Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Perjalanan Sebuah Buku

Tulisan ini 100% mengandungcurhat Sebuah buku memiliki kisahnya masing-masing. Seperti buku saya yang satu ini, kisahnya cukup panjang dan lama. Saya sangat sabar menantikan kelahiran buku ini. Walau sebenarnya kesabaran saya sudah mulai rapuh.
Ide awal pembuatan buku ini adalah mengenalkan beberapa tari Nusantara kepada anak-anak sejak dini melalui aktivitas mewarnai. Anak-anak menyukai aktivitas mewarnai dan harapan anak-anak bisa memahami tari Nusantara, paling minimal anak-anak memahami.
Saya mengajukan buku ini ke penerbit dan diterima. Namun, kemudian Sang Editor meminta saya untuk melengkapi naskah itu menjadi 34 jenis tari Nusantara. Itu artinya saya harus menambah naskah itu sehingga buku ini berisi 34 tari dari 34 provinsi di Indonesia. Menurut saya ide Sang Editor sangat bagus sehingga akhirnya saya merevisi buku itu menjadi 34 tari Nusantara. Revisi penambahan naskah berjalan lancar, demikian pula ilustrasinya. Dalam waktu dua bulan, naskah revisi sudah saya kirimkan pada …

Bukan Sekadar Pesta Ulang Tahun

Saya bertanya pada diri saya sendiri, ketika anak usia tiga tahun merayakan ulang tahunnya, apakah ini kesenangan anaknya atau keinginan ibunya.

Melihatnya senang, bahagia, saya merasa tidak ada salahnya merayakan ulang tahun Kenan yang ke-3. Pesta ini bukan hanya keinginan saya sebagai ibunya, ini keinginan Kenan juga.
Apakah nanti di usianya ke-4 akan dirayakan juga. Pasti saya jawab TIDAK. Di usia nanti, dia akan lebih paham, bukan pesta yang terpenting, tetapi berbagi dan nilai-nilai luhur lainnya yang akan dia pahami sedikit demi sedikit.
Ada dua hal unik ketika pesta ulang tahun Kenan, kemarin. Pertama, Kenan tidak mau duduk di kursi di depan yang sudah disediakan untuknya. Ini adalah pestanya, jadi Kenan menjadi raja dalam pesta ulang tahunnya. Tetapi, Kenan memilih duduk di antara teman-temannya.
Bagi saya ini adalah sebuah nilai kebersamaan tanpa batas. Semua sama, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang direndahkan. Harapan saya, kelak Kenan akan memupuk nilai ini l…

Bolehkah Anak Usia 3 Tahun Belajar Calistung?

Dulu, dulu sekali, saya belajar membaca, menulis, dan berhitung di kelas 1 SD. Nah sekarang, anak-anak belum masuk SD sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Bapak dan Ibu Guru yang mengajar kelas 1 SD tidak perlu bersusah payah mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Eit.. tunggu dulu, faktanya tidak semua anak masuk SD itu sudah bisa membaca dan menulis. Kenapa begitu ya, apakah di taman kanak-kanak tidak diajari membaca, menulis, dan berhitung?
Tentang membaca, menulis, dan berhitung yang diajarkan di taman kanak-kanak, ini masih menjadi sebuah perdebatan yang tidak kelihatan. Walaupun kadang-kadang muncul menjadi viral di media sosial, tetapi lalu lenyap ditelan bumi. (Baca tulisan saya ini)
Jadi sebenarnya, boleh tidak sih mengajarkan calistung (baca membaca, menulis, dan berhitung) pada anak usia dini, usia 3 tahun misalnya? Boleh-boleh saja (menurut saya). Sejak seorang anak lahir (bahkan ketika masih dalam kandungan) anak sudah bersinggungan dengan membaca, menulis, …

Kembali ke Masa Lalu: Teman-teman SMP

Siang ini saya dikejutkan dengan japri seorang teman di masa lalu. Tidak tanggung-tanggung, karena teman itu saya harus mengumpulkan ingatan demi ingatan 24 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bernama Bojonegoro. Dia seorang teman dari masa SMP. Jujur, saya lupa tentang dia, apa dia dulu sekelas dengan saya, atau satu angkatan. Saya benar-benar lupa. Jadilah hari ini muncul sebuah WAG baru, teman-teman satu angkatan SMPN 2 Bojonegoro. Zaman memang telah berubah, teman dan sahabat yang lama sekali tidak bertemu akhirnya bisa bertegur sapa. Saya senang sekali akhirnya bisa bertegur sapa dengan salah satu sahabat saya waktu SMP, kami sekelas, sering pulang bareng, dan saya sering main ke rumahnya. Dia kini tinggal di Malang. Ketika menemukan sahabat lama itu, rasanya seperti menemukan permata yang hilang, mengharukan. Jika bisa bertemu, mungkin akan sangat membahagiakan. Semoga saya bisa terhubung dengan sahabat saya lainnya, yang belum diketahui rimbanya.SMPN 2 Bojonego…

Viral, Tulisan Seorang Dokter yang Menyebut PAUD itu Bukan Pendidikan...

Saya tidak ingin membahas tentang tulisan dokter itu. Saya hanya ingin cerita tentang dilema yang saya alami. Dilema itu seakan muncul lagi karena tulisan dokter itu.
Saya pernah menulis ini di catatan saya sebelumnya: Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari. "Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum. Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah. (Lengkapnya di sini)
Tentang sekolah Paud ini sebagai seorang ibu, saya sebenarnya agak galau, antara memasukkan Kenan ke Paud atau tid…

Kenapa Saya Menulis Buku ini?

Alasan pertama saya menulis buku ini adalah karena editor penerbit menyarankan membuat buku ini, jadi saya mencoba membuat proposal naskahnya, lalu di ACC, dan saya tulis. Sesederhana itulah alasannya. Namun jika dirunut lebih ke dalam buku ini punya sesuatu yang lain bagi saya, penulisnya.
Buku ini kerja sama pertama saya dengan penerbit Elex Media Komputindo. Pertemuan saya dengan Editor Penerbit Elex tidak ujug-ujug. Bulan April 2017 saya mengikuti acara "Ngopi Seru" yang diselenggarakan Komunitas Penulis Bacaan Anak bersama Editor Elex Media. Acara berlangsung di Gedung Kompas Gramedia, Bandung. 
Sebelum acara berlangsung, saya dan penulis lainnya sudah mengajukan proposal naskah. Bagi proposal naskah yang sudah diterima bisa langsung memproses naskahnya dan bekerja sama dengan ilustrator. Nah, proposal naskah saya tidak diterima, jadi Editor memberikan usulan tema lain untuk saya tulis. Salah satu tema yang diajukan adalah buku aktivitas persiapan masuk SD.

Ada beberap…

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

Pengalaman saya sebagai seorang ibu…. Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.
Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.
Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.
Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya me…

10 Kebaikan yang Bisa Kita Lakukan pada Orang Lain Setiap Hari

Berbuat kebaikan bisa kita lakukan dengan mudah, tanpa harus bersusah payah. Yang menjadikan kita sulit berbuat kebaikan adalah gengsi kita. Gengsi bisa membuat kita takut direndahkan. Padahal dengan kita merendahkan diri, tidak akan menurunkan derajat kita di hadapan Tuhan.
10 kebaikan yang bisa kita lakukan pada orang lain setiap hari.1. TersenyumUntuk memberikan senyum, kita tak perlu mengeluarkan tenaga, apalagi uang. Jadi, berikan senyummu sebanyak-banyaknya pada orang-orang di sekitarmu.2. MemaafkanMemaafkan itu akan melegakan hati kita, sekaligus membuat orang yang kita maafkan senang. Harga diri kita tidak akan jadi rendah, hanya karena memberi maaf pada orang lain.3. MembantuOrang lain akan menjadi senang ketika menerima bantuan. Oleh karenanya kita telah melakukan kebaikan untuk orang lain. Walaupun kadang kita menemukan orang yang gengsi atau malu menerima bantuan dari kita, tak perlu kita risaukan. Yang penting, kita secara tulus mau membantu orang lain.4. MenolongBanyak p…

Cerita Berima untuk Anak

Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan (KBBI Luring).
Ada banyak buku anak yang memanfaatkan rima akhir untuk membuat cerita anak. Anak-anak memang lebih mudah mencerna kata berima.

Anak saya, Kenan 3 tahun, sering menyahut ketika mendengar suatu kata dan menghubungkannya dengan kata lain yang mempunyai bunyi akhir sama.
Misalnya, saya mengatakan pada Kenan, Kenan duduknya yang sopan. Jawab Kenan, iya, kalau yang di Bojonegoro itu Om Topan. Kenan menghubungkan kata sopandengan topan.

Kata lainnya yang menarik bagi Kenan adalah kutipan kalimat dalam buku Si Kumbi.

Bukan kami tak ingin berbagi
Perbuatanmu itu tidak terpuji

Kenan jadi tahu kata TIDAK TERPUJI. Kenan juga paham artinya jika mencuri itu perbuatan tidak terpuji. Kata kumbi, terpuji, berbagi, mencuri, dan sebagainya diakhiri bunyi "i" yang mudah dipahami oleh anak.

Semalam, tiba-tiba saya ingin menulis cerita mini berima. Ini dia hasilnya, …

Buku Sahabat: Peluncuran dan Bedah Buku Embara Embun Mimpi

tepian sawah
mewah kau duduk makan
mengusir padi

bangau tunggui
petani bajak sawah
mencari makan

(Dua haiku dalam buku Embara Embun Mimpi)
Saya sungguh turut berbahagia untuk dua sahabat saya, Ira Diana dan Dwi Guna, untuk peluncuran buku terbaru mereka berjudul Embara Embun Mimpi. Buku ini ada sebuah buku haiku yang unik karena semua ilustrasinya adalah lukisan. Dimana kebanyakan buku haiku menggunakan ilustrasi foto.

Ira dan Guna pertama kali bertemu sejak 2013 ketika mereka menjadi jawara dalam sayembara buku yang diadakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Ira menulis buku naskah drama dan Guna menulis buku biografi. Sementara, saya mengenal dekat mereka ketika buku kami menjadi buku terpilih dalam Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Gerakan Literasi Nasional 2017.

Ira dan Guna sudah malang-melintang cukup lama di dunia penulisan, buku ini entah buku ke berapa buat mereka. Nah, pertanyaan ini mungkin nanti bisa ditanyakan pada mereka ketika acara PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU EMBARA …

Belajar di Rumah: Mengenal Angka (1)

Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari. "Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan. "Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung. "Belum," jawab saya sambil tersenyum.
Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah.
Saya khawatir Kenan bosan bersekolah jika harus masuk sekolah diusia 3 tahun. Saya juga tidak ingin mengambil waktu bermainnya untuk dihabiskan di sekolah.
Saya selalu di rumah, jadi saya bisa menemani Kenan setiap saat. Saya bisa menjadi ibu sekaligus guru untuk Kenan. Apa yang diajarkan di sekolah bisa saya ajarkan di rumah. Saya juga tidak perlu m…

Bermain di Luar Rumah

Saya tertarik dengan ajakan sebuah iklan sabun, "Ayo bermain di luar."
Ajakan ini sangat positif dan patut diikuti oleh seluruh keluarga Indonesia. Di era gawai ini, anak-anak cenderung menyukai berlama-lama duduk dengan gawai-nya masing-masing. Anak-anak tidak banyak bergerak sebagaimana mestinya.
Orangtua memang tidak bisa melepaskan anak dari keberadaan gawai. Walaupun orangtua bersikeras menjauhkan anak dari gawai, anak tetap akan bersinggungan dengan gawai melalui lingkungan pergaulannya.
Ada hubungan erat antara bermain di luar dan gawai. Bermain di luar bisa membuat anak melupakan dari gawai.  Anak-anak menyukai aktivitas bergerak yang dilakukan di luar rumah. Namun, orangtua kadang malas menemani anak bermain di luar.
Anak saya, Kenan (3 tahun), sudah tertarik dengan gawai. Bagaimana tidak tertarik, kami orang dewasa, ayah, bunda, dan neneknya sering lupa pada situasi sehingga fokus pada gawainya masing-masing. Hal ini membuat Kenan pun ikut-ikutan memegang gawai. …

Tas Ransel Polos