah tinggal kenangan ya...

Setelah cerita anak pertama karyanya dimuat di Kompas Anak, cerita anak lainnya langsung mbrudul di banyak surat kabar yang memuat cerita anak. Karyanya ada di Kedaulatan Rakyat, Solopos, Analisa Medan, Soca, Suara Merdeka, Radar Bojonegoro, dan Padang Ekspres
Beberapa jepretan cerita anak karya Mbak Iud, saya ambil dari FB-nya.

Melihat begitu banyak cerita anak yang dimuat, saya jadi kepo, darimana momwriter ini mendapatkan ide cerita untuk cerita anaknya. Setelah melakukan sedikit wawancara instan, saya sedikit tahu asal usul ide cerita anak.

Ide cerita anak yang ditulisnya berasal dari kehidupan sehari-hari hingga keusilan atau pertanyaan anaknya. Tema faktual juga menjadi ide cerita anak yang ditulisnya. Misalnya cerita anak yang Oktober 2018 lalu dimuat di Solopos. Judul cerita anaknya "Baju Batik dari Nenek." Ide ceritanya hari Batik Nasional, 2 Oktober.  Ide cerita lain misalnya seputar olahraga untuk cerita anak "Kertas Undian" yang dimuat di Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Pertanyaan yang kemudian muncul dan saya tanyakan padanya adalah berapa lama harus menunggu cerita anak dimuat media cetak? Menurut ibu dari Bagas ini, setelah cerita anak dikirim nunggunya tidak terlalu lama. "Untuk Solopos misalnya, paling lama nunggu 2-3 minggu. Tapi jika pas temanya seminggu bisa langsung dimuat. Untuk KR (Kedaulatan Rakyat) biasanya paling cepat dimuatnya, Kamis kirim Minggu sudah dimuat," katanya. Cepat juga ya.. Jadi pengen cepet-cepet nulis cerita anak, hehehe.

Pertanyaan pamungkas saya tanyakan padanya, apa tip supaya cerita anak bisa dimuat di media cetak? Pertama, ketika dapat ide langsung catat di gawai, baru dikembangkan kemudian sesuai media cetak yang dituju. Kedua, cerita anak harus menggunakan bahasa anak, jangan ketinggian, dan posisikan penulis sebagai anak.

Siapakah dia? Yang cerita anaknya mbrudul terus di media cetak. Namanya Yudadi BM Tri Nugraheny. Saya memanggilnya Mbak Iud, ada juga yang memanggilnya Heny. Saya sudah mengenalnya lama sekali, ketika baru menginjakkan kaki di dunia editor tahun 2004. Kami sama-sama menjadi editor buku di sebuah penerbit swasta di Jakarta. Kini kami sama-sama menjadi momwriter, seorang ibu yang berprofesi sampingan menjadi penulis. Selain momwriter, Mbak Iud juga mampu mengatak dan mengedit buku lho. Ingin lebih kenal dekat dan kenal dengannya, kunjungi beranda Facebook-nya, Iud Tri Nugraheny

Acara Grand Final Lomba Penulisan Buku Bacaan Sekolah Dasar 2018 di Solo Oktober 2018 lalu mempertemukan saya dengannya, setelah lebih dari 10 tahun tak bertemu. Semoga tahun depan akan banyak kesempatan bertemu lagi dengannya.

Saya dan Mbak Iud, ketika bertemu di Solo

Karena menulis bisa membuat saya bertemu sahabat, teman lama, teman baru, dan menerbangkan saya ke berbagai kota. -Paskalina Askalin-

Wednesday, 21 November 2018

Mengenal Lebih Dekat Rumah Baca Anak Nagari Asuhan Bunda Sry


Semangat literasi baca-tulis hanya menjadi ucapan semangat belaka jika tak direalisasikan dengan segera. Anak-anak memiliki keinginan besar untuk mendapatkan cerita-cerita berkualitas dari buku yang dibacanya atau dibacakan oleh orang-orang di sekitarnya. Semangat membaca harus dipraktikkan langsung bersama anak-anak.

Rumah baca adalah tempat yang paling dekat dengan dunia literasi. Di dalam rumah baca anak-anak bisa membaca buku, dibacakan buku, dan mendapatkan pendampingan tentang pentingnya membiasakan membaca buku.

Ada sebuah ruang kosong lalu diisi rak buku dan ditaruhlah buku di dalamnya, jadilah ruangan buku. Akankah bisa menjadi rumah baca atau perpustakaan? Belum tentu. Membuat rumah  baca atau perpustakaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada rak buku dan buku saja, tidak akan menciptakan semangat literasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Membuat rumah baca perlu dukungan dan kerja keras serta semangat. Pengelola rumah baca tidak bisa hanya diam menunggui buku yang ada. Seperti yang dilakukan oleh Bunda Sry. Belakangan ini setiap akhir pekan beliau sibuk bersama rumah baca yang belum lama diresmikannya.

Bunda Sry Eka Handayani

Bunda Sry memiliki nama lengkap Sry Eka Handayani. Bunda Sry mempunyai sepasang putra putri, si sulung bernama Agha Ghazi Harahap dan si bungsu bernama Hafsah Afifah Harahap. Suami Bunda Sry bernama Hasan Achari Harahap. Bunda Sry saat ini mengajar di SDN 10 Sapiran Bukittinggi. Aktivitasnya bersama rumah baca tak mengganggu pekerjaan sebagai pendidik karena dilakukan ketika akhir pekan. Keluarganya pun amat sangat mendukung seluruh kegiatan Rumah Baca Anak Nagari. 

RUMAH BACA ANAK NAGARI
Rumah Baca Anak Nagari didirikan pada tanggal 4 Desember 2017, di rumah Bunda Sry. Rumah Baca Anak Nagari beralamat di Jalan Kusuma Bhakti No.12 Simpang Taman Ujung By Pass Gulai Bancah Bukittinggi. Menurut Bunda Sry awal mula berdirinya rumah baca ini karena keinginan putra sulungnya, Agha Ghazi Harahap, ketika itu usia 4 tahun, yang ingin punya perpustakaan di rumah supaya bisa membaca setiap hari. Keinginan putra sulungnya itu rupanya sesuai dengan keinginan Bunda Sry dan seluruh anggota keluarga lain pun turut mendukung.


Berawal dari 200 buah buku, 2 rak buku, di ruangan ukuran 3 x4 meter, kini Rumah Baca Anak Nagari kini setiap akhir pekan menjadi tempat bermain dan belajar anak-anak di lingkungan sekitar rumah Bunda Sry. Rumah baca buka setiap hari untuk kegiatan membaca. Untuk akhir pekan Bunda Sry biasanya akan mengadakan kegiatan bersama anak-anak, seperti mendongeng, menulis, membaca puisi, bermain permainan tradisional, dan sebagainya. Ketika ada momen-momen khusus seperti ketika Hari Kemerdekaan RI, Rumah Baca Anak Nagari juga mengadakan lomba-lomba 17 Agustusan.

Keberadaaan Rumah Baca Anak Nagari memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar rumah baca. Apalagi Rumah Baca sering mengadakan kegiatan yang melibatkan anak-anak. Ini pulalah menjadi kekuatan bagi Bunda Sry untuk mendirikan Rumah Baca Anak Nagari.

“Dulu ketika tinggal di Padang, sering pulang kampung ke Bukittinggi. Saya melihat tetangga di lingkungan sekitar jauh dari buku. Anak-anak terlalu sibuk dengan gawai. Melihat itu, saya bertekad, jika pindah mengajar di Bukittinggi akan membuka rumah baca agar anak-anak di lingkungan sekitar mempunyai minat pada membaca buku,” kata Bunda Sry penuh semangat.

Serba-serbi Kegiatan Rumah Baca Anak Nagari

Selain berkegiatan di Rumah Baca Anak Nagari, Bunda Sry sering mengajak anak-anak berkunjung ke tempat umum yang mendukung pembelajaran anak-anak, seperti berkunjung ke Perpustakaan Daerah Bukittinggi. Selain itu, Bunda Sry juga pernah mengajak anak-anak Rumah Baca Anak Nagari ke Taman Ngarai Maram Bukit Tinggi. Semua kegiatan itu dilakukan demi menumbuhkan minat baca anak dan semakin mendekatkan anak-anak dengan buku.

Mendirikan Rumah Baca Anak Nagari kemudian mengelolanya tentulah tidak mudah. Tidak sedikit orang yang mencibir kegigihan Bunda Sry dalam memperjuangkan donasi buku dari berbagai pihak. “Untuk apa membuat rumah baca, tidak ada untungnya, malah menambah kesibukan dan menghabiskan banyak modal,” kata Bunda Sry terkenang. Saat ini Rumah Baca Anak Nagari sudah berdiri, donasi buku pun terus berdatangan.

Buku yang ada di Rumah Baca Anak Nagari beragam, ada buku anak-anak, novel, sastra, keterampilan, referensi, dan sebagainya. “Saat ini Anak Nagari kekurangan buku untuk anak-anak. Jadi jika ada teman penulis atau penerbit yang bersedia menyumbang buku untuk anak-anak, saya amat senang sekali,” ujar Bunda Sry.

Rumah Baca Anak Nagari tentu akan sangat senang sekali jika ada yang mau menyumbang buku dan perlengkapan lainnya. Rumah Baca Anak Nagari bisa dikunjungi di Jalan Kusuma Bhakti No. 12 Simpang, Taman Ujung By Pass Gulai Bancah – Bukittinggi. Nara hubung bisa menghubungi Bunda Sry di nomor ponsel 081374555628, pos el anaknagari18@gmail.com. Ingin mengetahui lebih banyak tentang Rumah Baca Anak Nagari langsung saja intip kegiatan di Facebook Bunda Sry atau Facebook Rumah Baca Anak Nagari dan kunjungi juga blognya www.rumahbacaanaknagari.wordpress.com. (Ditulis oleh Paskalina Askalin)


Catatan penulis:
Saya sungguh merasa beruntung bertemu dengan ibu guru muda ini. Dia sosok yang ceria dan begitu bersemangat menularkan minat baca pada anak-anak. Saya bertemu dengannya di Solo pada bulan April 2018. Ketika itu saya mengikuti kegiatan Pelatihan Bagi Pelatih (ToT) Tingkat Nasional Penulisan Bahan Ajar Inklusif Gender Tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, Solo, 18 - 22 April 2018.
Saya dan Bunda Sry, di sela-sela kegiatan pelatihan di Solo.

Thursday, 8 November 2018

I Gusti Made Dwi Guna: Mengenalkan Anak pada Buku Sejak Usia Tiga Bulan

I Gusti Made Dwi Guna adalah seorang pengajar di sebuah sekolah di Pulau Dewata, Bali. Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku dan mengilustrasi sendiri buku karyanya. Belum lama ini, buku karya Dwi Guna menjadi pemenang sayembara buku yang diadakan oleh Badan Bahasa dalam rangka Gerakan Literasi Nasional 2018.  Bukunya berjudul Beras Tabanan Perjalanan dari Lumpur hingga Dapur. Selain menang sayembara, Badan Bahasa juga memberikan penunjukan langsung padanya untuk menulis satu judul buku.

Tidak hanya itu, Bulan Oktober 2018 lalu, buku Aku Tahu Aneka Binatang: Dari Ayam Hingga Zebra karya Dwi Guna menjadi pemenang kedua kategori nonfiksi Lomba  Penulisan Buku Bacaan Siswa Sekolah Dasar 2018. Dunia literasi sudah melekat dengan keseharian Dwi Guna. Tentunya rasa suka pada dunia literasi ini menjadi penting dikenalkan pada anak sejak dini.

“Saya sudah mengenalkan buku (bahan bacaan tepatnya) kepada Narnia sejak dia masih berusia tiga bulan,” katanya. Narnia adalah putri Dwi Guna yang kini berusia 15 bulan. “Ketika itu Narnia belum bisa membalik badan dan hanya tidur telentang. Saya ikut berbaring di sampingnya dan memegang buku di atas wajah kami. Dia senang mengamati warna dan bentuk. Buku bergambar karya Quentin Blake adalah salah satu bacaan yang disukai Narnia,” tambah Dwi Guna.

Dwi Guna dan Narnia ketika berusia tiga bulan.
Bagi Dwi Guna menanamkan kecintaan terhadap baca-tulis dalam keluarga sangatlah penting. Kebiasaan membaca dapat mengenalkan anak untuk dapat mengenali dan mempelajari banyak hal, serta dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kebiasaan menulis dapat mengasah kepekaan, kreativitas, kedisiplinan, dan juga memberikan beberapa manfaat, baik secara pengetahuan maupun finansial.

Literasi baca-tulis harus dimulai dari keluarga. Orang tua yang menjadi pelaku utama dalam literasi baca-tulis di rumah harus konsisten memberikan contoh kepada anak-anak. Itu pula yang dilakukan oleh Dwi Guna dan keluarga kecilnya.

“Saya mendekatkan Narnia kepada buku dengan cara-cara alamiah. Misalnya, saya perlihatkan keasyikan membaca buku. Saat bermain, dengan sengaja saya membaca buku tak jauh darinya,” ujar Dwi Guna, “tidak hanya itu, saya sering mengajak Narnia melihat-lihat koleksi buku di ruang kerja saya.”

Selain membiasakan dekat dengan buku di rumah, Dwi Guna juga tidak segan mengajak putri kecilnya ini menjelajahi toko buku. “Saya ajak Narnia menjelajahi toko buku. Lalu membiarkan dia berkeliling, sambil mengawasinya supaya tidak mengacak-acak display buku,” katanya, “Bahkan ketika Narnia belum bisa berjalan, saya sering mengajaknya ke toko buku. Narnia akan merangkak di sekitar rak buku.”

Mengenalkan (mendekatkan) buku pada anak memang tidaklah mudah. Apalagi pada anak usia di bawah tiga tahun. Buku yang diberikan bukannya dilihat, buku akan disobek-sobek atau dicoret-coret. Dwi Guna juga mengisahkan jika beberapa temannya tidak berhasil mengenalkan buku pada anak mereka. Bahkan ada pula anak yang meminta buku, tetapi orang tua tidak merespon. Orang tua pada akhirnya membiarkan anak lebih dekat dengan gawai daripada buku.

Selain seorang ayah untuk putri kecilnya, Narnia, Dwi Guna adalah seorang pengajar. Di sekolah tempatnya mengajar budaya baca dibangun dengan cukup baik, walaupun tidak bisa disamaratakan untuk tiap jenjang. “Di tempat saya mengajar ada program silent reading selepas istirahat. Ada pembacaan novel (class novel) oleh guru sebelum jam pulang sekolah. Ada program reading buddies  siswa kelas atas mendampingi siswa yang lebih belia untuk bersama-sama membaca buku,” ujarnya.

Literasi baca-tulis telah masuk ke dalam banyak program pemerintah di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harapannya program literasi baca-tulis tidak hanya slogan dan lambang semata. Literasi baca-tulis menjadi budaya yang menarik untuk anak-anak, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat. Seperti harapan yang diungkapkan Dwi Guna, “Saya berharap semua orang mau banyak-banyak membaca buku. Para penulis menghasilkan buku-buku yang berkualitas dan menarik untuk dibaca. Para penerbit menerbitkan buku-buku yang terjangkau dan merata persebarannya.”


Catatan penulis:
Saya mengenal Bli Guna, begitu saya biasa memanggilnya, sejak tahun 2017. Ketika itu buku karyanya dan buku karya saya menjadi pemenang sayembara penulisan buku bahan bacaan gerakan literasi nasional 2017 yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa. Terakhir kali bertemu, bulan Oktober 2018 ketika kami sama-sama menjadi pemenang kedua kategori nonfiksi Lomba  Penulisan Buku Bacaan Siswa Sekolah Dasar 2018. Acara grand final lomba tersebut diselenggarakan di Solo, 23-26 Oktober 2018.

Dwi Guna dan saya ketika acara pengalungan medali,
Grand Final Lomba  Penulisan Buku Bacaan Siswa Sekolah Dasar 2018

Bli Guna sudah mempunyai beberapa karya buku yang diterbitkan. Salah satu bukunya pernah saya resensi, yaitu Pan Julungwangi. RESENSI BUKU PAN JULUNGWANGI. 

Monday, 5 November 2018

Ira Diana: Pentingnya Membagi Peran Sebagai Ibu Bekerja dan Perhatian untuk Buah Hati


Ira Diana, dikenal sebagai salah satu penulis Indonesia. Ia menulis novel, cerpen, puisi, naskah drama, serta beberapa buku anak untuk Gerakan Literasi Nasional dan PAUD. Perempuan kelahiran Kota Curup, Provinsi Bengkulu ini sangat aktif di berbagai kegiatan penulis dan seni. Ira yang saat ini bekerja di Lembaga Sensor Film RI, harus pandai benar mengatur waktu dan perhatian untuk buah hatinya.

Ira sebagai ibu tunggal untuk putra-putrinya Muhammad Agil Adithya Zalphi dan Naurah Zahirah Zalphi, harus kerja ekstra membagi peran dan waktu sebagai ibu bekerja dan ibu untuk putra-putrinya. Sebagai seorang yang bekerja di Lembaga Negara, waktu dari Senin hingga Jumat, ia berutinitas seperti orang bekerja pada umumnya. Pergi pagi dan pulang hingga sore hari, bahkan jika ada lemburan, otomatis ia sampai di rumah malam hari. Menurutnya, terkadang ketika pulang, anak-anak sudah tidur. Tentu, ini baginya menjadi PR, bagaimana menyiasati agar perhatian dan mendidik anak-anak tetap dapat dilakukan.


“Peran, waktu serta mendidik anak-anak bagi ibu bekerja perlu penyesuaian dengan ritme kerja dan rumah,” kata Ira. Ibu bekerja tentu memiliki keterbatasan waktu untuk memperhatikan buah hatinya full time, namun menurut Ira, perhatian kepada buah hati bukan hanya mengenai kuantitas waktu namun pada kualitas. Ira semaksimal mungkin mengomunikasikan perihal hal-hal yang dialami buah hatinya pada hari itu. Kuncinya komunikasi. Bahkan, di jam Ira bekerja terkadang membalas chat putranya mengenai pelajaran di sekolah.

“Bukan membahas sontekan atau jawaban yang putra saya tanyakan, tapi lebih ke diskusi. Saat itu, Agil sedang tugas membuat blog, ia bertanya kira-kira bagusnya menulis tentang apa, lalu, saya menyarankan menulis hal yang ia suka, seperti games dan anime,” kata Ira.

Ira Diana dan dua buah hatinya, Agil dan Nau.

Berikut beberapa tip yang Ira Diana terapkan untuk menyiasati perannya sebagai ibu dan perempuan yang bekerja dalam hal pendidikan buah hati.


1. Komunikasi
Anak-anak yang memiliki ibu yang bekerja, harus diberi penjelasan, bahwa tugas ibu saat ini, tidak hanya mengurus anak-anak saja di rumah, namun ada hal-hal lain yang perlu dilakukan di luar rumah. Gunakan bahasa sederhana sehingga anak-anak paham. Buka pula ruang diskusi, bila anak bertanya lebih lanjut. Misal, apa yang ibunya lakukan, sampai pukul berapa di luar rumah, atau kegiatan-kegiatan seperti apa yang ibunya ikuti. Dengan demikian, anak-anak belajar empati, mengerti dan ikut memikirkan hal apa yang ia akan lakukan bila sang ibu tidak di rumah (Bila ada hal yang mereka sukar/sulit lakukan, akan mudah diketahui dengan berkomunikasi di awal, seperti ini)

2. Memanfaatkan waktu saat bersama
Memang tidak ada sisa waktu, waktu senggang atau apa pun itu namanya. Namun, bila sedikit saja ada waktu, baiknya itu dioptimalkan untuk menghabiskan waktu bersama. Bisa dimanfaatkan untuk membahas pelajaran sekolah, mendengarkan hafalan anak-anak, jalan-jalan, atau hanya sekadar menghabiskan waktu di rumah dengan santai.

3. Mengoptimalkan potensi anak
Pendidikan menurut Ira bukan hanya yang didapat pada jalur formal seperti sekolah. Ira mengetahui betul, kedua buah hatinya memiliki karakter yang berbeda. Yang laki-laki lebih santai dan tidak terlalu berminat dengan pelajaran/ akademik yang diajarkan sekolah. Putranya ini, lebih suka hal yang simpel, praktis dan out of the box, kalau istilahnya anak yang anti mainstream. Sedangkan putrinya lebih penurut, cukup baik dalam akademik, serta menyukai hal-hal yang ibunya lakukan, seperti menulis, menggambar, dan membuat video-video singkat. Perlakuan untuk keduanya, tentulah berbeda. Prinsipnya sebagai orang tua, harus mengarahkan, mencoba menyelami dunia dan ketertarikan anak-anak. Untuk putrinya sendiri, Ira tidak begitu kesulitan karena ketertarikan minat yang hampir sama. Ira hanya mengakomodir peluang Nau (panggilan untuk putrinya) terkait bakatnya. Ira menyiapkan bahan untuk Nau latihan menulis dan melukis. Hasil karyanya dikumpulkan dan dipajang seberapa pun kualitasnya. Untuk putranya, Ira mencoba memahami kesukaan tentang games, anime dan lainnya. Bahkan Ira pun jadi paham jenis-jenis, rank, level dan segala istilah games yang sedang putranya mainkan---sejak kecil kenal Point Blank, lalu saat ini Growtopia, Mobile Legends dan PUBG. Bila kita menyimak apa yang dilakukan anak-anak, kita dapat mengetahui seberapa besar pengaruhnya bagi mereka. Selama masih dalam batas normal, Ira cukup memberi ruang untuk putranya. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah gila bila seorang ibu membiarkan anak-anak bermain games, nonton anime dan sebagainya.

“Saya bukan ibu yang saklek, dunia berubah, zaman berkembang, pengetahuan juga, maka sudah selayaknya kita menyesuaikannya. Berpikir positif, dari sana kita akan melihat potensi, misanya saja ada e-sport yang tahun ini sudah uji coba untuk Asian Games, nah, ini Agil tahu, bahkan dunia menjadikan ini ladang kompetisi dan berpotensi menjadi sebuah peluang bisnis” lanjut Ira.

4. Bantuan Orang Lain
Karena keterbatasan, selaku orang tua, tidak perlu gengsi meminta bantuan orang lain, untuk kemajuan dan aktivitas anak-anak. Misalnya, mengomunikasikan dengan kepala sekolah, guru untuk hal-hal yang mungkin selaku orang tua, ada keterbatasan. “Saya pun berkomunikasi dengan psikolog di sekolah bila perlu untuk memperhatikan psikis anak-anak ketika saat itu saya pikir mereka sedang tertekan dan persiapan untuk ujian”

Apa pun itu namanya, bila berkaitan dengan anak, ibu mana yang tidak serta merta mencoba banyak cara agar semua berjalan dengan baik dan maksimal sebagaimana mestinya.

Ira berpesan, sejauh apa pun usaha orang tua untuk buah hatinya, bila ikhlas maka insha Allah mendapatkan jalannya. Sebagai single parent, Ira berkewajiban menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk anak-anak. Ditambah lagi dengan label ibu bekerja, maka tugas ke depan tidaklah mudah. Kerja sama dengan buah hati menjadikan segalanya diharapkan dapat teratasi. Anak-anak adalah investasi masa depan, pendidikan dan akhlaknya harus dijaga dari pengaruh negatif globalisasi.

Catatan penulis:
Saya tidak ingat kapan saya pertama kali mengenalnya. Yang pasti, dunia kepenulisan membuat saya mengenalnya dan kini dia menjadi salah satu sahabat penulis yang saya miliki. Saya merasa beruntung sekali bisa mengenalnya. Dalam pandangan saya, dia seorang pekerja keras namun tetap memberikan perhatian penuh pada kedua buah hatinya, Agil dan Nau. Salah satu novel karyanya, pernah saya review, Lisa San No Machigatta Koi, Cinta yang Salah.

Ira Diana, Kadek Heny, dan Paskalina Askalin
dalam sebuah pertemuan penulis Oktober 2018.

Sunday, 4 November 2018

Catatan Paskalina: Bulan November Berbagi Cerita


Tahun 2018 ini banyak berkat melimpah melingkupi hari-hari saya. Sungguh saya mengucap syukur pada Tuhan atas berkat yang luar biasa itu.
Berkat-berkat itu di antaranya diundang ke berbagai kegiatan berskala nasional dan beberapa buku lolos dalam berbagai ajang lomba hingga mendapat penunjukan langsung untuk menulis buku.

Kemarin saya juga mendapat kesempatan mengikut pelatihan menulis buku cerita anak dan kini sedang harap-harap cemas menanti kabar baik, semoga ide cerita saya lolos (Amin semoga lolos). Karena jika ide cerita saya lolos, bukunya akan berkesempatan diterjemahkan ke berbagai bahasa di Asia.

Dalam hal editing, tahun ini pun berkesempatan mengedit buku perguruan tinggi bertema ekonomi dan hukum yang tebalnya luar biasa. Bulan November ini juga mendapat kesempatan bergabung mengedit buku-buku perguruan tinggi dengan sebuah lembaga. Sungguh saya amat bersyukur atas semua kepercayaan yang diberikan pada saya.

Pelatihan Bagi Pelatih (ToT) Tingkat Nasional Penulisan Bahan Ajar Inklusif Gender
Tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, Solo, 18 - 22 April 2018.

Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018, 1-3 Agustus 2018,
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
Pertemuan Penulis Tahap I Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis
Dalam Rangka Gerakan Literasi Nasional 2018,
Hotel Kartika Chandra, 18-20 Agustus 2018
Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis Tahap II
Hotel Ibis Styles, Jakarta, 17-19 Oktober 2018

Grand Final Lomba Penulisan Buku Bacaan Siswa Sekolah Dasar,
Hotel Lor In Solo, 23-26 Oktober 2018

Pelatihan Menulis Buku Anak Bersama Litara dan The Asian Foundation
Perpustakaan Cikini, 31 Okt - 1 Nov 2018

Mengikuti banyak kegiatan di sana-sini membuat saya mengenal banyak orang dari berbagai profesi yang semuanya adalah penulis. Sahabat-sahabat penulis yang saya temui mempunyai kisah dan cerita yang berbeda-beda dan semua kisah mereka itu menurut saya layak untuk saya bagikan di blog saya ini. Oleh karena itu, bulan November ini saya ingin berbagi berbagai inspirasi dari sahabat-sahabat penulis yang saya wawancarai. 

Tunggu kisah-kisah sahabat penulis yang akan saya ungkap di blog saya ini. Tidak hanya berkisah tentang dunia kepenulisannya, tetapi juga tentang kisah hidupnya dalam tip-tip sederhana yang inspiratif.

Yudadi BM Tri Nugraheny, Penulis Cerita Anak yang Produktif

Menulis cerita anak itu sulit nggak sih ? Pasti bagi ibu satu anak ini, menulis cerita anak itu semudah menulis catatan harian. Saya katakan...