Wednesday, 10 January 2018

Viral, Tulisan Seorang Dokter yang Menyebut PAUD itu Bukan Pendidikan...


Saya tidak ingin membahas tentang tulisan dokter itu. Saya hanya ingin cerita tentang dilema yang saya alami. Dilema itu seakan muncul lagi karena tulisan dokter itu.

Saya pernah menulis ini di catatan saya sebelumnya:
Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari.
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum.
Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah. (Lengkapnya di sini)

Tentang sekolah Paud ini sebagai seorang ibu, saya sebenarnya agak galau, antara memasukkan Kenan ke Paud atau tidak. Kegalauan saya karena stereotipe masyarakat sekitar saya yang memandang sekolah Paud (baca kelompok bermain) sebagai sebuah keharusan bagi anak padahal kelompok bermain itu tidak wajib bagi anak. Setiap kali bertemu saudara atau teman yang lama tak bertemu, pertanyaannya adalah "Kenan sudah sekolah belum?"
Orang tak dikenal di puskesmas, di stasiun, atau tempat lain pun, selalu menanyakan hal yang sama pada Kenan. Apalagi ketika melihat Kenan menghitung benda atau bersenandung lagu ABC. Mereka mengira KARENA KENAN SUDAH SEKOLAH PAUD, Kenan jadi bisa menghitung dan mengenal huruf.

Saya sadar betul, kalau terlalu peduli dengan ocehan orang malah jadi ribet sendiri. Akhirnya saya (kami, saya dan suami) putuskan Kenan tidak masuk sekolah PAUD (baca kelompok bermain).  Jika saya ibu yang bekerja, mungkin keputusannya bisa lain. Saya sepanjang waktu di rumah, jadi saya bisa mengajak Kenan belajar dan bermain semaunya. Lagi pula saya punya banyak buku untuk menunjang proses belajar. Kenan pun bisa belajar sesuka hatinya, tanpa ada tekanan dari siapapun. Mau bermain terus seharian pun tidak jadi soal.

Jadi, tentang keputusan apa perlu memasukkan anak ke sekolah Paud, itu tergantung dari kebijaksanaan orangtua masing-masing anak. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda-beda, setiap anak pun mempunyai kebutuhan yang berbeda. Berikan yang terbaik untuk buah hati, bukan yang terbaik untuk orangtua.

Tulisan ini mengandung curhat ^_^

No comments:

Post a Comment

Momwriter: Anakku Lanang (1)

"Ayo Bunda. Bunda yang temenin," begitu katanya. Sambil menenteng dummy naskah saya pun mengikutinya ke luar. Dia bermain saya, m...