Thursday, 2 August 2018

Buku Paskalina Askalin 2012: Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah

Bulan Agustus 2018 ini saya ingin memperkenalkan karya-karya buku saya yang pernah diterbitkan.

Judul: Seri Anak Rajin: Bersih-bersih Bersama di Sekolah
Penulis: Askalin
Penerbit : Nyo-nyo (imprint Penerbit Andi)
Harga : 
Tahun: 2012

Buku Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah masih bisa dibeli di
www.andipublisher.com





Tentang Buku Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah

Melalui buku Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah saya mencoba memberikan salah satu contoh kerja bakti yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah. Dulu waktu saya masih duduk di sekolah dasar, setiap hendak libur sekolah dilakukan kerja bakti membersihkan kelas. Kelas di sapu, di pel, meja dan kaca dilap, papan tulis dibersihkan, pokoknya semua bersih saat kelas akan ditinggalkan lama karena libur catur wulan.

Saya rasa, di kota besar dan dimana pun, di zaman yang serba mudah, serba digital, pemandangan seperti yang saya alami pasti sulit ditemui, bahkan tak ada. Saat ini urusan kebersihan sekolah menjadi tanggung jawab petugas kebersihan sekolah. Siswa/anak sekolah tak perlu capai-capai ikut membersihkan kelas.

Saya berharap buku Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah ini bisa memberikan ajaran pada anak tentang apa itu kerja bakti, kebersamaan, pentingnya kebersihan kelas, dan masih banyak lagi karakter positif lainnya.

image



Wednesday, 1 August 2018

Buku Paskalina Askalin 2011: Terima Kasih Mama

Bulan Agustus 2018 ini saya ingin memperkenalkan karya-karya buku saya yang pernah diterbitkan. 

Judul: Terima Kasih Mama
Penulis: Askalin
Penerbit : Bee Media Kidz, Jakarta
Harga: 

Tahun: 2011

image

Tentang buku TERIMA KASIH MAMA

Kebaikan seorang ibu terekam jelas dalam buku cerita bergambar berjudul "Terima Kasih Mama". Buku ini terbit tahun 2011. Buku ini adalah kiprah pertama saya dengan nama pena Askalin. Seterusnya buku-buku anak yang saya tulis nama pena Askalin. Mulai tahun 2017 saya menggunakan nama pena Paskalina Askalin.

Proses penulisan buku ini amat singkat, hanya dalam waktu dua jam saja. Tiba-tiba muncul ide menulis sesuatu tentang ibu.

Ibu setiap hari mengantarkanku ke sekolah
Ibu membuatkan aku sarapan
Ibu menemaniku saat aku sakit
Ibu menenangkan aku saat ada petir

Dan masih banyak lagi ungkapan betapa baiknya ibu, hingga akhirnya jadilah satu naskah. Lalu, langsung dikirim ke redaksi Bee Media. Beberapa bulan berlalu, redaksi mengabari kalau naskah itu akan diterbitkan.



Jika ada yang ingin memiliki buku ini, pasti sudah sulit ditemukan di toko buku. Jika ingin membeli, bisa menghubungi penulisnya, PASKALINA ASKALIN atau melalui pos-el paskalinaaskalina@gmail.com

Sunday, 22 July 2018

Catatan Paskalina: Pertemuan Penulis Tahap 1 Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis dalam Rangka Gerakan Literasi Nasional 2018

Catatan Paskalina: Pertemuan Penulis Tahap 1 Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis dalam Rangka Gerakan Literasi Nasional 2018

Sebenarnya ada sebuah keengganan datang pada acara ini. Kenapa? Saya enggan berpisah dengan anak lanang dan ada deadline menulis yang sudah mepet. Tentu saja akhirnya saya datang ke acara itu. Ini bukan acara pertama yang saya hadiri, tahun lalu saya juga mengikuti acara yang sama.

Acara pertemuan penulis tahap 1 ini berlangsung hari Rabu-Jumat, 18-20 Juli 2018 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Tahun lalu acaranya bertepatan dengan bulan puasa dan bertempat di LPMP DKI, di Jakarta Selatan. Tahun ini memang berbeda, acara pertemuan pertama langsung dilaksanakan di hotel.

Hari pertama, acaranya pembukaan dan pemaparan materi dari Puskurbuk. Pertemuan Penulis Tahan 1 dibuka oleh Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa, Prof. Gufran Ali Ibrahim.


Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa, Prof. Gufran Ali Ibrahim.

Acara selanjutnya adalah pemaparan materi dari Puskurbuk. Materi yang diberikan sama dengan tahun lalu dan materi itu pernah juga saya dapat tahun-tahun sebelumnya ketika Purkurbuk sedang mengadakan sosialisasi penilaian buku teks atau nonteks pelajaran. Jujur saya tidak tertarik menilaikan buku saya ke Puskurbuk. Karena Badan Bahasa menghendakinya, tentu saya tidak bisa menolak buku saya dinilai oleh Puskurbuk.
Acara hari pertama ditutup dengan foto bersama.




Berfoto bersama Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa.
Hari kedua, acara utama pertemuan penulis tahap 1 ini. Penulis diminta merevisi buku berdasarkan catatan dari penilai (juri) buku. Tidak seperti tahun lalu, panitia tidak membagikan bukunya kepada penulis. Penulis diminta menunggu dipanggil untuk membahas catatan dari penilai. Saya menunggu dari jam 9.30 - 17.00 wib, barulah nama saya dipanggil. Lamaaaaaaaaaa sekali menunggu. Saya yakin sekali tidak ada catatan apa pun di buku saya. Memang benar adanya, tidak ada catatan apapun di buku saya. Yang ada, buku saya malah dikomentarin ini dan itu oleh panitia yang menurut saya tidak punya kewenangan apapun. Setelah komentar panjang sekali, panitia mengakhiri dengan "Saya rasa sudah oke, tidak apa-apa ditulis seperti ini."

Selama proses menunggu apa yang saya lakukan? Saya mengatak buku saya yang lain. Ada dua buku yang berhasil saya atak, tetapi waktu menunggu masih panjang, apa lagi yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya hanya bisa berhaha-hihi dan berfoto-foto. Hari kedua pun berlalu begitu saja.

Seperti sedang kerja serius, faktanya....entahlah.
Hari ketiga (hari terakhir), saya bangun jam 7 pagi, kesiangan. Teman sekamar saya pun tak membangun saya, ah sungguh terlalu... Ya sudahlah. Hari ketiga ini sangat menyenangkan buat saya, karena anak lanang mau datang menjemput saya. Pagi-pagi anak lanang sudah bersemangat sekali untuk datang ke hotel. Jam 9 pagi saya memesan taksi online untuk anak lanang. Jam 10 anak lanang sudah tiba di hotel, dan ketika itu acaranya sedang doa penutup.

Tatapan anak lanang begitu menusuk hati saya. Dia memeluk saya, menatap saya, lalu memeluk saya lagi. Anak lanang begitu rindu pada bundanya. Sambil menunggu administrasi, mama saya menunggu di ruangan minum kopi, saya dan anak lanang menunggu proses administrasi. 

Awalnya saya mau memesan taksi online pulang pergi dari rumah, tetapi sebuah ide lain muncul. Saya ingin anak lanang bisa jalan-jalan di hotel, bisa masuk kamar hotel dulu. Maklum, anak lanang belum pernah masuk hotel hehehehe.

Usai administrasi, saya mengajak anak lanang masuk ke kamar hotel. Anak lanang tertarik dengan pesawat telepon. Jadilah dia beraksi dengan telepon. Sambungan telepon saya cabut untuk menghindari tersambung ke resepsionis. Anak lanang bergaya sedemikian rupa bersama pesawat telepon di genggamannya. 



Waktu check out pun tiba. Masalah terjadi, anak lanang tidak mau pulang. Akhirnya dia bilang, "Besok ke sini lagi ya." Saya hanya tersenyum, tak menjawab apa-apa. 

Anak lanang begitu terkesan dengan pesawat telepon yang ada di kamar hotel. Setelah merayu-rayu, anak lanang mau pulang dan kamipun meluncur bersama taksi online. Sampai di rumah, anak lanang minta dibelikan pesawat telepon hahaha.

Kembali ke cerita pertemuan penulis selama tiga hari ini. Yang menyenangkan hati saya adalah bertemu dengan teman-teman sekamar dulu. Senang juga bisa bertemu teman-teman penulis seluruh Indonesia. Bertemu dengan teman sekamar yang sudah sehati sejiwa dan serasa tentu menyenangkan dan akhirnya jadilah hasil fotonya bikin ngakak hahaha. Inilah foto-foto itu.




Pertemuan Penulis Tahap 1 sudah berakhir, jika ada teman penulis atau Mas/Mbak Panitia yang membaca tulisan ini, saya mohon maaf jika selama acara pertemuan penulis sikap saya kurang menyenangkan, inilah saya tidak ada yang saya tutupi, masih penuh kekurangan dalam hal sikap dan kata. Semoga pada Pertemuan Penulis Tahap 2 yang akan berlangsung beberapa bulan lagi, saya bisa membawa diri lebih baik.

Sampai ketemu di PERTEMUAN PENULIS TAHAP 2. Salam Literasi

Monday, 2 July 2018

Momwriter: Anakku Lanang (1)

"Ayo Bunda. Bunda yang temenin," begitu katanya.
Sambil menenteng dummy naskah saya pun mengikutinya ke luar. Dia bermain saya, mengoreksi naskah.
Inilah cara saya menyelesaikan naskah dan pekerjaan saya.

Menjadi seorang ibu adalah sebuah kebanggaan, menjadi seorang penulis adalah keinginan. Ketika keinginan tidak tercapai, tidak masalah. Karena menjadi ibu lebih membanggakan.

Awalnya saya berusaha keras, mentarget, hari ini harus dapat segini, seminggu harus dapat sekian halaman, harus ini, harus itu... Kini saya tak ingin seperti itu. Jalani saja semuanya, yang penting dia senang dan tidak diabaikan.

Saya menulis untuknya, tentangnya, dan bersamanya. Jalani saja dengan hepi.

#ceritabunda #curhatbunda #momwriter

Sunday, 1 July 2018

Nasihat Diri: Tentukan Target Hidupmu

Hari ini saya bersyukur karena masih memiliki mimpi dan keinginan. Bulan ini (Juli 2018) saya mempunyai target keinginan menyelesaikan beberapa buku untuk lomba dan ada juga buku untuk penerbit. Bulan ini saya juga ingin memberikan waktu penuh untuk pembelajaran anak saya di rumah.

Hidup dengan target, sama halnya dengan hidup punya tujuan. Hidup tanpa tujuan sama saja dengan mati. Oleh karenanya, saya bersyukur masih mempunyai tujuan hidup untuk mewujudkan keinginan saya.

Bagi sahabat yang tidak mempunyai tujuan melakukan apa-apa bulan ini, segeralah tentukan supaya waktu tidak terbuang percuma. Ini bukan soal pekerjaan kantor, atau rutinitas. Kita bisa saja bekerja dan melakukan rutinitas setiap hari, tetapi tidak mempunyai tujuan pribadi, sama saja dengan kekosongan. Oleh karena itu, tentukan arah hidup pribadimu sekarang, targetmu, keinginanmu, sebelum waktu menggerusmu lebih jauh.

Target saya bulan ini, sebagai seorang ibu, bulan ini hingga 1 tahun ke depan fokus pada pembelajaran di rumah untuk anak saya. Sebagai seorang penulis, bulan ini target saya menyelesaikan 4 buku hingga berbentuk dummy siap cetak.

Buku Paskalina Askalin 2012: Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah

Bulan Agustus 2018 ini saya ingin memperkenalkan karya-karya buku saya yang pernah diterbitkan. Judul: Seri Anak Rajin: Bersih-bersih Bers...