Wednesday, 27 September 2017

Day27 Waktu untuk Kenan

Saya ada di rumah, bekerja di rumah, setiap hari di rumah, kecuali jika ada kegiatan. Berada di rumah itu ternyata belum tentu bisa memberikan waktu yang banyak buat Kenan. Apalagi jika saya bekerja jadi karyawan, waktu buat Kenan semakin terkikis habis oleh rasa lelah.

Saya merasakan sekali, Kenan begitu ingin selalu dipedulikan setiap waktu setiap saat. Sehingga saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya ketika sibuk bermain dengan Kenan. Ketika Kenan tidur, itu waktu yang tepat untuk saya bisa bekerja di depan laptop. Tetapi saat saya lelah, akhirnya saya pun tumbang menemaninya tidur.
Anak seusia Kenan selalu menuntut diperhatikan, sedikit-sedikit "Bunda", sedikit-sedikit " Bunda". Otomatis saya harus meletakkan semua rencana dan pekerjaan saya, dan fokus pada Kenan.

Ada sebuah stereotip yang saya pahami, orang kaya yang sibuk bekerja cenderung akan lebih banyak menelantarkan anaknya. Orangtua sibuk bekerja mencari uang mencari uang untuk anaknya tetapi tidak peduli pada kebutuhan kasih sayang yang diperlukan sang anak. Ternyata stereotip itu tidak sepenuhnya benar.

Siapa pun orangtua (ayah dan ibu), wajib memberi perhatian pada anaknya, baik secara materi maupun rohani (kasih sayang). Jadi masalah, stereotip tadi, tergantung pada orangnya masing-masing. Ada orangtua yang tega mengesampingkan kebutuhan kasih sayang anaknya, ada orangtua yang peduli akan hal itu.

Bagi Kenan saat ini, yang terasa kurang adalah waktu kebersamaan dengan ayahnya. Setiap kali ayahnya pulang kantor, pastilah Kenan akan terus mengikuti ayahnya pergi ke mana pun. Bahkan ayahnya mau mandi pun tidak boleh. Apa yang dilakukan Kenan adalah cara seorang anak untuk menarik perhatian orangtuanya. Kenan ingin diperhatikan, bukan berarti Kenan manja.

Orangtua, selelah apapun ketika pulang bekerja harus tetap memberikan waktu dan perhatian terbaik untuk anaknya. Saya pun ketika lelah melanda berusaha untuk tetap menjaga nada suara serendah mungkin. Walau kadang saya lupa (khilaf) sehingga membuat emosi saya membuncah tiada tara.

Waktu untuk Kenan bagi saya yang utama. Waktu untuk menulis, waktu untuk menggambar, waktu untuk memanjakan diri, bisa saya abaikan semua, demi menyediakan waktu untuk Kenan.

Semoga saya dan semua keluarga Indonesia bisa memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka. Amin.

#day27 #septembercerita #writingchallenge #momwriting

No comments:

Post a Comment

Momwriter: Anakku Lanang (1)

"Ayo Bunda. Bunda yang temenin," begitu katanya. Sambil menenteng dummy naskah saya pun mengikutinya ke luar. Dia bermain saya, m...