Thursday, 7 September 2017

Day7 Mulai dari Main Masak-masakan Sampai Main Bengkel-bengkelan

Bermain masak-masakan itu identik dengan permainan anak perempuan. Tetapi bagi saya, permainan apapun bisa dimainkan oleh anak-anak, baik itu anak perempuan maupun anak laki-laki.
Benda-benda mainan yang dimainkan anak-anak, biasanya merupakan duplikat dari benda yang digunakan oleh orang dewasa dalam pekerjaannya, baik itu pekerjaan domestik maupun pekerjaan profesional. Contoh mainannya, yaitu:
- seperangkat alat masak (kompor, wajan, teko, gelas, piring, sendok, dll)
- keranjang belanja dan isinya (sayur, buah, dll)
- alat elektronik (setrika, blender, kipas angin, microwave, rise cooker, dll)
- perkakas (palu, tang, obeng, kunci inggris, gergaji, dll)
- perlengkapan dokter (stetoskop, tensimeter, dll)
- mobil-mobil kontruksi, dan sebagainya.
Budaya masyarakat kita membiasakan benda mainan anak diberikan sesuai dengan jenis kelamin. Bisa saya katakan, masyarakat kita masih belum responsif gender, mainan anak perempuan dibedakan dengan mainan anak laki-laki.
Padahal kita semua tahu faktanya bahwa saat ini, profesi itu tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin, perempuan ada yang bekerja sebagai montir, anak laki-laki ada yang bekerja sebagai koki. Bahkan pekerjaan domestik seperti menyetrika baju juga bisa dilakukan oleh laki-laki, dan mobil kontruksi bisa dikemudikan oleh perempuan.
Saat ini usia anak saya, Kenan, 28 bulan, mainan yang saya beli bermacam-macam, ada mainan yang biasa dimainkan anak laki-laki dan anak perempuan.
Tidak mudah sebenarnya membudayakan reponsif gender pada keluarga, terutama dalam hal mainan. Apalagi jika mendengar komentar nyinyir para tetangga. Contohnya seperti ketika Kenan membeli mainan troli (keranjang belanja) yang berisi peralatan masak, buah, dan sayur.
Kenan begitu bersemangat memamerkan mainan barunya, di dorong ke sana ke mari. Tetangga yang melihat ada yang komentar, "Cowok kok beli mainan gitu."
Dijawab serius pasti mereka tidak paham, jadi dijawab santai aja, "Kenan kan mau jadi koki alias chef."
Bagi saya, mainan anak laki-laki dan mainan anak perempuan, bebas dimainkan oleh anak saya. Namun, saya harus tetap menjaga batasannya. Dalam satu waktu, Kenan bisa bermain masak-masakan, dan secara bersamaan main bengkel-bengkelan alias montir. Jadi buat apa menjadi masalah, ini mainan anak perempuan atau anak laki-laki, yang penting proses belajar anak terus harus didampingi, jadi orangtua bisa mengetahui sejauh mana pemahaman anak tentang benda-benda yang dimainkannya.
#day7 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #responsifgender #biasgender #mainananak #permainananak #mainanedukasi

No comments:

Post a Comment

Buku Paskalina Askalin 2012: Seri Anak Rajin Bersih-bersih Bersama di Sekolah

Bulan Agustus 2018 ini saya ingin memperkenalkan karya-karya buku saya yang pernah diterbitkan. Judul: Seri Anak Rajin: Bersih-bersih Bers...