Thursday, 28 June 2018

Catatan Paskalina: Waktu yang Tepat untuk Menulis

Waktu yang Tepat untuk Menulis
Di usianya yang menginjak 3,5 tahun, terus terang saya semakin kehilangan waktu untuk menulis. Kenan, anak saya, selalu meminta perhatian saya. Saya tidak bisa menolak permintaannya. Walau kadang-kadang saya terpaksa harus marah dan memintanya untuk mengerti jika saya benar-benar perlu waktu untuk menulis (bekerja).

Saya sadar betul jika marah padanya dan memintanya mengerti adalah KEBODOHAN  saya. Di usia emasnya, Kenan membutuhkan saya selalu dekat dengan, selalu menemaninya setiap saat, pokoknya selalu ada untuknya.

Lalu kapan saya bisa menulis? Kapan saja ketika dia bermain bersama neneknya, ketika dia bersama ayahnya, dan ketika dia tertidur, itulah saat yang tepat untuk menulis. Saat-saat seperti itu kadang sulit juga saya dapatkan karena Kenan selalu ingin dengan saya. Makan dengan saya, mandi dengan daya, yang membuat susu saya juga, semuanya dengan saya, karena saya Bundanya wajarlah jika dia selalu menuntut saya ada selalu bersamanya.

Malam hari, tepatnya tengah malam, itu saat yang tepat untuk menulis. Tetapi rasa lelah setelah seharian bersamanya membuat saya tidak bisa bertahan dari kantuk. Akhirnya saya tidak bisa menulis di tengah malam. Hanya sesekali akhirnya saya bertahan, itu pun karena deadline mengejar.

Saya ingin menulis, tetapi saya tak bisa membiarkannya sendirian. Saya harus kembali pada niat saya, saya berhenti menjadi karyawan demi dia, saya tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun darinya. Kenan adalah hidup saya, Kenan adalah napas saya.

Bulan Juli 2018 ini saya punya target menyelesaikan 4 buku pengayaan. Bulan Agustus 2018 targetnya 3 buku bergambar (PAUD). Masih ada juga naskah buku aktivitas yang belum rampung, kurang 40 halaman sekitar 5 tema. Setiap hari setiap saat, Kenan selalu bersama saya. Lalu, lalu, kapan saya menyelesaikan tulisan saya???

Menulis tetap saya kerjakan dan lakukan, setiap saat setiap waktu, kapan pun itu. Yang penting tidak membuat Kenan sendirian, tidak mengacuhkan Kenan, tetap bisa bermain bersama Kenan. Walaupun hanya sekata dua kata, saya akan tetap menulis di catatan gawai ataupun catatan tulisan tangan.

JADI, WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENULIS ADALAH KAPAN PUN DI SAAT YANG TEPAT.
- Paskalina Askalin -

Thursday, 21 June 2018

Sepuluh Fakta tentang Mudik Lebaran

Sepuluh Fakta tentang Mudik Lebaran

(1) Orang akan berbondong-bondong mudik ketika hari mudik raya Idulfitri atau Lebaran.

(2) Tiga bulan sebelum mudik pesan tiket kereta. Jika tak kebagian tiket kereta bisa juga mudik dengan bus atau membawa kendaraan sendiri.

(3) Pulang ke kampung halaman, bisa kampung halaman istri, kampung halaman suami, kampung halamam sendiri, atau kampung halaman teman (hahaha...)

(4) Bertemu dengan orang tua dan sanak saudara setelah bertahun-tahun berpisah atau menjadi ajang silaturahmi keluarga.

(5) Ketika bertemu teman atau tetangga, pasti deh ditanya, mudik ga?

(6) Sebelum mudik datang, biasanya jalan-jalan antarprovinsi diperbaiki demi kelancaran lalu lintas selama masa mudik dan arus balik.

(7) Pada tahun 2018 ini telah banyak jalan tol baru yang dioperasikan demi kelancaran arus mudik dan arus balik. Meskipun kondisi jalan belum 100% persen selesai.

(8) Kemacetan luar biasa di jalan tol atau jalan antarprovinsi yang banyak dilalui pemudik, terutama menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.

(9) Terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan akan padat oleh pemudik ketika masa arus mudik dan arus balik.

(10) Semua stasiun televisi akan membuat program liputan khusus mudik, baik untuk arus mudik maupun arus balik.

Saturday, 16 June 2018

Jangan Sampai Kehabisan Stok Sabar

Jangan Sampai Kehabisan Stok Sabar
Siapa pun kita, apapun status sosial kita, apapun pekerjaan kita, bagaimana pun kehidupan kita, kita harus mempunyai stok sabar yang cukup. SABAR bisa mewujudkan keinginan kita, SABAR bisa menjaga diri kita, SABAR juga bisa membahagiakan, SABAR bisa mempersatukan.

KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA LURING mengartikan kata sabar dalam banyak arti, di antaranya

- tahan menghadapi cobaan
- tidak lekas marah
- tidak lekas putus asa
- tidak lekas patah hati
- tenang
- tidak tergesa-gesa
- tidak terburu nafsu

Saya akan mencoba menjabarkan arti sabar di atas ke dalam contoh yang pernah saya alami.

TAHAN MENGHADAPI COBAAN
Cobaan bisa datang dari mana saja, cobaan bagi orangtua bisa datang dari anak yang nakal. Bagi karyawan, cobaan bisa datang dari fitnah teman sekantor, cobaan bagi penjual adalah tidak laku barang yang dijual.

TIDAK LEKAS MARAH
Dalam kondisi apapun kita harus sabar dengan menahan diri tidak marah. Dengan demikian, bisa menghalau kita dari masalah atau kebencian pihak lain. Jika kita lekas marah, bisa-bisa menyebabkan orang yang dimarahi dendam sehingga membalas kita dengan kekerasan.
Maka bersabarlah, tidak lekas marah.

TIDAK LEKAS PUTUS ASA
Jika kita punya stok sabar yang banyak, kita jadi tidak mudah putus asa. Masalah apapun dihadapi dengan sabar. Gagal usaha tetap sabar. Nilai rapor anjlok, tetap sabar. Naskah ditolak penerbit, tetap sabar dan cari penerbit lain.

TIDAK LEKAS PATAH HATI
Saat hasil karya kita tidak mendapat pujian dari bos, tetap sabar, jangan patah hati. Saat ayah dan ibu memberikan hadiah laptop baru untuk kakak, adik harus tetap sabar jangan patah hati.

TENANG
Orang sabar itu tenang. Ada masalah rumit menghadang pun tetap tenang. Gagal dalam berbisnis pun tetap terlihat tenang.

TIDAK TERGESA-GESA
Orang sabar pasti tidak tergesa. Dalam berlalu lintas, banyak sekali orang tidak sabar melewati jalan memutar sehingga memilih menabrak arus. Padalah perbuatan demikian itu membahayakan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain.

TIDAK TERBURU NAFSU
Sabar menunggu waktu berbuka, adalah salah satu contoh tidak terburu nafsu. Lihat makanan enak dan minuman segar rasanya bernafsu untuk mencicipi yang akhirnya membatalkan puasa.
Contoh lainnya, kaca spion mobil atau motor pecah karena tertabrak pengendara lain. Jika terjadi hal demikian, jangan terburu nafsu, bersabarlah. Dengan sabar segala persoalan bisa terselesaikan dengan baik.

Uraian saya di atas hanya sekadar contoh kecil. Contoh besarnya ada di tangan Anda sendiri. Yuk bersabar! Jangan habiskan rasa sabar Anda!

Friday, 15 June 2018

Proses Penulisan Buku Aktivitas Hingga Terbit

Proses Penulisan Buku Aktivitas Hingga Terbit

1. Penawaran Ide pada Editor Penerbit
Saya membuat beberapa ide buku sekaligus penjelasan singkat bukunya. Kemudian dikirim ke editor untuk meminta pencerahan alias persetujuan, kira-kira dari beberapa ide buku yang diajukan adakah yang diminati penerbit.
Jika editor sudah memberikan jawaban, proses menulis dimulai.

2. Mengirim Naskah pada Editor Penerbit
Editor sudah meng-ACC ide naskah, apakah naskah pasti diterima? Belum tentu. Adakalanya penulis harus merevisi atau menambah dan adakalanya langsung di-ACC.

3. Mencari Ilustrator dan Proses Menggambar
Diandaikan saja naskah penulis sudah di-ACC Editor. Langkah selanjutnya adalah mencari ilustrator. Saya bisa mencari ilustrator, bisa pula penulis menyerahkan pada Editor.

Sistem pembayaran honor ilustrator pun beragam, ada yang menggunakan sistem royalti dan dibayar putus. Kalau pakai sistem royalti, berarti keseluruhan royalti buku dibagi dua dengan penulis. Penulis bisa juga langsung membeli gambar dari ilustrator, lalu royalti penulis tidak dibagi dua. Dalam proses pencarian ilustrator ini yang utama adalah Editor Penerbit menyetujui karakter gambar yang dibuat ilustrator. Untuk masalah honor, fleksibel bisa tergantung negosiasi dengan ilustrator.

4. Menyerahkan Naskah dan Gambar pada Editor Penerbit
Setelah ilustrator menyelesaikan gambar, penulis menyerahkan naskah sekaligus gambar pada Editor. Dalam proses ini, jika bisa penulis dapat melayout naskah dan gambar, jika tidak bisa, akan dilakukan oleh penerbit.

5. Pengecekan Dummy atau Naskah PDF Siap Cetak
Proses ini mungkin memakan waktu lama, tergantung banyaknya pekerjaan Editor. Penulis harus sabar untuk menunggu proses bukunya naik cetak. Sebelum buku naik cetak, Editor akan mengirimkan Surat Perjanjian Penerbitan untuk ditandatangani dan Dummy atay PDF naskah untuk cek akhir sebelum naik cetak.

6. Buku Sudah Terbit
Setelah proses yang panjang, hati penulis pasti akan senang jika menerima kabar bukunya terbit. Lama waktu mulai dari naskah di-ACC hingga naskah menjadi buku dan terbit sekitar 3-6 bulan. Bisa lebih cepat dan bisa lebih lama, tergantung kerumitan bukunya.
Uraian di atas adalah proses penulisan buku aktivitas hingga terbitnya buku sesuai dengan pengalaman saya. Semoga tulisan yang saya bagikan ini berguna untuk pembaca sekalian. Jika ada yang ditanyakan bisa menghubungi saya di email paskalinaaskalin@gmail.com. Terima kasih

Thursday, 14 June 2018

Tip Perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi dengan Kereta Pulang-Pergi pada Hari yang Sama

Tip Perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi dengan Kereta Pulang-Pergi pada Hari yang Sama

Tanggal 12 Juni 2018 saya sudah mencoba perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi dengan kereta pulang pergi pada hari yang sama. Cek tulisan saya sebelumnya Sebuah Perjalanan: Naik Kereta dari Jakarta ke Sukabumi.

Pertama yang perlu diketahui adalah ada dua jenis kereta yang ditumpangi, pertama kereta KRL (comuter line) atau kereta listrik dan kedua kereta bertiket. Untuk KRL kita tidak perlu memesan tiket terlebih dahulu, sedangkan untuk kereta bertiket harus memesan tiket. Jadi rute yang akan ditempuh adalah Jakarta - Bogor dengan KRL dan Bogor - Sukabumi dengan kereta api bertiket.

Berikut ini sedikit tip jika ingin melakukan perjalanan dari Jakarta ke sukabumi dengan transportasi kereta.

1.   Cek jadwal keberangkatan kereta dari Bogor - Sukabumi dan sebaliknya.
Berikut ini jadwal keberangkatan kereta per 14 Juni 2018.

Bogor - Sukabumi
Berangkat pukul 07.50 - tiba pukul 09.54
Berangkat pukul 13.10- tiba pukul 15.13
Berangkat pukul 18.30 - tiba pukul 20.36

Sukabumi - Bogor
Berangkat pukul 05.15 - tiba pukul 07.18
Berangkat pukul 10.25 - tiba pukul 12.28
Berangkat pukul 15.45 - tiba pukul 17.48

Harga tiket ekonomi Rp 25.000
Harga tiket eksekutif Rp 60.000

Anda bisa memilih waktu yang tepat sesuai keperluan. Ketika kemarin saya ke Sukabumi saya pilih kereta pertama dari Bogor 07.50 dan pulangnya kereta terakhir 15.45 dari Stasiun Sukabumi.

2. Setelah memilih jadwal keberangkatan kereta dari Bogor, Anda harus memastikan bisa sampai di Stasiun Bogor kurang lebih 1 jam sebelum jadwal keberangkatan kereta. Misalnya, jika memilih kereta Bogor - Sukabumi pukul 07.50, harus sampai Bogor pukul 07 (paling telat). Anda bisa memilih naik KRL jam 6 pagi (paling telat)  dari Stasiun Cawang menuju Stasiun Bogor, karena waktu tempuhnya sekitar 1 jam. Jika Anda naik KRL dari stasiun lain Anda harus bisa membuat waktu estimasi sendiri.

3. Perlu Anda ketahui jika Stasiun Bogor untuk KRL berbeda dengan stasiun keberangkatan kereta menuju sukabumi. Stasiun kereta untuk keberangkatan ke Sukabumi berada di Stasiun Bogor Paledang. Stasiun ini terletak sekitar 1,5 km dari stasiun KRL. Bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 5-10 menit.

4. Anda perlu menyiapkan stamina sebelum melakukan perjalanan. Stamina Anda bisa terkuras ketika naik kereta KRL mungkin Anda harus berdiri karena kepadatan penumpang.

5. Ketika tiba di Sukabumi, Anda bisa memilih transportasi angkot atau taksi online. Saran saya, naiklah angkot atau taksi online jauh dari deretan pasar atau ruko, karena untuk menghindari terjebak kemacetan.

Demikian sedikit tip dari saya, semoga perjalanan yang Anda rencanakan berjalan lancar.

Wednesday, 13 June 2018

Catatan Integritas: Kejujuran Driver Grabcar

Rasanya sulit saat ini mendapatkan keyakinan bahwa seseorang itu jujur, sungguh jujur, jujur yang sebenarnya. Tetapi, ternyata saya menemukan orang jujur kemarin.

Ceritanya, saya kemarin pulang dari turun di Stasiun Cawang setelah melakukan perjalanan dari Sukabumi (baca: Sebuah Perjalanan: Naik Kereta dari Jakarta ke Sukabumi). Saya pesan taksi online Grabcar untuk pulang ke rumah.

Tidak perlu waktu lama, setelah saya booking, langsung saya dapatkan taksi online dengan nomor polisi B 2939 UFD. Drivernya seorang bapak. Kami berlima naik. Saya, mama, dan adik saya duduk di kursi tengah. Kenan dan ayah duduk di depan.

Rasa lelah begitu menggelayuti kami. Tiga puluh menit kemudian mobil sampai di depan rumah kami. Puji Tuhan akhirnya kami sampai, setelah kurang lebih 15 jam berkelana dalam kereta, mobil, angkot, dan jalan kaki.

Bersyukur karena sudah sampai, saya berikan 5 bintang untuk Bapak Driver yang bernama Pak Abdul Rahim serta ucapan terima kasih.



Setengah jam kemudian, ketika rasa lelah sedikit menyingkir, suami saya bingung mencari telepon pintar alias smartphone miliknya. Setelah dicari-cari benda mungil penuh fungsi itu tak ditemukan. Lalu, teringatlah pada taksi online yang tadi kami tumpangi. Saya mencoba menelepon smartphone suami saya dan diangkat oleh seseorang, yaitu Pak Abdul Rahim, sang driver.

Tahulah akhirnya smartphone itu tertinggal di mobil. Pak Abdul menyanggupi untuk ketemu di depan BCA Curug Kalimalang. Karena tidak tahu BCA di sebelah mana akhirnya Pak Abdul mengantar smartphone suami saya sampai di rumah. Saya mengucapkan terima kasih dengan segenap hati saya, dan berdoa semoga Pak Abdul Rahim dilimpahi umur panjang dan rezeki berlimpah.

Kejujuran itu tidak bisa dipaksa. Ketika seseorang mau jujur, langsung berkata atau berbuat jujur, tanpa dipaksa oleh apapun. Saya sungguh memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada mereka yang memiliki integritas seperti Pak Abdul Rahim. Jika dia mau, bisa saja dia bilang smartphone suami saya tidak ada di mobilnya. Tetapi dia tidak lakukan itu.

Terima kasih Pak Abdul Rahim, Driver Grabcar yang telah mengantar saya dan keluarga dari Stasiun Cawang ke Curug Kalimalang, pada tanggal 12 Juli 2018, pukul 19.21 WIB. Semoga kejujuran Bapak dicatat oleh Tuhan dan diganti dengan limpahan rezeki. Amin.

Tuesday, 12 June 2018

Sebuah Perjalanan: Naik Kereta dari Jakarta ke Sukabumi

Hari ini sebuah pengalaman baru  buat saya, Kenan, dan keluarga kecil saya. Kami pergi ke Sukabumi dengan menggunakan transportasi kereta. Kenapa saya memilih kereta? Ini ide saya sendiri. Setelah akhirnya saya menjajal transportasi KRL beberapa waktu lalu. Saya ingin Kenan mempunyai pengalaman baru dengan naik kereta. Sudah sering Kenan melihat kereta KRL, tetapi belum pernah mencobanya.

Pergi ke Sukabumi adalah perjalanan yang saya rencanakan sekitar sebulan lalu. Saya coba Googling rute kereta Jakarta-Sukabumi, tentu saja tidak akan ditemukan rute kereta Jakarta-Sukabumi. Rute kereta yang saya temukan adalah Bogor-Sukabumi. Untuk naik kereta ini, saya harus pesen tiket terlebih dahulu secara online. Saya pun segera pesan tiket kereta untuk 5 orang, pulang pergi.

Harga tiket kereta Bogor-Sukabumi cukup terjangkau, Rp 25.000/orang untuk kelas ekonomi dan Rp 60.000/orang untuk kelas eksekutif. Saya beli tiket kelas ekonomi. Perjalanan kereta dari Bogor ke Sukabumi, memakan waktu 2 jam.

Kami tinggal di Jakarta, sedangkan kereta tujuan Bogor-Sukabumi berangkat pukul 07.50. Jadi saya harus memastikan, kami bisa sampai di Stasiun Bogor pukul 07.00.

Pukul 4 pagi KRL Jakarta-Bogor sudah ada yang beroperasi. Maka, saya putuskan kami harus sampai di Stasiun Cawang, stasiun terdekat dari rumah, pukul 6 pagi.

Menunggu KRL di Stasiun Cawang

Lebih dari yang direncanakan, pukul 4.15 kami sudah siap dan saya langsung memesan Grabcar. Puji Tuhan, Grabcar langsung kami dapatkan, siap mengantar kami ke Stasiun Cawang. Namun, ada insiden kecil, KTP Mama ketinggalan, padahal kami sudah hampir separuh perjalanan. Kami pun kembali ke rumah untuk mengambil KTP Mama. Pukul 5 pagi kami sudah sampai di Stasiun Cawang. KRL rute Muara Angke-Bogor membawa kami ke  Bogor. Waktu tempuh yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam. Jadi masih banyak waktu, jika berangkat pukul 5 pagi dari Stasiun Cawang, kami akan sampai di Stasiun Bogor pukul 6 pagi.

KRL Muara Angke - Bogor

Awalnya saya pikir, setelah naik KRL, kami bisa langsung naik kereta menuju ke Sukabumi. Ternyata dugaan saya salah. Kereta api tujuan Bogor-Sukabumi itu naiknya di Stasiun Bogor Paledang. Stasiun Bogor Paledang ini berada di seberang stasiun KRL Bogor, tepatnya di belakang KFC. Dari stasiun KRL kami jalan kaki menuju pintu keluar, lalu  menyeberang melalui JPO  (Jempatan Penyebrangan Orang). Berjalan kaki dari stasiun KRL menuju Stasiun Bogor Paledang membutuhkan waktu 5 hingga 10 menit.

Menunggu Kereta Pangrango di Stasiun Bogor Paledang


Tibalah kami di Stasiun Bogor Palendang. Kereta kami akan berangkat pukul 07.50. Stasiun Bogor Paledang adalah stasiun mungil, namun tetap menggunakan sistem keamanan yang sama dengan stasiun kereta besar. Sampai di stasiun saya cetak boarding pass. Ketika tiba waktunya naik kereta, KTP (kartu tanda pengenal lain) dan boarding pass disiapkan.

Penumpang Kereta Pangrango berjejal menunggu kereta langsir di dalam Stasiun Palendang


Stasiun Bogor Palendang

Waktu tempuh kereta api Bogor-Sukabumi adalah 2 jam. Jika dibandingkan dengan kereta api tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kereta api Bogor-Sukabumi berjalan lebih lambat, mungkin hal ini disebabkan kondisi rel yang sudah tua dan jalur yang cukup berliku.

Pukul 9.48 kami sampai di Stasiun Sukabumi. Perjalanan kami lanjutkan ke Pemakaman Krekob, Gedongpanjang. Tujuan utama kami ke Sukabumi adalah sowan ke makan Bapak, Opa Richardus Yamrewav. Ini adalah kali ke dua Kenan ke makam Opa. Ada rasa haru, rasa sedih, rasa rindu, ah semua rasa bercampur menjadi satu.

Makam Opa Richardus Yamrewav
Bapak, semoga damai senantiasa di Surga. Kami di dunia masih harus berkelana menyambung kehidupan, mewujudkan mimpi, dan mengenangmu dalam setiap doa.

Pukul 15.45 kereta Sukabumi-Bogor akan membawa kami kembali ke Jakarta. Ini adalah keberangkatan kereta terakhir. Jadwal keberangkatan kereta api Sukabumi-Bogor ada tiga kali sehari, pukul 05.15, 10.25, dan 15.45. Setelah dari makam, kami tiba di Stasiun Sukabumi pukul 2, masih banyak waktu. Sebelum sampai ke stasiun kami sempat mampir ke beberapa tempat. Oh ya, yang menjadi catatan penting, di Sukabumi sudah ada Grabcar, namun kalau ingin ke stasiun, kurang pas naik Grabcar karena stasiun berada di tengah-tengah pasar sehingga macetnya luar biasa. Angkot bisa menjadi pilihan. Naik angkot jauh dekat dikenakan ongkos Rp 4.000/orang.

Stasiun Sukabumi

Menunggu waktu keberangkatan di Stasiun Sukabumi

Pukul 15.45, Kereta Api Pangrango membawa kami ke Bogor. Selama perjalanan hujan mengguyur. Pukul 17.48 kereta sampai di Stasiun Paledang. Puji Tuhan hujan sudah berhenti. Kami pun langsung menuju ke Stasiun Bogor untuk naik KRL.

KRL cukup ramai, untunglah masih dapat dua tempat duduk di gerbong wanita. Pukul 18.15 kereta KRL berangkat membawa kami ke Jakarta. Kami turun di stasiun yang sama dengan stasiun ketika berangkat, Stasiun Cawang. Pukul 19.15 kami sampai di Stasiun Cawang. Setelah ambil uang jaminan, saya pesan Grabcar. Tidak lama, kami pun sudah meluncur bersama mobil Xenia menuju ke rumah. Puji Tuhan perjalanan kami hari ini sangat lancar, pukul 20.00 kami sudah sampai di rumah kembali.

Perjalanan kami pulang pergi ke Sukabumi memakan waktu kurang lebih 15 jam. Ada banyak hal yang saya catat, yang nanti akan saya bagikan dalam tulisan saya berikut ini. Sungguh hari ini sangat luar biasa, saya yakin sekali ada tangan Tuhan yang menyertai perjalanan kami sehingga bisa berjalan lancar. Terima kasih Tuhan.


Tulisan Selanjutnya
- Kejujuran Driver Grabcar
- Tip Perjalanan ke Sukabumi dengam Kereta

Monday, 11 June 2018

Cerita Bunda: Tentang Mainan Anak

Jika diberi nilai dari 1-10, nilai saya membelikan mainan untuk anak adalah 5. Saya masih berada pada tengah-tengah. Saya bukan termasuk ibu yang pelit membelikan mainan untuk anak. Tetapi saya juga bukan termasuk ibu yang loyal membelikan mainan untuk anak.

Ada banyak variasi mainan yang saya belikan untuk Kenan. Yang paling banyak adalah mobil-mobilan, sesuai jenis mobil yang dikenal oleh Kenan. Kenan juga pernah saya belikan mainan buah-buahan yang bisa dipotong. Kenan juga pernah membeli mainan troli belanja lengkap dengan alat masak. Kenan pernah saya belikan lego, dan masih banyak lagi.

Yang paling menarik perhatian tetangga adalah mainan troli belanja dengan warna dominan merah. Ketika tetangga melihat Kenan membawa troli beserta isinya itu keluar rumah, langsunglah tetangga komentar, "Ih Kenan itu kan mainan cewek." Saya sudah siapkan jawaban yang tetap. "Kenan mau jadi koki alias chef, enggak papa kan bawa-bawa peralatan masak ke sana sini." Kira-kira itu jawaban yang saya titipkan pada Mama saya yang sering mengajak Kenan ke luar rumah.

Bagi saya tidak menjadi masalah jika Kenan ingin main masak-masakan atau main gendong boneka. Mainan itu tidak punya jenis kelamin. Mainan anak perempuan bisa menjadi mainan anak laki-laki, begitu juga sebaliknya. Yang paling penting adalah pendampingan ketika anak bermain. Jangan biarkan anak bermain sendiri karena pemahaman yang salah tentang mainan yang dimainkannya bisa memengaruhi karakternya.

Sebenarnya tahun 2018 ini saya jarang sekali membelikan mainan. Karena ketika ulang tahun Kenan ke-3 ada banyak sekali kado berupa mainan mobil, jadinya koleksi mainan Kenan bertambah luar biasa. Namanya hadiah, masa tidak disyukuri. Cara mensyukurinya dengan membuka plastik mainan tersebut dan memainkannya (hehehe..), bukan disimpan. Saya amat heran dengan orangtua yang menyimpan mainan yang berasal dari kado teman-teman anaknya untuk diberikan pada ulang tahun teman anaknya.

Kalau saya lebih memilih membagikan mainan atau kado lainnya itu pada yang cocok. Misalnya, Kenan mendapat kado baju kaos, tetapi kekecilan bagi Kenan, baju itu diberikan pada anak teman yang usianya di bawah Kenan sehingga baju tersebut pasti muat.

Tentang mainan anak, bagi saya setiap mainan itu mempunyai manfaat untuk perkembangan kecerdasan anak. Bahkan, mainan-mainan yang dimainkan anak itu bisa memperkaya kosakata anak, memperkaya wawasan/pengetahuan anak, dan memperkaya imajinasi anak.

Mainan bisa jadi bermanfaat, tetapi bisa menjadi petaka jika tanpa pendampingan dari orang dewasa.

Pengaruh dari lingkungan bermain anak bisa juga membawa dampak pada cara anak memainkan mainannya. Oleh karena itu, orang tua (orang dewasa) harus mendampingi anak ketika bermain.

Fenomena lain saya temukan ketika mendampingi Kenan bermain. Begitu banyak mainan dan semua mainan sudah dicoba oleh Kenan, kemudian mainan itu ditinggalkannya, Kenan memilih bersepeda atau menonton video.

Kenan mengalami kebosanan. Jika sudah begini, saya harus berikan ide bermain pada Kenan. Dengan memanfaatkan mainan yang ada, saya ajak Kenan memainkan permainan baru dengan mainan yang ada. Misalnya, membuat garasi mobil menggunakan lego. Semua mobil kecil-kecil dimasukkan di garasi mobil. Contoh lainnya, membuat perosotan/seluncuran mobil.

Yang harus menjadi perhatian orangtua ketika mendampingi anak bermain adalah jangan biarkan anak bermain tanpa tujuan. Jadilah orangtua cerdas yang bisa mengarahkan anak bermain bermanfaat.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dipahami anak ketika bermain. Dalam hal ini orangtua atau pendamping perlu ikut aktif dalam bermain.

1. Mengetahui nama benda (jenis mobil)
Ketika sedang bermain mobil, tanyakan pada anak ini mobil apa.

2. Memahami macam-macam warna
Sering-sering menanyakan warna benda ketika sedang bermain.

3. Memahami macam-macam kendaraan berdasarkan fungsinya.
Ketika sedang bermain mobil, tanyakan ini mobil apa.

4. Mengetahui nama sayuran dan buah beserta warnanya (mainan potong buah dan sayur)
Saat bermain potong buah dan sayur, sering-sering tanyakan, ini buah apa, ini sayur apa, warnanya apa.

5. Memahami macam-macam profesi (dari permainan masak-masakan, muncul profesi koki)
Saat bermain mobil, pesawat, atau bus, munculkan istilah masinis, pilot, supir, dan sebagainya.

6. Dan sebagainya.

#ceritabunda
#bundabelajar

Sunday, 10 June 2018

Pantun Anak (1)

Pantun Anak
Tema: Sedih Ditinggal Ibu/Bapak

Jalan-jalan ke Pasar Minggu
Pakai baju warna ungu
Aduh Ibu pergi kemana
Aku di sini menunggu lama

Buah manggis manis rasanya
Mangga gadung yang aku suka
Oh Ibu ke manakah kau pergi
Adik menangis tidak berhenti

Dari Jakarta pergi ke Surabaya
Naik kapal feri murah harganya
Ayah dan Ibu ayolah datang
Aku akan menunggu hingga petang

Burung beo bisa bicara
Menyanyi pun juga bisa
Hati masih sedih tiada tara
Ditinggal Ayah dan Ibu entah kemana

Ditulis oleh Paskalina Askalin
Jakarta, 10 Juni 2018

Mohon jika mengutip pantun ini untuk mencantumkan sumber atau nama penulis.

Saturday, 9 June 2018

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu Sederhana
-Ibu Rumah Tangga-

Bahagia itu ketika saldo rekening bank bertambah.
Bahagia itu ketika tidak punya cucian baju kotor.
Bahagia itu ketika tidak aja tumpukan baju belum disetrika.
Bahagia itu ketika ada yang memijat kaki ketika lelah melanda karena seharian beraktivitas.
Bahagia itu saat tidak ada piring kotor di dapur.
Bahagia itu saat tidak ada mainan berantakan.
Bahagia itu jika makanan yang dimasak habis dimakan.
Bahagia itu jika mendapatkan uang tambahan belanja.
Bahagia itu ketika bisa membelikan mainan yang diinginkan anak.
Bahagia itu ketika mendengarkan perkataan "I love you, Bunda".
Bahagia itu....
Bahagia itu....

Bahagia itu Sederhana
-Momwriter-

Bahagia itu ketika naskah yang diajukan disetujui editor.
Bahagia itu ketika menandatangani surat perjanjian penerbitan buku.
Bahagia itu ketika buku yang ditulis terbit.
Bahagia itu ketika rekening bank bertambah karena transferan royalti.
Bahagia itu ketika buku yang ditulis laris manis di pasaran.
Bahagia itu ketika bisa menuntaskan menulis sesuai deadline.
Bahagia itu ketika bisa menulis dengan tenang.
Bahagia itu....
Bahagia itu....

Bahagia itu memang tak bernilai. Setiap orang mempunyai kadar bahagia masing-masing. Bahagia yang saya rasakan mungkin biasa buat Anda. Sebaliknya, bahagia yang Anda rasakan juga mungkin biasa buat saya. Yang pasti, bahagia adalah hak semua orang dan kita punya kewajiban membuat orang lain bahagia.

Friday, 8 June 2018

Waktu dan Deadline Menulis

Waktu dan deadline adalah pemicu penulis untuk mempercepat proses menulis. Manusiawi sebenarnya ketika waktu masih panjang proses menulis menjadi kendor, santai, dengan argumen "Ah masih lama, santai saja."

Saat waktu mulai mendekati deadline, barulah proses menulis dipercepat, pontang-panting cari sumber pustaka, juga lembur setiap malam. Saya tidak perlu mencari contoh siapa penulis yang demikian, karena sayalah orangnya (hihihi). Waktu deadline yang masih lama membuat saya lambat menulis, ketika waktu deadline mendekat proses menulis dipercepat.

Saya sadar betul jika ingin terus menjadi penulis, harus mempunyai bisa konsisten menulis tanpa terburu-buru oleh deadline. Baik deadline masih lama maupun  sebentar lagi, semangat menulis harus tetap sama. Sebagai penulis pun masih harus terus belajar untuk konsisten dalam waktu menulis.

Berkaitan dengan waktu dan deadline yang harus dimiliki seorang penulis jika ingin tulisan selesai tepat waktu adalah MEMBUAT OUTLINE sebelum menulis. Keberadaan outline ini bisa mengukur kemampuan dalam menulis. Outline ini tidak sekadar poin-poin tulisan tetapi juga target selesai. Misalnya, bab 1 selesai 2 hari (tanggal ....), bab 3 selesai 4 hari, dan seterusnya.

Setelah mempunyai outline, yang perlu penulis lakukan selanjutnya adalah menulis sesuai rencana yang ada pada outline. Penulis profesional harus bisa menulis secara konsisten, bukan menulis berdasarkan mood

Thursday, 7 June 2018

Berproses dalam Penulisan Buku Aktivitas Anak: Paskalina Askalin

Pengalaman adalah guru yang berharga, itu memang benar dan sangat benar, saya yakin kita semua sepakat akan hal itu. 

Pengalaman saya menjadi editor buku anak akhirnya menjerumuskan saya menjadi penulis buku anak. Pengalaman akhirnya membuat saya bisa berdiri di kaki sendiri sebagai seorang penulis.

Tahun 2013, ketika masih menjadi editor di penerbit, saya membuat buku paket TK yang terdiri atas 14 buku terbagi dalam 7 buku TK A dan 7 buku TK B.




Dari 14 buku itu saya menulis 8 buku. Setiap buku terdiri atas 48 halaman. Tidak perlu saya informasikan berapa rupiah yang saya dapat dari 8 buku yang saya tulis itu karena saya hanyalah penulis karyawan, rupiah yang diberikan sukarela, suka-suka yang punya penerbit hahaha. Bagi saya tidak masalah sebagai penulis saya diberi sedikit rupiah karena pada akhirnya saya memanen banyak hal, terutama saya jadi punya banyak pengalaman menulis dan punya kenalan ilustrator yang siap bantu. Masalah rezeki, Tuhan mengatur segalanya dengan indah karena setiap tahun saya mendapat limpahan rezeki dari order pembelian buku TK tersebut. (Semoga tahun ini masih dipesan, amin)


Setelah berproses, belajar menulis buku aktivitas TK/PAUD, akhirnya saya mempunyai cara untuk saya sendiri berproses MURNI sebagai penulis untuk menulis buku aktivitas dan menawarkan buku yang saya tulis ke penerbit. Ada beberapa proses yang saya lalui, di antaranya:

1. Saya bertanya pada Penerbit sasaran saya, buku aktivitas apa yang sedang dibutuhkan penerbit.
Ketika itu editor memberikan tema buku yang sedang dicari penerbit  (sungguh editornya saat itu baik sekali, sayang sekarang sudah resign dari penerbit itu), yaitu tema mengenalkan rambu-rambu lalu lintas pada anak. Saya pun berpikir keras, mewujudkan tema tersebut ke dalam sebuah buku anak. Setelah "semedi" sebulan, akhirnya saya bisa membuat dua buku aktivitas untuk anak bertema mengenalkan rambu-rambu lalu lintas. Ada dua buku mewakili anak perempuan dan anak laki-laki.

Ketika itu saya mengajukan naskah utuh dan sampel beberapa gambar pada editor. Setelah beberapa hari diajukan, editor memberikan jawaban "segar", pengajuan saya diterima. Proses selanjutnya saya harus meminta ilustrator untuk melanjutkan gambar kedua buku tersebut hingga selesai. Setelah lengkap gambar ilustrasinya, saya serahkan ke penerbit dna tidak berapa lama SPP (Surat Perjanjian Penerbitan) pun di tandatangani. Terbitlah dua buku dengan judul:
(1) Kisah Nora Mengenal Rambu-rambu Lalu Lintas
(2) Ayo Mewarnai Bersama Fino, Mengenal Rambu-rambu Lalu Lintas



2. Saya menulis buku aktivitas dengan tema yang saya inginkan dan mengajukannya ke penerbit.
Tidak semua editor (penerbit) mau terbuka pada penulis untuk membagikan tema-tema kunci dari buku yang sedang diincar penerbit. Jadi, sebagai penulis saya harus agresif untuk menentukan sendiri tema yang mempunyai kemungkinan paling besar akan diterima penerbit. Ketika itu saya tertarik untuk mengenalkan tarian Indonesia kepada anak-anak usia dini, jadi saya membuat buku aktivitas mewarnai tari Nusantara, setelah jadi naskah utuh dan sampel gambar, saya serahkan ke penerbit. Ternyata pengajuan saya diterima tetapi dengan catatan tarian yang disuguhkan sesuai dengan jumlah provinsi yang ada di Indonesia, itu artinya saya harus menambah jenis tari pada buku tersebut. Bagi saya usulan dari editor itu sangat baik, jadi patut untuk diikuti. 

Akhirnya saya pun menambah jenis tari hingga jumlahnya menjadi 34 jenis tari Nusantara. Setelah berproses sekian lama terbitlah Buku Aktivitas Anak Mengenal 34 Jenis Tari Nusantara.



Dari dua pengalaman saya tersebut, saya menggarisbawahi jika dalam terbitnya sebuah buku harus ada kerja sama dan komunikasi yang baik antara penulis dengan editor, dan antara penulis dengan ilustrator.

Lalu bagaimana tentang gambar ilustrasi? Mungkin muncul pertanyaan itu, tentang ilustrasi dalam buku aktivitas anak yang saya tulis ini, saya membeli gambar dari ilustrator secara lepas alias beli putus, jadi saya tidak memiliki kewajiban untuk berbagi royalti dengan ilustrator sehingga komunikasi dengan editor (penerbit) seutuhnya saya lakukan sendiri.
Ada banyak hal yang saya alami ketika berproses dalam penulisan buku aktivitas anak. Di antaranya yang sudah saya sampaikan di atas. Tanpa bermaksud menyinggung siapa pun atau pihak manapun, saya hanya ingin membagikan pengalaman yang saya alami sendiri. Terima kasih.

Wednesday, 6 June 2018

Info: Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018

Pendaftaran Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018 telah dibuka. Ayo, siapa yang mau ikut segera meluncur ke laman badan bahasa.

SLI 2017, Hotel Aryaduta, Jakarta

Tahun lalu saya pernah ikut SLI 2017. Sayangnya tema yang dibahas ketika itu kurang saya minati dan agak melenceng dari kompetensi saya. Namun walaupun begitu, saya mengambil banyak ilmu dari seminar tersebut.

Buku panduan dan kartu peserta SLI 2017
Yang paling saya ingat tentang Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2017 adalah seminar kit-nya oke banget, totebag kanvas, buku agenda, dan map.

Seminar Kit SLI 2017

Tema Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018 menarik bagi saya, yaitu "Leksikografi di Era Digital." Semoga saya bisa terpilih menjadi salah satu peserta SLI 2018. Amin.

Informasi lengkap tentang Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018 silakan lihat flyer di bawah ini atau klik link ini SEMINAR LEKSIKOGRAFI INDONESIA (SLI) 2018.


Tuesday, 5 June 2018

Info: Lomba Konten Kanal Paud 2018

Jadi inget ketika tahun 2016 saya menjadi bagian dari juara harapan lomba ini. Ini link ebook saya ketika itu, BEKALKU BEKALMU.

Kesempatan baik bagi penulis buku anak, ayo ikutan lomba ini, hadiah sangat menggiurkan nih.
Untuk setiap kategori ini hadiahnya:
Juara I 25 juta
Juara II 20 juta
Juara III 15 juta
15 juara harapan 5 juta

Ada dua kategori lomba, yaitu
1. Lomba Membuat Permainan Mendidik (Edu Game)
2. Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak dalam Format E-book

Lebih lengkapnya silakan cek flyer di bawah ini.


Monday, 4 June 2018

Sebuah Renungan: Hargai Orang Lain, Jika Ingin Dihargai

Anda ingin orang lain baik pada Anda
Apakah Anda baik pada orang lain?

Anda ingin orang lain peduli pada Anda
Apakah Anda peduli pada orang lain?

Anda ingin orang lain menerima Anda apa adanya.
Apakah Anda menerima orang lain apa adanya?

Anda ingin orang lain memaafkan kesalahan Anda
Apakah Anda dengan mudah memaafkan orang lain?

Anda ingin orang lain menghargai Anda
Apakah Anda menghargai orang lain?

Anda ingin orang lain memuji Anda
Apakah Anda pernah memuji orang lain?

Anda ingin didengarkan orang lain
Apakah Anda pernah mendengarkan orang lain?

Anda ingin disapa orang lain
Apakah Anda pernah menyapa orang lain?

Sikap di atas adalah sikap manusiawi yang dimiliki manusia. Manusia biasanya ingin diperlakukan baik, tetapi tidak pernah memperlakukan orang lain dengan baik.

Jadi sebelum berpikir dan berkeinginan orang lain memperlakukan Anda sesuai keinginan Anda, lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan untuk orang lain. Sebaiknya jangan berpikir tentang balasan atas kebaikan yang Anda lakukan. Tidak perlu Anda risau, setiap kebaikan yang sudah dilakukan telah dicatat oleh Tuhan. Pada saat yang tepat dan waktu yang tepat, Tuhan akan memberikan kebutuhan Anda melalui tangan-tangan manusia di sekitar Anda.

Sunday, 3 June 2018

Hati-hati Ketika Membacakan Buku untuk Anak Batita dan Balita

Malam ini anak saya tidur setelah dibacakan dua buku ini. Buku pertama terbitan KPK si Kumbi seri MODO TIDAK MAU MENARI dan buku kedua tentang dongeng klasik Pinokio. Saya sudah sering membacakan kedua buku ini. Anak saya pun sudah hafal dengan cerita dari kedua buku ini.

Ada dua catatan penting buat para orangtua (orang dewasa) yang membacakan buku-buku anak bergambar (picture book) untuk anak terutama usia batita dan balita. 

1. Jangan hanya membaca begitu saja kata dan kalimat dalam buku. 

Kenapa? Saya menemukan banyak sekali kata atau kalimat yang tidak tepat diperdengarkan pada anak-anak usia batita dan balita. Misalnya kalimat ini:
- Polisi menuduh Kakek Gepeto telah menyiksa boneka kayu itu dan memenjarakannya.
- Hore! Aku bisa bermain sepuasnya karena Ayah yang menyebalkan sedang tidak ada!


Contoh halaman buku yang ketika dibacakan pada anak saya, beberapa kata saya ganti atau saya hilangkan.

Dari dua kalimat di atas saya menggarisbawahi kata MENYIKSA, MEMENJARAKANNYA, dan MENYEBALKAN. Tiga kata tersebut kurang pantas diucapkan pada anak-anak usia batita dan balita, jadi ketika membacakan kalimat itu dua kata tersebut saya ganti.

Ini kalimat penggantinya:
- Polisi menuduh Kakek Gepeto telah mengganggu boneka kayu itu dan menangkapnya.
- Hore! Aku bisa bermain sepuasnya karena Ayah tidak menggangguku lagi!

Kata atau kalimat yang kurang tepat diperdengarkan pada anak-anak ini tidak hanya saya temukan pada satu buku. Ada banyak buku yang masih menggunakan kata-kata yang menurut saya tidak patut diperdengarkan pada anak-anak. Misalnya kalimat "Dasar harimau bodoh!".

Masalah kepatutan sebuah kata itu baik untuk anak atau tidak memang relatif. Mungkin bagi saya kurang tepat, bagi orangtua lain kata itu biasa saja dan tidak masalah diperdengarkan pada anak-anak. 

2. Ada bagian-bagian dari isi buku yang perlu diceritakan kembali oleh orangtua (pembaca). 

Buku untuk anak batita dan balita cenderung minim kata dan penuh gambar. Ketika membacakan buku yang minim kata seperti ini, orangtua sebagai pembaca sebaiknya menceritakan kembali kalimat dalam buku tersebut berdasarkan gambarnya. Jadi jangan hanya terpaku pada membacakan kata atau kalimat yang ada. Anak batita/balita pasti tidak akan paham jika orangtua hanya membacakan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Misalnya gambar tampilan buku ini.


Contoh halaman buku yang saya ceritakan kembali ketika membacakan buku ini untuk anak saya.


Buku ini bagus, tidak ada masalah dibaca oleh anak-anak. Akan jadi masalah jika orangtua membacakannya pada anak batita/balita tanpa menceritakan keseluruhan isi gambar halaman yang dibaca. Itulah yang saya maksud orangtua perlu menceritakan lagi dengan bahasa yang mudah dipahami anak batita/balita sesuai gambar.

Saya akan menceritakan seperti ini:
Kumbi berkunjung ke Nusa Tenggara Timur.
Ketika tiba di sana, Kumbi melihat sekelompok teman baru sedang menari dengan menggunakan alat bambu. Kumbi belum pernah melihat tarian itu.
"Aku ingin mencobanya," kata Kumbi.

Dua catatan di atas saya anggap penting dan perlu menjadi perhatian para orangtua yang sering membacakan buku untuk anaknya. Dua catatan ini hanya bagian kecil, saya yakin, masih banyak lagi yang perlu diperhatikan oleh orangtua ketika membacakan buku untuk anak. 

Membacakan buku adalah kegiatan yang positif, namun orangtua harus peka dan memastikan semua isi buku anak yang disampaikan pada anak tepat untuk anak.

Ayo bacakan buku untuk anak kita!

Saturday, 2 June 2018

Menulis yang Paling Gampang

Menulis yang paling gampang adalah menulis tentang diri sendiri.
-Paskalina Askalin-



Diri sendiri adalah sumber ide yang paling gampang untuk ditulis. Dengan menjadikan diri sendiri sebagai objek, bukan berarti penulis membeberkan seluruh hidupnya dalam tulisan.

Ada banyak bagian dalam diri kita yang bisa digali menjadi sebuah tulisan. Dari beberapa buku yang pernah saya tulis, beberapa di antaranya adalah bersumber dari diri saya sendiri.

Buku Asyiknya Menulis Resensi salah satunya. Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman menulis resensi yang sering saya lakukan dulu. Menulis sebuah tema yang sering dilakukan dan disukai itu menjadi sangat mudah. Proses menulis terlaksana dengan lancar dan pengumpulan materi pun tidak sulit dilakukan. Buku ini terbit tahun 2010.

Buku Seri Anak Rajin: Yuk Bersih-bersih Bersama di Sekolah, diterbitkan oleh Penerbit Andi tahun 2012, juga merupakan hasil dari pengalaman sendiri. Pengalaman masa kecil ketika duduk di bangku SD menjadi ide utama buku ini.

Masih banyak lagi buku yang saya tulis berdasarkan diri sendiri. Bagi saya lebih mudah jika menulis didasarkan pada apa yang kita lihat, kita alami, dan dekat dengan diri kita sendiri. Hal berbeda ketika kita menulis sesuatu yang bersifat imajinatif, kita memang tidak perlu mengalaminya terlebih dahulu.
Setiap penulis punya gaya, setiap penulis punya cara mencari ide tulisan. Jadi, pengalaman saya mungkin berbeda dengan penulis lain.

Saya memang banyak menulis buku berdasarkan pengalaman sendiri, tetapi banyak juga buku yang saya tulis berdasarkan pesanan.

Bagi Anda yang kesulitan memulai menulis, tulislah tentang dirimu sendiri. Bentuk tulisan bisa berupa panduan hidup sehat, novel, motivasi, dan sebagainya. Media tulisannya juga tidak harus buku. Website atau blog bisa menjadi media bagi kita belajar menulis.

Friday, 1 June 2018

Membuat Outline Sebelum Menulis

Outline Oh Outline

Ketika sedang bersih-bersih fail di laptop saya menemukan outline naskah buku yang saya buat 10 bulan yang lalu. Menemukan outline itu bagi saya serasa menemukan harta karun. Saat saya baca ulang, wah bagus juga outline yang saya buat ini dan layak untuk saya teruskan.

Dari beberapa sharing penulisan yang saya ikuti dari penulis-penulis senior, hal penting dalam proses penulisan adalah membuat outline. Outline akan mengarah saya untuk menulis secara runtut.

Dalam proses penulisan naskah, setelah saya mendapatkan tema yang akan ditulis saya jabarkan dalam outline. Bagi saya outline sama dengan daftar isi buku yang akan ditulis.

Saya ingat dulu dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada materi kerangka karangan. Nah, outline ini juga sama dengan kerangka karangan itu.

Dengan adanya outline ini saya bisa terbantu dalam proses menulis. Beberapa waktu lalu saya menulis naskah buku aktivitas anak dengan target halaman 90 halaman. Outline yang saya tulis hanya selembar kertas berisi kisi-kisi materi untuk 90 halaman itu. Outline saya buat dengan tulisan tangan yang mungkin hanya saya pahami sendiri.

Tidak ada aturan paten bagaimana membuat outline yang baik. Karena menurut saya setiap penulis mempunyai gaya menulis masing-masing dan pasti mempunyai cara sendiri untuk membuat outline.
Dua hari ini saya membuat outline buku berjudul (rencana) 100 Aktivitas Anak Melejitkan Kecerdasan. Saya merinci 100 aktivitas dengan membaginya menjadi beberapa tema besar. Buku ini berisi catatan aktivitas saya bersama anak saya. Mungkin nantinya saya akan dapatkan lebih dari 100 aktivitas. Hal itu tidak menjadi masalah. Adanya outline bukan berarti tidak boleh menambah materi misalnya rencana 100 aktivitas, jika akhirnya saya mendapatkan 150 aktivitas, saya akan menulis 150 aktivitas.



TIP MENULIS PASKALINA ASKALIN
1. Pilih tema.
2. Jabarkan dalam outline.
3. Kumpulkan bahan (buku, pengalaman, wawancara, dll).
4. Mulailah menulis.
5. Mengedit sendiri hasil tulisan.
6. Meminta orang lain untuk membaca hasil tulisan.
7. Kirim ke penerbit.

Buku Baru: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD

Judul: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD Penulis: Paskalina Askalin Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: Mei, 2019 Tebal: 10...