Wednesday, 21 March 2018

Ulasan Buku: Pan Julungwangi karya I Gusti Made Dwi Guna

Kover buku Pan Julungwangi


Kearifan lokal merupakan sebuah tema yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah bacaan. Apalagi nilai-nilai yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. 

Pan Julungwangi adalah tokoh utama dalam cerita ini yang memegang teguh kearifan lokal. Pan Julungwangi seorang bapak dari dua anak, beristri satu, dan pekerjaannya sebagai petani. Pan Julungwangi seorang petani yang santun dan jujur. 

Pada suatu hari Pan Julungwangi mendapati sawahnya kering dan ternyata aliran air yang menuju sawahnya disumbat orang. Pan Julungwangi membersihkan sumbatannya, tetapi esok harinya aliran air disumbat lagi. Namun, justru sumbatan air itu menyelamatkan sawahnya dari longsor. Hujan deras membuat aliran air menjadi deras sehingga membuat sawah yang mendapat aliran air itu tidak dapat derasnya air hingga menjadi longsor. Sawah yang mengalami longsorlah yang menjadi terduga penyumbat aliran air di sawah milik Pan Julungwangi.

Dari peristiwa di atas kita dapat memetik hikmah jika perbuatan curang pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal dari alam. 

Di lain waktu, Pan Julungwangi membuat lelakut atau orang-orangan sawah yang berfungsi untuk mengusir burung yang hendak makan padi. Dengan penuh kesungguhan hati Pan Julungwangi membuat lelakut itu hingga ketika dipasang menarik perhatian petani lain. Menurut petani lain, lelakut milik Pan Julungwangi mampu mengusir burung dan binatang lain mendekati padi. Karenanya beberapa petani meminjam lelakut milik Pan Julungwangi. Pan Julungwangi tidak kuasa menolak, walaupun dia sendiri membutuhkan lelakut itu untuk sawahnya. Pada akhirnya dipinjamkan juga lelakut itu pada teman-temannya, namun sebelum memberikan lelakutnya, Pan Julungwangi mempersembahkan sesajen di luanan carik.

Wahai Ida Bhatari Sri, peliharalah senantiasa segala yang tumbuh di sawah hamba ini. Terutama keselamatan tanaman padi hamba. Hamba serahkan sepenuhnya kepada-Mu.
Setelah itu Pan Julungwangi meletakkan lagi dua buah canang.
Mohon ampun jika hamba lancang memanjatkan puja ini ke hadapan Ida Sang Hyang Sepuh dan Ida Sang Hyang Pemunah Sakti. Semoga tanaman pada hamba selalu dalam perlindungan-Mu. Segala hasil yang akan hamba dapatkan hamba serahkan sepenuhnya kepada suratan takdir-Mu. 
(Hal 26-27)

Beberapa petani meminjam lelakutnya secara bergantian. Memang benar menurut anggapan mereka, lelakut milik Pan Julungwangi seperti bertuah karena tidak ada burung atau binatang lain yang mengganggu padi.

Mengintip tampilan  isi buku Pan Julungwangi


Lelakut milik Pan Julungwangi telah kembali. Namun, kondisi lelakutnya sudah tak berbentuk lagi. Pan Julungwangi sedih karena hal itu. Namun, temennya berujar, “Jangan sedih Pan Julungwangi, kamu telah membantu banyak orang. Perbaikilah lelakutmu ini agar dapat digunakan pada musim tanam berikutnya.”

Kepasrahan Pan Julungwangi rupanya mendatangkan rejeki untuknya. Tanaman padinya siap di panen pada musim panen tiba. Selain itu, rupanya teman-teman petani yang dipinjami lelakut mengirim hasil panen ke rumah Pan Julungwangi sebagai ucapan terma kasih telah dipinjami lelakut.

Pan Julungwangi adalah potret nilai-nilai kearifan lokal yang masih terjaga. Kejujuran, kepedulian, tidak mementingkan diri sendiri, merupakan nilai yang semestinya terus dilestarikan oleh kita semua, baik yang ditinggal di pedesaan maupun di perkotaan. 

Judul : Pan Julungwangi | Penulis : I Gusti Made Dwi Guna | Tebal: 50 hal
ISBN: 978-602-6976-09-3 | Cetakan: II, Oktober 2016







No comments:

Post a Comment

Yudadi BM Tri Nugraheny, Penulis Cerita Anak yang Produktif

Menulis cerita anak itu sulit nggak sih ? Pasti bagi ibu satu anak ini, menulis cerita anak itu semudah menulis catatan harian. Saya katakan...