Saturday, 16 September 2017

Day16 Ketika Anak Belajar Mandiri

Ada sebuah cerita seorang Bapak tentang kehidupan anaknya yang ada di Indonesia dan satu anaknya di Australia. Kedua anaknya ini sudah berkeluarga dan memiliki anak. Ketika sang Bapak berkunjung ke Australia untuk bertemu anak dan cucunya, Bapak itu cukup terkesima. Dia melihat cucunya yang duduk di bangku TK bisa mengurus dirinya sendiri, mulai dari memakai baju sekolah, sarapan, hingga memakai sepatu.

Kembali ke Indonesia, si Bapak melihat kehidupan anak yang satunya. Anaknya ini memiliki tiga orang anak, dan masing-masing anak memiliki pengasuh anak. Bapak itu melihat semua cucunya, makan harus disuapin, sepatu dipakaikan, dan tas sekolah pun dibawakan. Ketiga cucunya ini tidak mempunyai kemandirian sama sekali.
Kemandirian seorang anak memerlukan dukungan dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Dukungan itu dapat diwujudkan dengan membiarkan anak untuk melakukan sendiri pekerjaan yang mampu dilakukan sendiri, misalnya makan sendiri, mengambil minum sendiri, memakai sepatu/sandal sendiri, membawa tasnya sendiri, dan sebagainya.

Sering saya menyaksikan orangtua/pengasuh membawakan tas anaknya. Seberat apa sih tas anak itu sehingga harus dibawakan tasnya? Apa yang dilakukan orangtua ini secara tidak langsung membuat anak menjadi manja. Jika memang tas yang dibawa terasa berat, orangtua bisa membawakan barang yang membuat berat, misalnya air minum. Intinya adalah berikan tanggung jawab pada anak untuk membawa tas miliknya sendiri. Rasa tanggung jawab yang diberikam pada anak, lama-kelamaan akan menjadi sikap mandiri.

Kemandirian dalam diri anak dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti memakai sandal sendiri, makan sendiri, memakai celana sendiri, dan mengambil minum sendiri. Saat ini anak saya, Kenanutama, berusia 2,8 tahun. Kenan sudah bisa makan sendiri, memakai sepatu/sandal sendiri, dan memakai celana sendiri. Kemampuan Kenan itu tidak instan, ada proses belajar yang dijalani oleh Kenan. Selama proses belajar ini, saya dan semua anggota keluarga di rumah harus membantunya.

Proses belajar anak untuk bisa melakukan suatu pekerjaan itu tidak mudah. Anak memiliki keinginan kuat untuk melakukan sendiri, sementara anak tidak langsung bisa. Hal ini membuat anak putus asa hingga malas mencoba lagi. Orangtua harus sabar menemani anak.

Ketidaksabaran orangtua justru akan merusak proses belajar anak. Karena orangtua tidak sabar, ketika anak kesulitan memakai sandal, orangtua membantu anak dengan cepat. Ketika anak kesulitan menyendok makanan hingga membuat makanan tumpah, akhirnya orangtua menyuapi anak dengan alasan daripada kotor dan tumpah sana-sini.

Kenan saat ini seringkali memilih makan sendiri daripada disuapin. Bahkan kadang, saya harus memaksa jika ingin menyuapinya. Bagi saya ini adalah proses belajar bagi Kenan menuju kemandirian. Walaupun saya harus menahan diri tidak marah, karena nasi berserakan ke sana ke mari.

Anak suka membuat kotor dan berantakan rumah. Bunda harus menikmati keadaan itu, karena itu adalah proses belajar dan kreatifnya sang buah hati. - Paskalina Askalin

#day16 #belajarmenulis #septembercerita #momwriting #30harimenulis #anakmandiri #kemandiriananak

No comments:

Post a Comment

Sepuluh Fakta tentang Mudik Lebaran

Sepuluh Fakta tentang Mudik Lebaran (1) Orang akan berbondong-bondong mudik ketika hari mudik raya Idulfitri atau Lebaran. (2) Tiga b...