Saturday, 30 September 2017

Day30 Anak adalah Cermin Bagi Orangtua

Ketika ada tamu yang datang, orangtua akan menyuruh anaknya salam (cium tangan) pada tamu yang datang. Ketika akan makan, orangtua mengingatkan pada anaknya untuk berdoa. Ketika diberikan barang oleh seseorang, orangtua kan menyuruh anak mengucapkan terima kasih.

Apakah 1 kali diingatkan anak akan melakukan apa yang dikatakan orangtuanya? Biasanya tidak. Orangtua harus terus-menerus mengingatkan anaknya untuk salam pada orang yang lebih dewasa, doa sebelum makan, atau mengucapkan terima kasih.

Selain peringatan berulang, memberikan contoh nyata pada anak juga perlu. Misalnya tentang ucapan atau ungkapan terima kasih. Kadang-kadang atau bahkan sering, orangtua atau orang dewasa lupa mengatakan terima kasih ketika diberi sesuatu oleh orang lain.

Perihal beribadah atau berdoa pun demikian. Selain, selalu mengingatkan anak untuk berdoa, orangtua juga harus melakukan apa yang diperintahkan pada anak. Jangan kaget, jika kemudian anak yang akan mengingatkan orangtua berdoa sebelum makan.

Anak adalah cermin bagi orangtua. Kesalahan yang dilakukan anak, bisa jadi salah orangtua. Jangan marahi anak karena tidak mau beribadah ke mesjid, atau beribadah ke gereja. Lihat, apakah Anda sebagai orangtuanya pernah mengajak anak ke mesjid, atau bagi yang beragama Katolik, pernahkah mengajak anak Anda ke gereja.

Anak adalah cermin Anda
-Paskalina Askalin-

#day30 #septembercerita #momwriting #writingchallenge #kenanstories #finish

Friday, 29 September 2017

Day29 Imunisasi MR

Kenan tidak punya pengalaman buruk dengan rumah sakit, klinik, posyandu, atau puskesmas, jadi jika antre untuk berobat di dokter Kenan pasti pengen buru-buru masuk untuk ketemu dokter. Kenan tidak takut sama dokter, tidak takut juga sama obat.

Sekitar dua minggu lalu, 18 September 2017, dengan semangat 45 Kenan  pergi ke posyandu. Hari itu juga akan ada imunisasi MR. Kenan ga ada takutnya sama imunisasi ataupun suntik. Melihat anak-anak seusianya satu per satu nangis karena di imunisasi, Kenan santai saja, malah sibuk makan puding.
Tiba giliran Kenan dipanggil petugas, ditimbang beratnya, diukur tinggi badan, lalu diukur suhu tubuh, eh la dalah...suhu badan Kenan 38°C, itu artinya Kenan tidak bisa diimunisasi MR, ya sudahlah. Akhirnya Kenan pulang dan sorenya berobat ke klinik. Kata dokter ada radang tenggorokan sehingga menyebabkan demam. Imunisasi MR bisa dilakukan di puskesmas jika suhu tubuh Kenan normal.

Nah, siang hari ini Kenan akan imunisasi MR di Puskesmas Pondok Kelapa, jadwalnya jam 13.00-14.00. Dengan semangat 45 Kenan dan saya berangkat ke puskesmas. Ternyata sudah banyak yang antre, Kenan mendapat nomor 25. Sambil menunggu, saya deg-deg karena akan melihat lengan Kenan ditusuk jarum imunisasi, eh Kenan malah pengen cepat-cepat masuk ketemu dokter dan disuntik. Kekhawatiran saya juga takut kalau suhu badan Kenan naik lagi. Dan ketika tiba giliran masuk, dengan sukacita Kenan bergegas masuk tidak ada raut takut sama sekali, malah saya yang deg-degan. Suhu badan normal, dan suntikan pun menancap di lengan Kenan. Meringis pun tidak, usai disuntik Kenan langsung turun dari pangkuan saya dan bergegas keluar ruangan.

Keluar dari ruangan Kenan minta naik tangga. Ketika antre tadi, saya menjanjikan pada Kenan boleh naik tangga setelah disuntik. Alhasil, Kenan langsung menuju tangga di puskesmas, dan naiklah ke lantai atas, turun lalu setelah itu pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, saya tanya pada Kenan, "Sakit nggak Ken, sakit nggak?" Kenan malah terkantuk-kantuk, hahaha. Hari ini jam tidurnya terganggu jadwal imunisasi MR. Semoga Kenan dan semua anak Indonesia menjadi generasi anak sehat dan cerdas. Amin.

#day29 #imunisasiMR #septembercerita #momwriting #writingchallenge #kenanstories

Thursday, 28 September 2017

Day28 Mengenalkan Tanggung Jawab dan Konsekuensi pada Anak

Hari ini Kenan ikut saya pergi ke kantor kelurahan untuk sebuah kepentingan. Di halaman kelurahan, ada taman bermain anak, seperti perosotan, ayunan, kursi putar, dan sebagainya. Sudah pasti Kenan mau mampir, bahkan berlama-lama di taman bermain itu.

Setelah usai urusan di kelurahan, Kenan merengek minta main perosotan. Saya bilang, "Oke boleh main perosotan, tetapi dua kali saja ya." Dengan mantap Kenan menjawab, "Ya, dua kali." Benar saja, setelah dua kali mencoba perosotan, Kenan langsung menuju parkiran motor, dan bersiap untuk pulang.

Sungguh hati kecil saya sebenarnya tidak tega. Kenan pastilah ingin main perosotan lebih lama tetapi Kenan menaati aturan dari saya. Dari sini saya belajar, karakter anak, kebiasaan anak, adalah bentukan dari orangtuanya. Untuk menjadikan seorang pribadi yang kuat, orangtualah yang harus bisa lebih dahulu membentuk pribadi yang kuat psda dirinya. Jujur, kadang saya belum mampu menjadi orangtua yang kuat menghadapi segala macam tingkah polah anak. Emosi saya yang meledak-ledak, rasa percaya diri yang naik turun, dan keberanian menertibkan anak, kadang masih sulit saya lakukan.

Tentang aturan yang saya terapkan saat ini, sepertinya Kenan sudah paham. Ketika sedang bermain mobil-mobilan, tiba-tiba Kenan ingin main pasir ajaib. Saya akan mengharuskan Kenan membereskan mainan mobilnya lalu baru boleh main pasir ajaib. Kini, Kenan sudah punya inisiatif sendiri, dengan kesadaran sendiri Kenan membereskan mainan mobil-mobilan, setelah itu lanjut bermain pasir ajaib. Setelah main pasir ajaib, muncul keinginan main masak-masakan, maka Kenan akan membereskan main pasir ajaibnya dan lanjut main masak-masakan.

Anak seusia Kenan sudah bisa diajak komunikasi seperti ini sangatlah bagus. Kenan sudah bisa bertanggung jawab atas mainannya (atas apa yang dilakukannya). Kenan juga memahami arti konsekuensi, bahwa jika ingin melakukan yang diinginkan, akan ada hal yang harus dikorbankan.

Mengajarkan anak nilai tanggung jawab, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses belajar yang panjang harus dilalui oleh anak. Proses belajar anak itu juga memerlukan dukungan dan kesabaran penuh dari orangtua.

#day28 #septembercerita #momwriting #writingchallenge

Wednesday, 27 September 2017

Day27 Waktu untuk Kenan

Saya ada di rumah, bekerja di rumah, setiap hari di rumah, kecuali jika ada kegiatan. Berada di rumah itu ternyata belum tentu bisa memberikan waktu yang banyak buat Kenan. Apalagi jika saya bekerja jadi karyawan, waktu buat Kenan semakin terkikis habis oleh rasa lelah.

Saya merasakan sekali, Kenan begitu ingin selalu dipedulikan setiap waktu setiap saat. Sehingga saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya ketika sibuk bermain dengan Kenan. Ketika Kenan tidur, itu waktu yang tepat untuk saya bisa bekerja di depan laptop. Tetapi saat saya lelah, akhirnya saya pun tumbang menemaninya tidur.
Anak seusia Kenan selalu menuntut diperhatikan, sedikit-sedikit "Bunda", sedikit-sedikit " Bunda". Otomatis saya harus meletakkan semua rencana dan pekerjaan saya, dan fokus pada Kenan.

Ada sebuah stereotip yang saya pahami, orang kaya yang sibuk bekerja cenderung akan lebih banyak menelantarkan anaknya. Orangtua sibuk bekerja mencari uang mencari uang untuk anaknya tetapi tidak peduli pada kebutuhan kasih sayang yang diperlukan sang anak. Ternyata stereotip itu tidak sepenuhnya benar.

Siapa pun orangtua (ayah dan ibu), wajib memberi perhatian pada anaknya, baik secara materi maupun rohani (kasih sayang). Jadi masalah, stereotip tadi, tergantung pada orangnya masing-masing. Ada orangtua yang tega mengesampingkan kebutuhan kasih sayang anaknya, ada orangtua yang peduli akan hal itu.

Bagi Kenan saat ini, yang terasa kurang adalah waktu kebersamaan dengan ayahnya. Setiap kali ayahnya pulang kantor, pastilah Kenan akan terus mengikuti ayahnya pergi ke mana pun. Bahkan ayahnya mau mandi pun tidak boleh. Apa yang dilakukan Kenan adalah cara seorang anak untuk menarik perhatian orangtuanya. Kenan ingin diperhatikan, bukan berarti Kenan manja.

Orangtua, selelah apapun ketika pulang bekerja harus tetap memberikan waktu dan perhatian terbaik untuk anaknya. Saya pun ketika lelah melanda berusaha untuk tetap menjaga nada suara serendah mungkin. Walau kadang saya lupa (khilaf) sehingga membuat emosi saya membuncah tiada tara.

Waktu untuk Kenan bagi saya yang utama. Waktu untuk menulis, waktu untuk menggambar, waktu untuk memanjakan diri, bisa saya abaikan semua, demi menyediakan waktu untuk Kenan.

Semoga saya dan semua keluarga Indonesia bisa memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka. Amin.

#day27 #septembercerita #writingchallenge #momwriting

Tuesday, 26 September 2017

Day26 Pengalaman Baru Bersama Mobil Derek

Hari ini ada pengalaman baru buat Kenan. Dia melihat langsung mobil derek. Selama ini Kenan hanya lihat digambar yang namanya mobil derek. Kenan begitu senang melihat mobil derek itu.

Kenan sudah mengenal mobil derek 1 tahun yang lalu melalui sebuah buku berjudul Truk-truk Raksasa. Buku itu saya beli saat Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016 di JCC Senayan. Saat itu saya belum berkesempatan mengajak Kenan ke pameran buku karena saya harus jaga stan pameran setiap hari.

Buku Truk-truk Raksasa begitu kena di hati Kenan. Dari sekian banyak truk yang ada di buku itu, Kenan bisa mengulang cerita yang saya ceritakan dari buku itu, yaitu tentang kronologi mobil derek yang menderek mobil mogok.

Kenan: Kenapa supirnya turun?
Bunda: Karena mobilnya tidak bisa jalan.
Kenan: Kenapa tidak bisa jalan?
Bunda: Karena mobilnya mogok.

Saya merangkainya untuk  Kenan:
- Sopir mobil turun, mobilnya tidak bisa jalan karena mogok.
- Lalu datang mobil derek untuk menarik mobil mogok dan dibawa ke bengkel.

Dua kalimat di atas mampu Kenan sampaikan kembali pada ayahnya. Sambil menunjuk gambar pada buku, Kenan ceritakan pada ayahnya tentang mobil mogok yang diderek. Ketika itu usia Kenan belum genap 2 tahun.

Kini ketika usianya 2,9 tahun, Kenan sudah bisa bercerita. Bahkan saking semangatnya bercerita, Kenan bisa mengulang-ngulang cerita hingga beberapa kali. Termasuk tentang pengalaman Kenan melihat mobil derek, Kenan bisa cerita berulang-ulang pada ayahnya yang baru pulang kerja.

#day26 #septembercerita #momwriting #writingchallenge #kenanstories

Monday, 25 September 2017

Day25 Kenan dan Buku


Saya paling suka melihat Kenan bermain-main dengan buku. Mungkin ini adalah satu ego saya. Saya selalu ingin Kenan dekat dengan buku, bermain dengan buku, tidak asing dengan buku, dan Kenan bisa berdekatan dengan buku.

Kini, di usianya 2,8 tahun, Kenan sudah cukup dekat dengan buku. Bahkan Kenan mengingat beberapa cerita dalam buku yang saya bacakan. Yang membuat saya semakin terpana, setelah saya membacakan cerita, Kenan akan menceritakan kembali cerita itu pada ayahnya. Luar biasa!


Buku dan pensil juga bagian aktivitas yang selalu saya dekatkan pada Kenan. Bersama buku dan pensil, Kenan bisa melakukan corat-coret sesuka hatinya.
Menurut informasi yang saya baca dari website parenting, ada tiga manfaat corat-coret yang dilakukan balita.

1. Membantu perkembangan motorik
Saat anak mencoret-coret, ia berlatih mengendalikan  gerak organ tubuhnya. Gerakan memegang pensil lalu menggerakkannya, membuat bahu, tungkai lengan, dan jemari bergerak. Ativitas corat-coret di buku juga memadukan gerakan tangan dan mata.

2. Mengekspresikan emosi
Ketika anak berusia 1 tahun, ia mampu merasakan berbagai sensasi panca inderanya. Hal ini mendorong anak mencoba-coba berbagai permukaan materi untuk dicoret-coret. Aktivitas mencoret di kertas, lantai, dinding, hingga tangan dan kakinya. Merasakan sensasi berbagai media saat mencoret, memberi anak pemahaman sebab akibat, karena ia bisa mengamati hasil perbuatannya pada media yang berbeda. Sensasi yang dirasakan menyenangkan, mendorong anak makin ekspresif mencoret.

3. Pengenalan awal menulis
Pada awalnya anak akan mencoret sebuah titik, garis, lingkaran, hingga seperti benang kusut. Ini adalah tahap awalnya mengenal tulisan.
Tahapan awal mencoret yang dilakukan anak dimulai dari sebuah titik, kemudian garis lurus patah-patah, hingga menjadi kumpulan garis melengkung yang mirip benang kusut. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Alice Honig. Menurutnya di akhir usia 2 tahun anak akan bisa menggambar garis tunggal, meski belum lurus. Menurutnya, menggambar garis tunggal yang jelas ujung dan pangkalnya, membutuhkan kematangan intelektual. Selain itu, jika kita perhatikan, di antara coretan anak akan terlihat bentuk-bentuk mirip huruf. Menurut Alice, "Itulah yang menjadikan aktivitas mencoret penting untuk didukung orangtua, sebab menyiapkan anak untuk belajar menulis kelak."

Setelah mengetahui tiga manfaat di atas, saya semakin semangat mendekatkan Kenan pada buku dan pensil. Buku dan pensil selalu saya sediakan di meja. Kadang Kenan mau mencoret-coret kertas hingga dinding, tetapi sering Kenan menolak.

Tulisan ini saya tambah kutipan dengan penyesuaian dari www.ayahbunda.co.id/balita-psikologi/manfaat-corat-coret-balita

Sunday, 24 September 2017

Day24 Kenan Mau Mengepel?

"Ayah di situ saja, Kenan mau mengepel." Itu perkataan Kenan saat merebut alat pel dari ayahnya. 

Seringkali anak-anak ingin meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Keinginan anak adalah membantu, tetapi sering malah menjadi pemicu pertengkaran antara seorang anak batita dengan ibunya.

Ya, saya sering alami pertengkaran dengan Kenan karena Kenan saya angggap mengganggu. Sampai kapan pun pertengkaran saya dengan Kenan tidak akan ada titik temu, karena yang salah adalah saya sendiri. Seharusnya saya yang bisa mengerti, bahwa anak seusia Kenan memang masa-masa ingin mengetahui dan mencoba banyak hal.
Kenan ingin membantu, bahkan Kenan senang membantu. Namun, anak seusianya belum memahami jika sebuah pekerjaan itu ada waktu mulai dan ada waktu berhenti. Kenan suka memulai pekerjaan, tetapi tidak suka berhenti melakukan pekerjaan itu. Nah, tidak mau berhenti ini membuat pertengkaran-pertengkaran.

Pagi ini Ayah mengepel lantai dan Kenan ingin membantu Ayah mengepel lantai. Akhirnya, alat pel diberikan pada Kenan. Beberapa saat kemudian, Kenan tidak mau menghentikan aksi, terjadilah pertengkaran. Untuk menghentikan aksi Kenan mengepel, saya memberikan usulan lain, yaitu Ayah mencuci sepatu, Kenan mencuci sandal. 

Kenan mau diajak mencuci sandal, dan yang terjadi selanjutnya... Tidak bisa berhenti, Kenan ingin main air terus sambil mencuci sandal.

Anak-anak tetaplah anak-anak, kesukaannya bermain, semua pekerjaan dianggapnya bermain-main. Sayalah selaku orangtua yang harus memahaminya, dan harus kreatif sekaligus mendidik, dalam menghadapi aksi-aksi Kenan.

Setiap hari Kenan akan bertemua dengan berbagai pekerjaan rumah, dan Kenan tidak akan tinggal diam hanya melihat. Kenan pasti akan ikut terlibat. Dan saya, harus pun selalu berusaha mencari celah, pekerjaan mana yang bisa dilakukan bersama dengan Kenan.

Menjadi ibu itu tidak ada sekolahnya, tetapi kepintaran seorang ibu bisa mengalahkan seorang profesor. - Paskalina Askalin

#day24 #septembercerita #monwriting #kenanstories #kenanutama #anakkreatif #bundakreatif

Saturday, 23 September 2017

Day23 Bermain dan Bermain

Kebahagiaan anak-anak adalah bermain. Setiap hari bermain, setiap saat bermain, saat mandi bermain, bangun tidur lalu bermain, dan sebelum tidur pun bermain. Jadi, memang tepat jika orangtua menerapkan bermacam kemampuan atau karakter pada anaknya melalui bermain.

Hari ini Kenan sedang suka bermain mobil-mobilan yang ukurannya kecil. Mobil ukuran kecil ini sebenarnya kumpulan dari mobil-mobil yang sudah sejak 2 tahun lalu dibeli, karena bahan lumayan awet jadi masih ada wujudnya hingga sekarang.

Kenan punya mobil yang ukuran besar, seperti mobil kontainer, truk pasir, truk-truk kontruksi, dan sebagainya. Pada waktu tertentu mobil-mobilan yang besar akan dimainkan terus-menerus. Setelah bosan berpindah pada mainan lainnya.

Mobil-mobil kecil dijejer di lantai, di meja, hingga ditenteng ke sana ke mari. Bahkan saat mau tidur, mobil-mobilan itu pun di bawanya, ketika bangun tidur langsung ditanyakan dimana mobil-mobilnya. Begitu asyik Kenan memainkan mobil-mobil itu.

Di sela-sela sedang bermain, saya bertanya bermacam-macam pertanyaan pada Kenan:
- Ini mobil apa?
- Mobil ini warnanya apa?
- Kenan sudah pernah naik mobil ini?
- Mobil pemadam kebakaran yang mana?
Dan sebagainya.

Nilai karakter juga saya sematkan pada permainan yang dilakukan Kenan melalui pertanyaan seperti ini:
- Mobil buat Bunda mana?
- Mobil untuk Ayah mana?
- Bunda pinjam mobil pemadamnya, boleh?
Dan sebagainya.

Dalam permainan apapun saya selalu mencoba memberikan nilai edukasi, yang meliputi pengetahuan dan karakter. Saya berharap sedikit apapun yang didapatkan setiap permainan yang dimainkan memberikan manfaat untuk Kenan.

Anak-anak tugasnya hanya bermain dan bermain. Ketika anak belajar, itu sesuatu yang tak terlihat oleh anak tetapi disukainya. - Paskalina Askalin

#day23 #septembercerita #momwriter #writingchallenge #belajarsambilbermain #kenanstories #bundastories

Friday, 22 September 2017

Day22 Permainan Edukatif yang Dimainkan Kenan

Ketika saya membelikan mainan untuk anak, saya akan pilih mainan yang dapat merangsang berbagai kecerdasan, melatih motorik, dan menumbuhkan kreativitas. Untuk menjadikan sebuah mainan bernilai edukasi, orangtua atau pengasuh harus menjadi pendamping yang kreatif.
Yang perlu menjadi catatan penting, tidak ada mainan yang aman untuk anak. Meskipun tertulis aman untuk anak, orangtua harus tetap waspada mendampingi anak bermain.

Seringkali kita mendengar istilah PERMAINAN EDUKATIF. Apa sih permainan edukatif itu? Permainan edukatif adalah sebuah bentuk kegiatan mendidik yang dilakukan dengan menggunakan cara atau media permainan yang bersifat mendidik. Dari pengertian itu saya dapat menyebutkan bahwa permianan edukatif bukan semata-mata alat permainan yang edukatif, pendamping dan orang tua harus paham nilai edukasi dalam sebuah permainan. Permainan edukatif tidak akan bersifat mendidik jika tidak dilakukan secara benar, sehingga permainan edukatif hanya menjadi permainan biasa saja.

Kenan memainkan banyak sekali permainan setiap harinya. Semua permainan yang dilakukannya selalu dalam pengawasan saya atau anggota keluarga lain yang ada di rumah. Permainan yang dilakukan Kenan menggunakan bermacam-macan alat bermain. Nah, berikut ini 5 alat bermain dalam permainan edukatif yang sering dilakukan oleh Kenan.


1. Pasir Ajaib
Pasar ajaib atau kinestetic sand merupakan mainan yang bisa digunakan sebagai pengganti bermain tanah atau pasir sungguhan. Mungkin orangtua akan khawatir jika melihat anak mereka main tanah di pojokan rumah atau dekat jalan. Pasir ajaib bisa menjadi pilihan untuk alat bermain anak. Anak akan senang bermain pasir karena merasa seperti bermain pasir sesungguhnya.

Kenan bermain pasir ajaib bersama Tante Lia.

Kenan pun suka bermain pasir ajaib ini. Saya memakai pasir ajaib sebagai pengganti dari pasir atau tanah yang ingin dimainkan Kenan. Pasir atau tanah yang ada di depan rumah saya khawatirkan mengandung kotoran hewan yang bisa membahayakan kesehatannya. Hal ini bukan berarti saya melarang Kenan karena takut kotor. Karena ada saatnya Kenan bermain tanah sambil diajak mengenal cara bertanam.

Bermain dengan menggunakan pasir ajaib dapat merangsang kreativitas ketika anak membuat bermacam-macam bangunan dengan cetakan sesuai idenya. Bagi anak usia di bawah tiga tahun, bermain pasir ajaib dapat melatih gerakan tangan dan jarinya (motorik).


2. Mobil-mobilan aneka bentuk dan warna
Melalui mainan mobil aneka bentuk dan warna anak bisa belajar macam-macam nama benda dan bisa menambah kosa kata anak. Kenan (2,8 tahun) sudah mengenal nama-nama aneka jenis mobil dan warna. Ketika melihat secara langsung mobil-mobil, Kenan bisa menyebut namanya dengan tepat, dan mengidentifikasi warna dengan benarnya. Misal truk sampah warnanya orange, mobil angkot warna biru, truk box warna biru, dan sebagainya.

Kenan dan Mobil-mobilannya.

Untuk bisa mengidentifikasi nama mobil dan warna, tidak bisa hanya dihafal oleh anak. Melalui bermain mobil-mobilan yang menyenangkan, orangtua bisa menyebutkan secara berulang nama-nama mobil dan warna. Lama-kelamaan anak menjadi paham nama mobil dan warna, bukan menghafal.


3. Papan Tulis Magnet
Sudah lama sekali saya membelikan papan tulis magnet untuk Kenan. Sekali mencoba, Kenan langsung suka, setiap saat setiap hari langsung . Sebelum mengenalkan Kenan pada papan tulis magnet, saya mengenalkan Kenan pada buku/kertas dan pensil atau krayon. Mencoret-coret menjadi kegiatan mengasyikkan bagi Kenan. Kini tangannya sudah terbiasa memegang pensil dengan baik.

4. Mainan Alat Pertukangan
Anak-anak suka meniru. Apa yang dilakukan orang di sekitarnya pasti ditiru oleh anak. Misalnya menggergaji, pasang paku dengan palu, dan membuka skrup dengan obeng. Kenan pun demikian. Lihat ayahnya pegang gergaji, Kenan juga ingin menggunakan gergaji. Karenanya saya membelikan Kenan mainan alat-alat pertukangan (toolbox). Kenan senang sekali bermain alat-alat pertukangan.

Kenan bermain alat pertukangan.


5. Papan Puzzle
Papan puzzle merupakan mainan edukatif. Ada banyak tema puzzle yang dijual, puzzle angka, puzzle huruf, puzzle buah, puzzle bentuk, dan sebagainya. Puzzle pertama yang saya kenalkan pada Kenan adalah puzzle bentuk. Sekali bermain, Kenan langsung bisa menyusun puzzle dengan benar. Ketika dikenalkan dengan puzzle huruf, Kenan juga sudah mampu menyusun dengan benar, walaupun masih dengan bantuan saya.

Kenan bermain puzzle huruf.

Yang menjadi catatan penting dalam mendampingi anak bermain adalah:

  • Orangtua harus tahu permainan apa yang dimainkan anak.
  • Pastikan benda yang dimainkan aman untuk anak, dan jika ada benda tajam yang digunakan, orangtua harus waspada.
  • Dampingi anak saat bermain.
  • Ciptakan situasi yang menyenangkan saat anak bermain.
  • Jangan paksa anak untuk bisa memainkan sesuatu permainan.

#day22 #septembercerita #momwriting #writingchallenge #kenanstories #permainanedukatif

Thursday, 21 September 2017

Day21 Perlukah Mengajarkan Anak Berdoa?

Pasti semua orangtua dan siapa pun menjawab, PERLU. Ya, saya juga setuju, jika kita selaku orangtua atau orang dewasa harus mengajarkan anak untuk berdoa.



Kenan selalu berdoa sebelum makan ketika hendak makan. Kadang malah saya yang lupa untuk mengingatkannya berdoa sebelum makan. Saya sendiri pun suka lupa berdoa.

Berdoa adalah komunikasi antara suatu pribadi dengan Tuhan-nya. Apa pun agamanya, doa merupakan komunikasi manusia dengan Tuhan-nya.
Saat ini Kenan masih berusia 28 bulan, dan belum muncul pertanyaan darinya tentang doa. Ketika diminta berdoa sebelum makan, Kenan akan berdoa. Tanpa bertanya ini dan itu. Tetapi terus terang, saya juga tidak mempunyai jawaban yang tepat ketika Kenan bertanya, "Kenapa harus berdoa, Bunda?" Mungkin jawaban yang terbersit saat ini adalah kita harus berdoa sebagai rasa syukur atas limpahan rejeki yang diberika oleh Tuhan. Saya berharap, nanti suatu saat ketika Kenan bertanya hal ini saya bisa menjawab lebih baik.

Doa Katolik
Sebagai seorang Katolik dan sesuai janji saya di depan altar ketika menerima Sakramen Perkawinan, saya akan mendidik Kenan secara Katolik. Doa-doa yang sudah terbiasa Kenan dengar dan ucapkan adalah Doa Bapa Kami dan Doa Salam Maria

Mengenalkan Kenan pada doa, bukan dengan cara dihafalkan tetapi dengan cara pembiasaan. Terbiasa mendengar dan mengucapkan doa akan memudahkan Kenan memahami doa. Seperti pengalaman bulan Mei 2017. Beberapa kali Kenan ikut acara Doa Rosario bersama. Mendengarkan Doa Salam Maria sebanyak 253 kali membuat Kenan bisa mengucapkan Doa Salam Maria. Walaupun saat doa itu Kenan sibuk dengan aksinya bermain ini dan itu, tetapi telinganya mendengar dengan cermat doa yang diucapkan.

Jangan paksa anak menghafal doa, tetapi ajak anak untuk selalu ikut berdoa, baik dalam lingkup keluarga maupun lingkungan sekitar. Dengan sendirinya anak akan bisa berdoa. -Paskalin Askalin

#day21 #septembercerita #momwriting #kenanstories #writingchallenge #berdoa #doakatolik

Wednesday, 20 September 2017

Day20 Ekspresi Kenan

Pernah beberapa kali saya mengajak Kenan untuk membuat berbagai ekspresi muka. Ada banyak ekspresi yang diperagakan Kenan, misalnya, Ekspresi senang, sedih, bete, bahagia, kaget, dan sebagainya. Kenan bisa membuat ekspresi-ekspresi itu.
Menurut KBBI Daring EKSPRESI adalah (1) pengungkapan atau proses menyatakan (memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya), (2) pandangan air muka yang memperlihatkan perasaan seseorang). Ekspresi wajah bisa menunjukkan keadaan seseorang. Ekspresi wajah kita juga bisa menunjukkan rasa empati kita pada oranglain.
Pernah saya melihat seseorang yang memiliki wajah tanpa ekspresi. Ketika senang, ekspresinya biasa. Ketika sedih pun, ekspresinya biasa saja. Tentu saya tidak mau anak saya menjadi anak tanpa ekspresi, yang akhirnya bisa membuat dia dianggap tidak mempunyai kepedulian. Bayangkan saja jika sedang pergi ke sebuah rumah duka, ekspresinya malah bahagia. Tentunya hal ini bisa dianggap tidak punya rasa empati pada oranglain yang sedang berduka.
Ekspresi itu perlu dilatihkan sejak anak masih usia dini (menurut saya). Kenapa? Apa gunanya? Dengan memahami ekspresi, anak sedini mungkin belajar memahami dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Anak juga belajar untuk peduli pada perasaan orang lain. Rasa empatinya bisa terbangun sejak dini.
Dalam berbagai kesempatan saya ajak Kenan bermain-main dengan ekspresi. Bukan tanpa alasan saya mengajaknya berekspresi. Saya ingin kelak Kenan bisa berempat pada apapun yang terjadi pada orang-orang yang ada di dekatnya.

#day20 #septembercerita #writingchallenge #momwriting #kecerdasan #kenanstories #ekspresi

Tuesday, 19 September 2017

Day19 Kenan Membaca Buku

Sebelum saya menceritakan kisah hari ini, mari simak video ini.

Video youtube Kenan


Hari ini saya dibuat terkagum-kagum oleh aksi Kenan. Apa yang dilakukannya Kenan? Kenan membacakan cerita untuk tantenya dan saya. Wow.. Kenan sudah bisa membaca, luar biasa sekali.

Saya terkejut sekaligus bangga karena yang saya lakukan selama ini tidak sia-sia. Kenan belum bisa membaca, itu pasti, lalu bagaimana Kenan bisa membaca buku. Kenan hanya bergaya seakan-akan  membacakan buku. Kenan bercerita sambil membaca gambar buku yang dipegang.

Saya sering membacakan buku untuk Kenan. Saya juga sering mendongeng banyak cerita untuk Kenan. Kini imajinasinya sudah terlatih, kosa katanya terus bertambah dari hari ke hari. Kenan mampu merangkai kata menjadi kalimat, menyambungkan kalimat demi kalimat menjadi sebuah cerita hasil imajinasi.

Kenan membacakan buku dan bercerita bukan dengan kemampuan membaca. Kenan menggunakan kemampuan berpikir, mengolah imajinasi, dan mengekspresikan apa yang dirasa dan dilihatnya. Cerita atau bacaan yang disajikan oleh Kenan adalah cuplikan-cuplikan cerita yang saya bacakan dan dongengkan.

Sebagai orangtua, saya sarankan pada Anda untuk sering-sering membacakan buku cerita untuk anak Anda. Hasil yang akan dicapai, tidak sekarang, tetapi suatu saat nanti Anda akan terkesima melihat kecerdasan anak Anda.

#day19 #septembercerita #writingchallenge #momwriting #kecerdasan #kenanstories #membacakanbuku #bacabuku #bukuanak #imajinasianak

Monday, 18 September 2017

Day18 Kebersamaan Bersama Anak (Keluarga)

Apa yang terpenting dalam acara liburan keluarga, acara weekend, atau family gathering? KEBERSAMAAN. Ya dalam acara yang bertema liburan dan keluarga adalah kebersamaan. Dalam keluarga, seluruh anggota keluarga sibuk dari Senin hingga Jumat, lalu berusaha menghabiskan liburan bersama di hari Sabtu dan Minggu.
Kebersamaan adalah hal yang utama bagi anak-anak kita. Saya rasakan betul hal itu sejak memiliki anak. 

Mengurangi sedikit saja waktu untuk anak, rasanya berdosa sekali. Apalagi jika mendengar tangisannya ketika harus pergi beberapa jam untuk sebuah kepentingan.

Bagi saya, bermain dengan anak, bermain di tempat tidur, cekakak-cekikik bersama anak, adalah sebuah hal yang luar biasa dan juga merupakan kebahagiaan buat anak. Anak tidak tahu mahalnya biaya wisata ke sana ke sini, anak juga belum paham pemandangan  pantai di sini begitu indah, dan makanan di restoran itu enak sekali. Bagi anak, yang terpenting adalah kebersamaan bersama ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain.

Hari ini, saya merasakan sesuatu yang lain dengan anak saya, Kenan. Belum pernah sekalipun saya ikut naik odong-odong bersama Kenan. Biasanya Kenan naik odong-odong dengan Uti-nya (neneknya). Hari ini saya menemani Kenan naik odong-odong. Kenan begitu senang bisa naik odong-odong berasama Bundanya. Sejak hari ini saya jadi selalu teringat, walau hanya bayar lima ribu rupiah berdua, ada kebersamaan yang mendekatkan saya dan Kenan.

Jagalah kebersamaan dengan anak-anak Anda, sebelum waktu benar-benar menghilangkan kebersamaanmu. - Paskalina Askalin

#day18 #septembercerita #momwriting #writingchallenge #anakkreatif #kenanstories

Sunday, 17 September 2017

Day17 Mainan Kreatif ala Kenan

Saya punya banyak sekali spidol sejak menyukai corat-coret menggambar. Di saat yang sama, Kenan pun sedang suka dan tertarik dengan warna. Jadinya, ketika saya memegang spidol untuk menggambar, Kenan akan buru-buru mengambil spidolnya dan mencoret-coret yang ada sesuka hatinya.

Kenan suka sekali mencoret-coret dengan menggunakan spidol. Namun, di tengah keasyikannya mencoret-coret, kini Kenan menemukan mainan baru dari spidol. Mainan ini diciptakan sendiri oleh Kenan. Mainan ini saya sebut "Mainan Kreatif ala Kenan."
Mainan itu adalah menyusun tutup spidol. Setiap kali Kenan menemukan spidol milik Bunda, Kenan anak mengambil semua spidol, melepas tutupnya, lalu menyusun tutupnya. Dengan penuh kesabaran Kenan menyusun tutup spidol. Ketika akhirnya susunan runtuh, Kenan akan menyusun kembali, begitu seterusnya. Saya perhatikan, Kenan menyusun ulang lebih dari 15 kali. Wowowww, luar biasa.

Kenan memiliki kreativitas yang luar bisa. Selain menciptakan membuat mainan sendiri dari tutup spidol, Kenan pernah membuat membuat mainan dari gantungan baju. Kenan menyusun gantungan baju di pegangan kunci. Meskipun kreativitas Kenan itu bisa membuat rumah berantakan, semuanya terbayar oleh hasil kemampuan yang didapatkan Kenan.

Sebagai seorang ibu yang selalu di rumah, saya merasa beruntung, karena saya bisa melihat perkembangan dan pertumbuhan Kenan setiap saat. Semua hal yang dilakukan Kenan tidak lepas dari pandangan mata saya.

Bermain tutup botol misalnya, saya tidak bisa menilai apa yang dilakukan Kenan adalah hal biasa saja. Saya menemukan ada sesuatu yang luar biasa yang telah Kenan lakukan. Bermain dengan mainan hasil kreasinya sendiri itu sungguh luar biasa. Apalagi ditambah dengan pengolahan emosi yang dilakukan Kenan. Dengan sabar Kenan mengulang terus permainan berharap bisa menyusun tutup spidol setinggi-tingginya.

Saya jadi berkesimpulan bahwa anak bisa bermain apa saja tanpa harus membeli mainan yang mahal. Sebuah permainan itu berefek bukan karena harga dan banyaknya orang yang memainkan, melainkan karena permainan itu berefek pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan raganya.

#day17 #septembercerita #momwriting #writingchallenge #anakkreatif #kenanstories

Saturday, 16 September 2017

Day16 Ketika Anak Belajar Mandiri

Ada sebuah cerita seorang Bapak tentang kehidupan anaknya yang ada di Indonesia dan satu anaknya di Australia. Kedua anaknya ini sudah berkeluarga dan memiliki anak. Ketika sang Bapak berkunjung ke Australia untuk bertemu anak dan cucunya, Bapak itu cukup terkesima. Dia melihat cucunya yang duduk di bangku TK bisa mengurus dirinya sendiri, mulai dari memakai baju sekolah, sarapan, hingga memakai sepatu.

Kembali ke Indonesia, si Bapak melihat kehidupan anak yang satunya. Anaknya ini memiliki tiga orang anak, dan masing-masing anak memiliki pengasuh anak. Bapak itu melihat semua cucunya, makan harus disuapin, sepatu dipakaikan, dan tas sekolah pun dibawakan. Ketiga cucunya ini tidak mempunyai kemandirian sama sekali.
Kemandirian seorang anak memerlukan dukungan dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Dukungan itu dapat diwujudkan dengan membiarkan anak untuk melakukan sendiri pekerjaan yang mampu dilakukan sendiri, misalnya makan sendiri, mengambil minum sendiri, memakai sepatu/sandal sendiri, membawa tasnya sendiri, dan sebagainya.

Sering saya menyaksikan orangtua/pengasuh membawakan tas anaknya. Seberat apa sih tas anak itu sehingga harus dibawakan tasnya? Apa yang dilakukan orangtua ini secara tidak langsung membuat anak menjadi manja. Jika memang tas yang dibawa terasa berat, orangtua bisa membawakan barang yang membuat berat, misalnya air minum. Intinya adalah berikan tanggung jawab pada anak untuk membawa tas miliknya sendiri. Rasa tanggung jawab yang diberikam pada anak, lama-kelamaan akan menjadi sikap mandiri.

Kemandirian dalam diri anak dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti memakai sandal sendiri, makan sendiri, memakai celana sendiri, dan mengambil minum sendiri. Saat ini anak saya, Kenanutama, berusia 2,8 tahun. Kenan sudah bisa makan sendiri, memakai sepatu/sandal sendiri, dan memakai celana sendiri. Kemampuan Kenan itu tidak instan, ada proses belajar yang dijalani oleh Kenan. Selama proses belajar ini, saya dan semua anggota keluarga di rumah harus membantunya.

Proses belajar anak untuk bisa melakukan suatu pekerjaan itu tidak mudah. Anak memiliki keinginan kuat untuk melakukan sendiri, sementara anak tidak langsung bisa. Hal ini membuat anak putus asa hingga malas mencoba lagi. Orangtua harus sabar menemani anak.

Ketidaksabaran orangtua justru akan merusak proses belajar anak. Karena orangtua tidak sabar, ketika anak kesulitan memakai sandal, orangtua membantu anak dengan cepat. Ketika anak kesulitan menyendok makanan hingga membuat makanan tumpah, akhirnya orangtua menyuapi anak dengan alasan daripada kotor dan tumpah sana-sini.

Kenan saat ini seringkali memilih makan sendiri daripada disuapin. Bahkan kadang, saya harus memaksa jika ingin menyuapinya. Bagi saya ini adalah proses belajar bagi Kenan menuju kemandirian. Walaupun saya harus menahan diri tidak marah, karena nasi berserakan ke sana ke mari.

Anak suka membuat kotor dan berantakan rumah. Bunda harus menikmati keadaan itu, karena itu adalah proses belajar dan kreatifnya sang buah hati. - Paskalina Askalin

#day16 #belajarmenulis #septembercerita #momwriting #30harimenulis #anakmandiri #kemandiriananak

Friday, 15 September 2017

Day15 Kenan Bermain Corat-coret

Mengenalkan anak pada kertas dan pena, tidaklah salah. Yang penting adalah jangan paksa anak untuk menghafal huruf, jangan paksa anak untuk bisa membaca dan menulis. Di usianya yang masih dini, anak harus berbahagia, bersenang-senang, dan tidak mendapat tekanan apa pun.

Di usia anak yang masih bersenang-senang untuk bermain, dipaksa untuk les baca, les berhitung, les gambar, les vokal, dan masih banyak lagi. Padahal yang dibutuhkan seorang anak hanyalah “bermain dan bersenang-senang”. Ya, bermain yang bukan sekadar bermain, dan bersenang-senang yang bukan sekadar bersenang-senang.

Saya tidak memaksakan Kenan untuk bisa membaca, menghafal huruf, menulis, atau berhitung. Saya mengenalkan Kenan pada huruf dan angka sambil bermain. Jika Kenan tidak suka, saya tidak paksakan. Di lain hari saya akan tawarkan lagi permainan yang berhubungan dengan angka dan huruf.

Kenan sedang bermain dengan kertas dan pena.

Kemarin, saya tertegun ketika menyaksikan Kenan menemukan huruf pada sebuah kata di lemari. “Bunda sama,” kata Kenan sambil menunjuk huruf U pada kata CLUB. Lima belas menit sebelum, saya mengajak Kenan bermain puzzle huruf. Puzzle huruf itu saya beli untuk bermain-main huruf bersama Kenan. Kata kuncinya adalah BERMAIN, jadi saya tidak memaksakan pada Kenan untuk bisa menyusun puzzle huruf dengan benar.

Papan puzzle huruf.

Hari ini saya mengajak Kenan bermain dengan kertas dan pena (spidol/pensil). Sebenarnya, saya sudah mengenalkan kertas dan pena dari dulu, sejak Kenan bisa menggenggam (2 tahun lalu). Corat-coret di kertas menjadi kesenangan Kenan. Bahkan coretannya bisa berpindah di telapak kaki atau tangannya. Kini, Kenan sudah bisa membuat bulatan dengan sempurna. Kenan juga sudah bisa membuat garis-garis.

Ini video Kenan sedang membuat bulatan-bulatan menirukan saya.



Bermain dengan kertas dan pena hanya berlangsung sekitar 15 menit saja. Setelah itu, Kenan bermain dengan mainan, bersepeda ke sana ke mari. Bagi saya, waktu 15 menit begitu berharga, karena saya menemukan hal-hal yang membuat saya takjub dan terpana. Kenan sudah bisa membuat coretan dengan sempurna sesuai dengan instruksi.

Ini video Kenan sedang membuat garis-garis pagar.




#day15 #kenanstories #septembercerita #momwriting #belajarsambilbermain #coratcoret

Thursday, 14 September 2017

Day14 Si Kumbi Anak Jujur

Sejak satu tahun yang lalu, saya membacakan buku si Kumbi untuk Kenan. Si Kumbi adalah tokoh kartun yang menjadi ikon anak jujur yang dibuat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tiga hari ini Kenan begitu dekat dengan tokoh Kumbi ini. Bahkan Kenan hampir hafal lagunya. Kenan semakin semangat menyanyi karena pernah bertemu dengan badut Kumbi di JCC Senayan ketika mengunjungi Indonesia International Book Fair.

Teks Si Kumbi Anak Jujur

Kenan suka lagu Si Kumbi ini, apalagi lagu dalam video. Video si Kumbi yang begitu sederhana tetapi memiliki pesan cerita yang kuat, membuat Kenan dengan mudah memahami ceritanya. Ini link video si Kumbi yang disukai Kenan.

Video Si Kumbi Anak Jujur, kesukaan Kenan




Tips Membacakan Buku Bergambar
Buku si Kumbi adalah buku bergambar yang penuh warna, sedikit kata-kata. Ketika membacakan buku si Kumbi, sebaiknya orangtua/pembaca berkreativitas untuk menceritakan kembali kisah si Kumbi supaya teks lebih panjang dan anak memahami isi buku atau pesan yang tersimpan.
Buku setebal 32 halaman, jika hanya dibacakan saja tanpa ada penambahan kata dan kalimat secara langsung, akan tidak menarik buat anak. Ketika saya membacakan buku si Kumbi, saya akan menambahkan banyak sekali kata dan kalimat untuk memperjelas cerita.

Kenan dibacakan buku si Kumbi.



Wednesday, 13 September 2017

Day13 Merawat Binatang Peliharaan

Di rumah ada anjing bernama Boni. Boni dipelihara sejak 8  bulan yang lalu. Kenan termasuk anak yang peduli pada binatang peliharaan. Kenan tidak takut mengelus Boni. Kenan juga tidak takut memberi makan Boni. 

Ketika menyanyikan lagu, lagu Heli diubah menjadi Boni, seperti di bawah ini.

Aku punya anjing kecilKuberi nama BoniDia senang bermain-maimSambil berlari-lariBoni, guk guk gukKemari guk guk gukAyo lari-lariBoni,  guk guk gukKemari, guk guk gukAyo lari-lari

Menyayangi binatang peliharaan dapat ditanamkan sejak anak usia dini. Kenan berusia 2,8 tahun saat ini dan dia sudah bisa memberikan perhatiannya pada Boni. Lagi-lagi, apa yang dilakukan Kenan ini adalah hasil dari mencontoh apa yang dilakukan orang di rumah pada Boni.

Menyayangi binatang peliharaan juga cara untuk melatih rasa tanggung jawab pada anak sejak dini. Misalnya, anak diberikan tanggung jawab memberi makan binatang peliharaan setiap pagi. Anak suka sekali diberi tanggung jawab oleh orangtuanya.

Seperti Kenan, meskipun belum paham 100%, Kenan suka jika saya memberikan tugas padanya supaya membuatkan susu untuk Boni atau memberikan makanan pada Boni. Kenan selalu menyambut permintaan saya dengan gembira.

Penanaman karakter positif harus dilakukan sejak usia dini. Tetapi belum terlambat jika dilakukan sekarang ketika anak sudah besar. - Paskalina Askalin

#day13 #septembercerita #momwriting #karakterpositif #sayangbinatangpeliharaan

Kenan dan Boni.

Day12 Kecerdasan Musikal

Tahun 2013 lalu, saya menulis buku aktivitas kecerdasan anak. Buku aktivitas itu terdiri atas 10 macam kecerdasan, yaitu:

1. Kecerdasan bahasa
2. Kecerdasan logis matematis
3. Kecerdasan musikal
4. Kecerdasan naturalis
5. Kecerdasan interpersonal 
6. Kecerdasan intrapersonal
7. Kecerdasan visual spasial
8. Kecerdasan kinestetik
9. Kecerdasan eksistensial
10. Kecerdasan moral


Sepuluh kecerdasan itu pada praktiknya tidak bisa berdiri sendiri. Sepuluh kecerdasan itu saling berkaitan dan mendukung.  Yang ingin saya bahas kali ini adalah tentang kecerdasan musikal.
Kecerdasan musikal adalah kemampuan individu dalam menggubah lagu dan musik, bernyanyi dan bermain alat musik, dan dapat menghargai semua jenis musik, serta memiliki kepekaan yang kuat akan keserasian dan kesadaran universal tentang berbagai pola kehidupan.

Jika saya perhatikan, Kenan memiliki kecerdasan musik yang luar biasa. Kenan suka bernyanyi, suka bersenandung, dan suka mendengarkan musik. Saya tidak heran dengan kecerdasan yang dimiliki Kenan, karena saya merasa kecerdasan musik yang dimiliki Kenan diturunkan dari bapak saya dan dari ayah Kenan. Bapak saya dulu senang sekali menyanyi lagu-lagu bertema kebangsaan, dan Kenan kini menyukai lagu seperti Indonesia Raya dan Hari Merdeka. Bahkan ketika Kenan mendengar lagu Indonesia Raya, Kenan langsung aksi menjadi dirigen.

Saat ini Kenan sudah bisa menyanyikan lebih dari 10 lagu anak-anak, seperti:
- Bintang Kecil
- Pelangi
- Ambilkan Bulan Bu
- Bangun Tidur
- Balonku
- Hujan
- Boneka Baru
- Becak
- Delman
- Burung Kaka Tua

Kepekaan Kenan pada musik juga terlihat pada kebiasaannya mengubah lirik sebuah lagu. Misalnya:  abang tukang bakso, digantinya menjadi abang tukang bubur. Kenan juga suka sekali bersenandung sendiri dengan penuh keceriaan.

Lagu anak-anak yang saat ini bisa dinyanyikan Kenan, bukanlah lagu hafalan. Lagu-lagu itu selalu saya nyanyikan untuk Kenan setiap saat, saat bermain, saat sebelum tidur, dan dimanapun serta kapanmu. Kebiasaan menyanyikan lagu itu rupanya terekam oleh Kenan sehingga sekarang mampu menyanyikan lagu dengan benar.

Kesenangan Kenan pada lagu berdampak pada kesukaannya memainkan alat musik. Belum lama ini, saya membelikan Kenan gitar kecil, dan dengan gaya sok bisa, Kenan beraksi memainkan gitar dan menyuruh saya menyanyi.

Kesimpulan saya, kecerdasan musikal bisa dilatih atau dirangsang sejak dini. Caranya dengan mendekatkan anak kita pada alat musik hingga anak terbiasa dengan suara alat musik. Kemudian biasakan juga mengajak anak mendengarkan berbagai lagu yang dinyanyikan atau melalui rekaman video.

#day12 #septembercerita #momwriter #writingchallenge #kecerdasanmusikal #kecerdasanmoral #kecerdasanmajemuk

Kenan sedang bergitar, bak satria bergitar aja nih...

Monday, 11 September 2017

Day11 Bercerita

Kenan sudah pandai bercerita. Apa yang dilihatnya kemarin dia ceritakan dengan lancar, walau ada salah-salah pengucapan dan salah yang dimaksud. Jadi kemarin itu, ceritanya Kenan dan Bunda serta Uti (Nenek Kenan/Mama saya), pergi ke Indonesia International Book Fair di JCC Senayan.

Tujuan Bunda ke book fair adalah untuk mengantarkan photobooth membumi yang akan digunakan besok sekaligus mengajak Kenan ke pameran buku. Nah, ketika turun dari bus Transjakarta, photobooth itu ketinggalan untungnya bus belum melaju kencang jadi masih bisa dihentikan. Selamatlah photobooth itu, tidak jadi ketinggalan.

Kembali ke masalah bercerita, Kenan sudah pintar bercerita. Karena pintar bercerita, maka dia semakin banyak bertanya dan saya harus menyiapkan 1000 jawaban yang memuaskan. Mendengarkan cerita Kenan itu membuat saya takjub luar biasa.

Kenan dengan semangatnya bercerita.

Anak-anak tetangga seusia dia, bahkan lebih tua darinya, bicara saja belum lancar apalagi bercerita. Setiap kali pulang bermain dari rumah tetangga, Mama saya (Uti Kenan), begitu bangganya menceritakan jika kemampuan bicara Kenan melebihi anak-anak yang berusia di atas Kenan.
Dengan bangganya saja menjawab, "Pasti berbeda perkembangan bicara Kenan dengan anak lain karena Kenan terbiasa mendengar banyak sekali percakapan dalam cerita yang dibacakan untuknya."

Membacakan buku adalah kegiatan yang merangsang kecerdasan bahasa Kenan. Saya membacakan buku untuk Kenan bukan baru-baru ini. Saya membacakan buku sejak Kenan masih saya kandung. Apa iya, membacakan buku untuk anak ketika masih dalam kandungan bermanfaat untuk merangsang kecerdasan anak? Jawaban tentang manfaat membacakan buku, akan saya bahan ditopik tulisan selanjutnya.

Membacakan buku untuk anak, bisa merangsang kemampuan berbahasa anak. - Paskalina Askalin

#day11 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #membacakanbuku #membacacerita #bukuanak

Sunday, 10 September 2017

Day10 Kenan Mau Setrika, Boleh?

Apa yang Anda lakukan saat anak memaksa ingin menyetrika baju ketika Anda sedang menyetrika baju? Pastilah Anda akan menyuruh anak pergi menjauh karena takut anak terkena setrika yang panas. Itu pun saya lakukan hari ini. Saya beradu argumen dengan Kenan (2,8 tahun) karena ingin menyetrika baju. Saya dengan keras melarang Kenan mendekat. Tetapi yang terjadi Kenan malah memaksa terua mendekat. Akhirnya, Kenan diajak pergi oleh Uti-nya, dan saya melanjutkan setrika baju.

Orangtua dengan keukeuh mengatakan setrika panas berbahaya, sedang anak keukeuh ingin mencoba setrika. Apa yang saya lakukan sudah benar?

Anak meniru apa yang dilakukan orang di sekitarnya. Anak seusia Kenan belum paham jika setrika itu bisa melukainya jika tidak hati-hati menggunakannya. Setelah saya pikirkan lagi, yang saya lakukan kurang tepat. Cara saya beradu argumen dengannya, seharusnya tidak terjadi.

Akhirnya, Kenan mencoba menyetrika bajunya sendiri, tetapi tentu dengan tanpa dicolok pada sambungan listrik. Kenan senang sekali bisa menyetrika bajunya.

Kenan sedang asyik menyetrika (tanpa disambungkan listrik).
Renungan saya:Orangtua seperti saya, terlalu cepat melarang anak melakukan ini dan itu, saya cepat marah pada anak saya karena keingintahuan anak saya pada banyak hal yang dilihatnya. Keingintahuan anak kadang menyerempet pada sikap seakan-akan anak mengganggu kita, padahal anak hanya ingin tahu. Orangtua harus lebih sabar dan cerdas memberikan pemahaman pada anak.Kejadian seperti di atas, bisa terjadi dalam berbagai aktivitas. Rasa keingintahuan anak, membuat anak seperti nakal yang suka mengganggu. Padahal sikap anak ini menunjukkan kepeduliannya pada orang dan lingkungan sekitarnya.

Di usia Kenan saat ini, 2,8 tahun, Kenan selalu ingin dilibatkan dalam berbagai hal yang dilakukan, karenanya sebisa mungkin saya dan semua anggota keluarga melibatkan Kenan. Ketika saya membuatkan susu, Kenan membantu menuangkan air. Ketika ayah mencuci motor, Kenan ikut mencuci motor. Ketika Bunda mau membuang sampah, Kenan membantu membawakan sekantong sampah. Dan, masih banyak lagi kegiatan di rumah yang ikut melibatkan Kenan.

Tidak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orangtua yang baik. Orangtua harus belajar terus bersamaan dengan bertumbuhnya anak menjadi dewasa dan tiba waktunya menjadi orangtua. -Paskalina Askalin


#day10 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #goldenage #anakusiadini #orangtuabijak

Saturday, 9 September 2017

Day9 Bus Transjakarta dan Senayan


Bus Transjakarta dan Senayan adalah dua hal yang dipelajari Kenan hari ini. Kenan dan Bunda naik bus TransJakarta ke Senayan untuk melihat pameran buku sekaligus mengantar photo booth untuk pameran Komunitas Membumi.

Beberapa hari sebelumnya Bunda sudah menjanjikan untuk pergi ke Senayan dengan bus Transjakarta dan apa yang terjadi, Kenan sudah bercerita kemana-mana kalau dia akan pergi ke Senayan dengan bus Transjakarta. Kenan begitu bersemangat menyambut sesuatu yang baru.

Bus Transjakarta indentik sekali dengan ibu kota Jakarta, sehingga kurang lengkap rasanya jika ke Jakarta tidak naik bus Transjakarta. Demikian pula dengan Senayan, yang merupakan ikon Jakarta, pasti akan sangat disayangkan jika tidak dikunjungi ketika berada di Jakarta.

Saya sebenarnya bukan seorang traveller, tetapi jika ada kesempatan saya akan memperkenalkan tempat-tempat terbaik yang ada di Jakarta pada Kenan. Monas dan Kota Tua adalah dua destinasi wisata yang harus saya perkenalkan pada Kenan. Dua tempat itu mempunyai nilai historis yang tinggi dan tentunya akan memberikan nilai edukasi yang baik untuk Kenan.

Asyiknya Naik Transjakarta
Naik bus Transjakarta bisa menjadi pilihan wisata untuk Keluarga. Dengan ongkos Rp 3.500,- kita bisa keliling Jakarta sepuasnya atau bisa ke tempat wisata di Jakarta. Ancol, Kebun Binatang Ragunan, Monas, dan Kota Tua bisa dijangkau dengan menggunakan bus Transjakarta.

Ketika untuk pertama kalinya Kenan baik bus TransJakarta, Kenan begitu menikmatinya, hingga rasa kantuk diindahkannya. Awalnya Kenan memang kelihatan tegang, tetapi lama-kelamaan Kenan bisa rileks juga.

Liburan bermakna buat keluarga bukan tempat yang jauh atau ongkos yang mahal. Liburan paling bermakna adalah kebersamaan bersama keluarga. - Paskalina Askalin

#day9 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #liburankeluarga #transjakarta #busway #liburankeluarga

Friday, 8 September 2017

Day8 Apa yang Dilihat, Dilakukannya


Sering sekali Kenan melihat ayahnya sibuk dengan lembaran kertas berisi lagu-lagu rohani. Kebiasaan ayahnya berlatih menyanyi itu terekam jelas dalam ingat Kenan. Hari ini Kenan bergaya menyanyikan sebuah lagu, bersenandung sambil memegang lembaran kertas.

Dalam hal musik dan lagu, Kenan tidak serta-merta langsung menirukan apa yang dilihatnya sehingga kadang saya harus menerka-nerka apa maksud tindakan Kenan. Seperti video di bawah ini. Kenan sedang bersenandung sambil memegang lembaran kertas. Apa yang dilakukannya itu pernah dilakukan ayahnya beberapa waktu lalu.



Lagu-lagu anak yang sering saya nyanyikan pun tidak langsung ditirunya. Beberapa hari bahkan beberapa kemudian, Kenan menyanyikan sendiri lagunya tanpa bantuan. Bahkan Kenan sering melarang saya ikut-ikutan bernyanyi.

Kenan memiliki kecerdasan dalam hal musik (kecerdasan musikal), itu juga yang sering kali saya temukan. Kenan begitu tertarik mendengarkan lagu-lagu, Kenan juga suka beraksi seperti seorang dirigen. Saya sering terkagum-kagum melihat aksinya. Saya tidak paham notasi lagu, tetapi Kenan seperti sudah paham notasi lagu. Semoga kelak, Kenan bisa menjadi seorang komposer andal. Amin


#day8 #septembercerita #momwriting #writingchalleng #30harimenulis #kecerdasanmusikal

Thursday, 7 September 2017

Day7 Mulai dari Main Masak-masakan Sampai Main Bengkel-bengkelan

Bermain masak-masakan itu identik dengan permainan anak perempuan. Tetapi bagi saya, permainan apapun bisa dimainkan oleh anak-anak, baik itu anak perempuan maupun anak laki-laki.
Benda-benda mainan yang dimainkan anak-anak, biasanya merupakan duplikat dari benda yang digunakan oleh orang dewasa dalam pekerjaannya, baik itu pekerjaan domestik maupun pekerjaan profesional. Contoh mainannya, yaitu:
- seperangkat alat masak (kompor, wajan, teko, gelas, piring, sendok, dll)
- keranjang belanja dan isinya (sayur, buah, dll)
- alat elektronik (setrika, blender, kipas angin, microwave, rise cooker, dll)
- perkakas (palu, tang, obeng, kunci inggris, gergaji, dll)
- perlengkapan dokter (stetoskop, tensimeter, dll)
- mobil-mobil kontruksi, dan sebagainya.
Budaya masyarakat kita membiasakan benda mainan anak diberikan sesuai dengan jenis kelamin. Bisa saya katakan, masyarakat kita masih belum responsif gender, mainan anak perempuan dibedakan dengan mainan anak laki-laki.
Padahal kita semua tahu faktanya bahwa saat ini, profesi itu tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin, perempuan ada yang bekerja sebagai montir, anak laki-laki ada yang bekerja sebagai koki. Bahkan pekerjaan domestik seperti menyetrika baju juga bisa dilakukan oleh laki-laki, dan mobil kontruksi bisa dikemudikan oleh perempuan.
Saat ini usia anak saya, Kenan, 28 bulan, mainan yang saya beli bermacam-macam, ada mainan yang biasa dimainkan anak laki-laki dan anak perempuan.
Tidak mudah sebenarnya membudayakan reponsif gender pada keluarga, terutama dalam hal mainan. Apalagi jika mendengar komentar nyinyir para tetangga. Contohnya seperti ketika Kenan membeli mainan troli (keranjang belanja) yang berisi peralatan masak, buah, dan sayur.
Kenan begitu bersemangat memamerkan mainan barunya, di dorong ke sana ke mari. Tetangga yang melihat ada yang komentar, "Cowok kok beli mainan gitu."
Dijawab serius pasti mereka tidak paham, jadi dijawab santai aja, "Kenan kan mau jadi koki alias chef."
Bagi saya, mainan anak laki-laki dan mainan anak perempuan, bebas dimainkan oleh anak saya. Namun, saya harus tetap menjaga batasannya. Dalam satu waktu, Kenan bisa bermain masak-masakan, dan secara bersamaan main bengkel-bengkelan alias montir. Jadi buat apa menjadi masalah, ini mainan anak perempuan atau anak laki-laki, yang penting proses belajar anak terus harus didampingi, jadi orangtua bisa mengetahui sejauh mana pemahaman anak tentang benda-benda yang dimainkannya.
#day7 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #responsifgender #biasgender #mainananak #permainananak #mainanedukasi

Wednesday, 6 September 2017

Day6 Bermain Sesuka Hati


Saya sepakat jika anak usia prasekolah tidak dibebani oleh harus bisa baca, tulis, dan hitung. Tetapi bukan berarti saya tidak mengenalkan angka dan huruf pada anak saya.
Kenan bisa menyebutkan angka dan menyanyikan lagu ABCD. Hal itu terjadi secara alamiah tanpa dipaksa. Yang paling utama saat ini bagi Kenan adalah bermain dengan sesuka hatinya. Tugas saya mengawasi setiap gerak langkahnya, dan mengingatkannya ketika melakukan yang salah, serta mencegah terjadi hal membahayakan padanya.
Setiap hari, ada banyak permainan dan aktivitas yang dilakukan Kenan. Seperti hari ini misalnya, Kenan bermain mobil molen, bermain pasir, dan bermain buku, serta masih ada beberapa permainan lainnya. Kenan senang memainkan banyak hal. Ketika diberi mainan baru, Kenan bersemangat untuk memainkannya terus-menerus.
Sambil bermain anak bisa sekaligus mempelajari banyak hal. Orangtua yang mendampingi anak setiap saat harus menjadi kakak, guru, teman, dan superhero yang siap berkreasi mengimbangi daya imajinasi anak.

Pekerjaan anak-anak  adalah bermain, jadi tidak perlu mentargetnya apa-apa pada mereka. Biarlah mereka bermain sesuka hatinya, namun dalam pengawasan kita. - Paskalina Askalin

#day6 #septemberbercerita #writingchalenge #kenanstories #ceritabunda #idebuku #membacakanbuku #bacabuku #bukuanak #bermain #mainanedukatif

Tuesday, 5 September 2017

Day5 Kebiasaan Membacakan Buku


Saya berusaha konsisten setiap hari membacakan buku untuk Kenan. Walau dengan bertambahnya usia, Kenan sudah bisa memilih kegiatan atau mainan apa yang disukainya, saya berusaha untuk menjadi buku sebagai salah satu kegiatan yang menyenangkan.
Era digital semakin mengikis habis kebiasaan membacakan buku yang dilakukan oleh orangtua. Kadangkala, orangtua sudah sangat lelah dengan pekerjaannya sehingga abai pada kegiatan membaca ini.
Saya merasa beruntung, saat ini aktivitas saya selalu di rumah, sehingga kegiatan membacakan buku bisa saya sisipkan kapan saja. Di sela-sela bermain, sebelum tidur siang, sore-sore, dan sebelum tidur malam bisa saya bacakan cerita.
Tidak jarang pula, Kenan bisa menolak ajakan membacakan buku yang saya tawarkan. Tetapi seiring berjalannya waktu, Kenan mempunyai buku yang disukai, dan banyak cerita-cerita yang diingatnya sehingga mampu dia ceritakan ulang.
Membacakan buku untuk Kenan sudah saya lakukan sejak lama, bahkan sebelum Kenan dilahirkan. Kegiatan ini ternyata bisa memberi dampak besar bagi kecerdasannya. Kini saya tahu dan paham, serta akan selalu membiasakan membacakan buku yang menyenangkan untuk Kenan, karena manfaatnya sangat luar biasa.

Membacakan buku untuk anak bisa melatih imajinasi, memperkaya kosa kata, dan merangsang kecerdasan otak anak - Paskalina Askalin

#day5 #septemberbercerita #writingchallenge #kenanstories #ceritabunda #idebuku #membacakanbuku #bacabuku #bukuanak

Monday, 4 September 2017

Day4 1 2 3 4 5 Kenan Mengenal Angka

Saya berharap, saya tidak termasuk orangtua yang memaksa anak supaya bisa berhitung di usia prasekolah. Saya juga tidak ingin mengikutsertakan anak saya untuk ikut les baca, les berhitung, diusianya yang masih tepat jika diisi oleh aktivitas bermain dan bermain.

Anak saya, Kenan, saat ini sudah mengenal angka 1 sampai 5, kadang bisa sampai 10 juga, tetapi itu pun masih sering salah menyebutkan. Tetapi bukan masalah bagi saya. Ketika dia salah menyebut angka yang ditunjukkan, tidaklah masalah. Saya tidak perlu memaksanya untuk menghafal ini 1, ini 2, ini 3, dan seterusnya. Saya membiarkannya mengenal sendiri melalui kegiatan bermain yang disukainya.

Setiap Kenan bermain dengan mainannya, saya selalu memasukkan tentang unsur angka dalam permainannya. Misalnya ketika Kenan sedang menyusun mobil-mobilannya, saya akan menanyakan ada berapa jumlah mobilnya. Ketika Kenan bermain boneka hewan, saya menanyakan berapa jumlah kaki jerapah. Sambil bermain Kenan bisa mengenal angka tanpa harus dipaksa untuk menghafalnya.



Hari ini saya menempelkan tulisan angka 1 sampai 5 di dinding. Kadang-kadang di sela-sela sedang bermain, saya mengajaknya bermain dengan angka-angka yang ada di dinding itu. Misalnya, saya memberi instruksi seperti ini: Bunda berdiri di angka 1, ayo Kenan berdiri di angka 5. Kadang Kenan mengikuti instruksi, kadang malas-malasan, sehingga tidak mempedulikan instruksi saya. Ya sudah, saya tidak perlu memaksakan kehendak saya. 

Jadi, saya rasa, orangtua tidak perlu memaksakan anak untuk ikut les calistung. Karena di rumah anak bisa belajar dengan sendirinya, asalkan orangtua mau mendampinginya. – Paskalina Askalin


#day4 #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories #belajarangka #calistung

Sunday, 3 September 2017

Day3 Bantu Ayah Menyapu

"Hari ini aku bantu ayah menyapu halaman," kata Kenan.

Bagi mereka yang tinggal di apartemen (mungkin, menurut saya) sulit untuk mengenalkan pada anak usia dini tentang menyapu halaman. Saya bersyukur masih berada di lingkungan yang dekat pohon-pohon sehingga ada banyak daun berjatuhan di bawah pohon. Jadinya, kegiatan menyapu halaman menjadi kegiatan rutin yang selalu dilihat oleh Kenan.

Pagi ini ayah di rumah. Ayah berniat menyapu halaman dari daun-daun kering yang jatuh dari pohon nangka di depan rumah. Pohon nangka itu punya tetangga, tetapi daun-daunnya sesuka hati jatuh di halaman banyak orang.



Ketika melihat ayahnya pegang sapu, Kenan langsung mendahului dan berseru, "Kenan yang sapu, Yah." Jadilah Kenan yang menyapu dan ayah membersihkan daun kering dengan alat seadanya.
Ketika pagi-pagi, mendengar suara Uti-nya (Nenek), Kenan akan langsung beranjak dari tempat tidur dan membantu menyapu. Walau kadang, antara membantu dan mengganggu Uti-nya beda tipis J
Kini, tanpa disuruh pun Kenan sudah pasti ikut menyapu halaman ketika Uti atau Ayahnya menyapu halaman. Dengan melihat setiap hari kegiatan yang dilakukan di rumah, secara langsung Kenan meniru apa pun yang dilakukan.

Jadi, akan menjadi bahaya jika anak melihat kebiasaan jelek yang dilakukan oleh orangtuanya. Untuk kebiasaan baik, seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak, membereskan tempat tidur, itu bukanlah jadi persoalan. Anak laki-laki dan anak perempuan, sama-sama perlu mengenal semua kebiasaan atau pekerjaan rumah seperti itu. Untuk  kebiasaan jelek yang sering dilakukan orang dewasa, itu hanya harus menjadi perhatian. Sebaiknya, anak tidak melihat perbuatan, atau mendengar perkataan yang tidak baik, karena anak akan dengan mudah menirunya.

Saya pribadi, dan seluruh anggota keluarga di rumah, seringkali menunjukkan sikap marah, berteriak, menyumpah serapah ketika ada di dekat Kenan. Saya sadar betul, itu harus saya ubah segera, sebelum semuanya terlambat.

Perlihatkanlah kebiasaan baik di hadapan anak-anakmu. Sembunyikan kebiasaan jelekmu, hingga baunya pun tidak akan tercium oleh anakmu – Paskalina Askalin

#day3 #pedulilingkungan #septemberbercerita #writingchallenge #momwriting #kenanstories

Saturday, 2 September 2017

Day2 Hari Bersama Ayah

Hari Sabtu merupakan hari yang selalu ditunggu oleh Kenan. Saya tahu itu walaupun Kenan tidak mengatakan pada saya, tetapi melihat aksinya membuat saya tahu, bahwa Kenan senang jika hari Sabtu tiba dan ada ayah di rumah. Di hari Sabtu Kenan bisa bermain bersama ayah seharian.
Saya di rumah setiap waktu, jadi ketika ayah ada di rumah Kenan pasti akan "kinthil" ayahnya terus.
Ayah bekerja, dan bundanya selalu di rumah, ini merupakan situasi ideal yang biasa terjadi dalam keluarga. Bagi Kenan, dan mungkin bagi anak-anak lain seusianya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang luar biasa menyenangkan, walau hanya sekadar melakukan aktivitas bersama. Ayah seharian bekerja, kadang pagi hari ketika Kenan bangun, ayah sudah berangkat. Jadinya hari libur atau weekend adalah hal yang amat ditunggu oleh Kenan.
Setiap ayah dan anak, punya kegiatan bersama yang disukainya. Kenan suka melakukan apapun bersama ayah, ketika ayah di rumah. Kenan nonton tv sama ayah, mandi sama ayah, makan sama ayah, tidur sama ayah, disuapi sama ayah. Lalu bundanya kemana? Bundanya istirahat sejenak.
Hari Sabtu ini Kenan menghabiskan banyak waktu bersama ayah. Dari pagi hingga siang Kenan nempel terus sama ayah, hingga mereka lelah bersama. Di foto yang bawah, Kenan tiduran bersama ayah.
Hari sebelumnya, Jumat, Kenan senang sekali karena ayah ada di rumah. Hari itu tanggal merah, hari iduladha, Kenan dan ayah menghabiskan waktu dengan bermain masak-masakan.
Ayah, ayo luangkan waktumu untuk sang buah hati!
#day2
#septemberbercerita
#writingchallenge
#momwriting
#kenanstories

Friday, 1 September 2017

Day1 Me Time dan We Time

ME TIME DAN WE TIME

Me time saya adalah ketika anak lanang sudah bobo ganteng di siang hari atau malam hari. Ketika itu saya akan menulis, buka-buka laptop, baca buku, atau baca majalah anak-anak.
Tetapi, saat ini saya lebih suka dengan menghabiskan waktu bersama alias we time. We time saya dengan anak lanang dan ayahnya atau saya dengan anak lanang. Saat weekend tiba, saya berusaha mencari kegiatan yang bisa dilakukan bersama, atau pergi ke suatu tempat bersama-sama.



Seperti hari ini, setelah melihat dan mendengar keriuhan mereka yang merayakan Iduladha, kami pergi ke resto cepat saji beli dua burger, kentang goreng, dan es krim. Anak lanang menikmati es krim hingga ludes, dan dilanjutkan main perosotan yang disediakan resto tersebut. Kenan suka dan betah ini me time-nya bagi Kenan. Saya dan ayahnya memandangi dengan senyum-senyum aja.
Membiarkan kenan main sepuasnya seperti membebaskannya melakukan apa yang diinginkan. Namun, akhirnya berujung pada Kenan tidak mau pulang.

Me time atau we time dalam keluarga yang utama ada melakukan sesuatu yang menyenangkan. Me time bagi anak kita pastilah kebersamaan dengan kedua orang tuanya. We time bagi orangtua adalah bisa menemani anak melakukan hal yang disukai anak.


#day1
#septemberbercerita
#writingchallenge
#momwriting
#kenanstories

Buku Baru: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD

Judul: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD Penulis: Paskalina Askalin Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: Mei, 2019 Tebal: 10...