Monday, 5 November 2018

Ira Diana: Pentingnya Membagi Peran Sebagai Ibu Bekerja dan Perhatian untuk Buah Hati


Ira Diana, dikenal sebagai salah satu penulis Indonesia. Ia menulis novel, cerpen, puisi, naskah drama, serta beberapa buku anak untuk Gerakan Literasi Nasional dan PAUD. Perempuan kelahiran Kota Curup, Provinsi Bengkulu ini sangat aktif di berbagai kegiatan penulis dan seni. Ira yang saat ini bekerja di Lembaga Sensor Film RI, harus pandai benar mengatur waktu dan perhatian untuk buah hatinya.

Ira sebagai ibu tunggal untuk putra-putrinya Muhammad Agil Adithya Zalphi dan Naurah Zahirah Zalphi, harus kerja ekstra membagi peran dan waktu sebagai ibu bekerja dan ibu untuk putra-putrinya. Sebagai seorang yang bekerja di Lembaga Negara, waktu dari Senin hingga Jumat, ia berutinitas seperti orang bekerja pada umumnya. Pergi pagi dan pulang hingga sore hari, bahkan jika ada lemburan, otomatis ia sampai di rumah malam hari. Menurutnya, terkadang ketika pulang, anak-anak sudah tidur. Tentu, ini baginya menjadi PR, bagaimana menyiasati agar perhatian dan mendidik anak-anak tetap dapat dilakukan.




“Peran, waktu serta mendidik anak-anak bagi ibu bekerja perlu penyesuaian dengan ritme kerja dan rumah,” kata Ira. Ibu bekerja tentu memiliki keterbatasan waktu untuk memperhatikan buah hatinya full time, namun menurut Ira, perhatian kepada buah hati bukan hanya mengenai kuantitas waktu namun pada kualitas. Ira semaksimal mungkin mengomunikasikan perihal hal-hal yang dialami buah hatinya pada hari itu. Kuncinya komunikasi. Bahkan, di jam Ira bekerja terkadang membalas chat putranya mengenai pelajaran di sekolah.

“Bukan membahas sontekan atau jawaban yang putra saya tanyakan, tapi lebih ke diskusi. Saat itu, Agil sedang tugas membuat blog, ia bertanya kira-kira bagusnya menulis tentang apa, lalu, saya menyarankan menulis hal yang ia suka, seperti games dan anime,” kata Ira.

Ira Diana dan dua buah hatinya, Agil dan Nau.

Berikut beberapa tip yang Ira Diana terapkan untuk menyiasati perannya sebagai ibu dan perempuan yang bekerja dalam hal pendidikan buah hati.


1. Komunikasi
Anak-anak yang memiliki ibu yang bekerja, harus diberi penjelasan, bahwa tugas ibu saat ini, tidak hanya mengurus anak-anak saja di rumah, namun ada hal-hal lain yang perlu dilakukan di luar rumah. Gunakan bahasa sederhana sehingga anak-anak paham. Buka pula ruang diskusi, bila anak bertanya lebih lanjut. Misal, apa yang ibunya lakukan, sampai pukul berapa di luar rumah, atau kegiatan-kegiatan seperti apa yang ibunya ikuti. Dengan demikian, anak-anak belajar empati, mengerti dan ikut memikirkan hal apa yang ia akan lakukan bila sang ibu tidak di rumah (Bila ada hal yang mereka sukar/sulit lakukan, akan mudah diketahui dengan berkomunikasi di awal, seperti ini)

2. Memanfaatkan waktu saat bersama
Memang tidak ada sisa waktu, waktu senggang atau apa pun itu namanya. Namun, bila sedikit saja ada waktu, baiknya itu dioptimalkan untuk menghabiskan waktu bersama. Bisa dimanfaatkan untuk membahas pelajaran sekolah, mendengarkan hafalan anak-anak, jalan-jalan, atau hanya sekadar menghabiskan waktu di rumah dengan santai.

3. Mengoptimalkan potensi anak
Pendidikan menurut Ira bukan hanya yang didapat pada jalur formal seperti sekolah. Ira mengetahui betul, kedua buah hatinya memiliki karakter yang berbeda. Yang laki-laki lebih santai dan tidak terlalu berminat dengan pelajaran/ akademik yang diajarkan sekolah. Putranya ini, lebih suka hal yang simpel, praktis dan out of the box, kalau istilahnya anak yang anti mainstream. Sedangkan putrinya lebih penurut, cukup baik dalam akademik, serta menyukai hal-hal yang ibunya lakukan, seperti menulis, menggambar, dan membuat video-video singkat. Perlakuan untuk keduanya, tentulah berbeda. Prinsipnya sebagai orang tua, harus mengarahkan, mencoba menyelami dunia dan ketertarikan anak-anak. Untuk putrinya sendiri, Ira tidak begitu kesulitan karena ketertarikan minat yang hampir sama. Ira hanya mengakomodir peluang Nau (panggilan untuk putrinya) terkait bakatnya. Ira menyiapkan bahan untuk Nau latihan menulis dan melukis. Hasil karyanya dikumpulkan dan dipajang seberapa pun kualitasnya. Untuk putranya, Ira mencoba memahami kesukaan tentang games, anime dan lainnya. Bahkan Ira pun jadi paham jenis-jenis, rank, level dan segala istilah games yang sedang putranya mainkan---sejak kecil kenal Point Blank, lalu saat ini Growtopia, Mobile Legends dan PUBG. Bila kita menyimak apa yang dilakukan anak-anak, kita dapat mengetahui seberapa besar pengaruhnya bagi mereka. Selama masih dalam batas normal, Ira cukup memberi ruang untuk putranya. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah gila bila seorang ibu membiarkan anak-anak bermain games, nonton anime dan sebagainya.

“Saya bukan ibu yang saklek, dunia berubah, zaman berkembang, pengetahuan juga, maka sudah selayaknya kita menyesuaikannya. Berpikir positif, dari sana kita akan melihat potensi, misanya saja ada e-sport yang tahun ini sudah uji coba untuk Asian Games, nah, ini Agil tahu, bahkan dunia menjadikan ini ladang kompetisi dan berpotensi menjadi sebuah peluang bisnis” lanjut Ira.

4. Bantuan Orang Lain
Karena keterbatasan, selaku orang tua, tidak perlu gengsi meminta bantuan orang lain, untuk kemajuan dan aktivitas anak-anak. Misalnya, mengomunikasikan dengan kepala sekolah, guru untuk hal-hal yang mungkin selaku orang tua, ada keterbatasan. “Saya pun berkomunikasi dengan psikolog di sekolah bila perlu untuk memperhatikan psikis anak-anak ketika saat itu saya pikir mereka sedang tertekan dan persiapan untuk ujian”

Apa pun itu namanya, bila berkaitan dengan anak, ibu mana yang tidak serta merta mencoba banyak cara agar semua berjalan dengan baik dan maksimal sebagaimana mestinya.

Ira berpesan, sejauh apa pun usaha orang tua untuk buah hatinya, bila ikhlas maka insha Allah mendapatkan jalannya. Sebagai single parent, Ira berkewajiban menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk anak-anak. Ditambah lagi dengan label ibu bekerja, maka tugas ke depan tidaklah mudah. Kerja sama dengan buah hati menjadikan segalanya diharapkan dapat teratasi. Anak-anak adalah investasi masa depan, pendidikan dan akhlaknya harus dijaga dari pengaruh negatif globalisasi.

Catatan penulis:
Saya tidak ingat kapan saya pertama kali mengenalnya. Yang pasti, dunia kepenulisan membuat saya mengenalnya dan kini dia menjadi salah satu sahabat penulis yang saya miliki. Saya merasa beruntung sekali bisa mengenalnya. Dalam pandangan saya, dia seorang pekerja keras namun tetap memberikan perhatian penuh pada kedua buah hatinya, Agil dan Nau. Salah satu novel karyanya, pernah saya review, Lisa San No Machigatta Koi, Cinta yang Salah.

Ira Diana, Kadek Heny, dan Paskalina Askalin
dalam sebuah pertemuan penulis Oktober 2018.

No comments:

Post a Comment

Buku Baru: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD

Judul: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD Penulis: Paskalina Askalin Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: Mei, 2019 Tebal: 10...