Thursday, 28 September 2017

Day28 Mengenalkan Tanggung Jawab dan Konsekuensi pada Anak

Hari ini Kenan ikut saya pergi ke kantor kelurahan untuk sebuah kepentingan. Di halaman kelurahan, ada taman bermain anak, seperti perosotan, ayunan, kursi putar, dan sebagainya. Sudah pasti Kenan mau mampir, bahkan berlama-lama di taman bermain itu.

Setelah usai urusan di kelurahan, Kenan merengek minta main perosotan. Saya bilang, "Oke boleh main perosotan, tetapi dua kali saja ya." Dengan mantap Kenan menjawab, "Ya, dua kali." Benar saja, setelah dua kali mencoba perosotan, Kenan langsung menuju parkiran motor, dan bersiap untuk pulang.

Sungguh hati kecil saya sebenarnya tidak tega. Kenan pastilah ingin main perosotan lebih lama tetapi Kenan menaati aturan dari saya. Dari sini saya belajar, karakter anak, kebiasaan anak, adalah bentukan dari orangtuanya. Untuk menjadikan seorang pribadi yang kuat, orangtualah yang harus bisa lebih dahulu membentuk pribadi yang kuat psda dirinya. Jujur, kadang saya belum mampu menjadi orangtua yang kuat menghadapi segala macam tingkah polah anak. Emosi saya yang meledak-ledak, rasa percaya diri yang naik turun, dan keberanian menertibkan anak, kadang masih sulit saya lakukan.

Tentang aturan yang saya terapkan saat ini, sepertinya Kenan sudah paham. Ketika sedang bermain mobil-mobilan, tiba-tiba Kenan ingin main pasir ajaib. Saya akan mengharuskan Kenan membereskan mainan mobilnya lalu baru boleh main pasir ajaib. Kini, Kenan sudah punya inisiatif sendiri, dengan kesadaran sendiri Kenan membereskan mainan mobil-mobilan, setelah itu lanjut bermain pasir ajaib. Setelah main pasir ajaib, muncul keinginan main masak-masakan, maka Kenan akan membereskan main pasir ajaibnya dan lanjut main masak-masakan.

Anak seusia Kenan sudah bisa diajak komunikasi seperti ini sangatlah bagus. Kenan sudah bisa bertanggung jawab atas mainannya (atas apa yang dilakukannya). Kenan juga memahami arti konsekuensi, bahwa jika ingin melakukan yang diinginkan, akan ada hal yang harus dikorbankan.

Mengajarkan anak nilai tanggung jawab, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses belajar yang panjang harus dilalui oleh anak. Proses belajar anak itu juga memerlukan dukungan dan kesabaran penuh dari orangtua.

#day28 #septembercerita #momwriting #writingchallenge

No comments:

Post a Comment

Buku Paskalina Askalin 2012: Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah

Judul: Seri Anak Rajin: Bersih-bersih Bersama di Sekolah Penulis: Askalin Penerbit : Nyo-nyo (imprint Penerbit Andi) Harga :  Tahun: 20...