Monday, 29 January 2018

Perjalanan Sebuah Buku

Tulisan ini 100% mengandung curhat
Sebuah buku memiliki kisahnya masing-masing. Seperti buku saya yang satu ini, kisahnya cukup panjang dan lama. Saya sangat sabar menantikan kelahiran buku ini. Walau sebenarnya kesabaran saya sudah mulai rapuh.

Ide awal pembuatan buku ini adalah mengenalkan beberapa tari Nusantara kepada anak-anak sejak dini melalui aktivitas mewarnai. Anak-anak menyukai aktivitas mewarnai dan harapan anak-anak bisa memahami tari Nusantara, paling minimal anak-anak memahami.

Saya mengajukan buku ini ke penerbit dan diterima. Namun, kemudian Sang Editor meminta saya untuk melengkapi naskah itu menjadi 34 jenis tari Nusantara. Itu artinya saya harus menambah naskah itu sehingga buku ini berisi 34 tari dari 34 provinsi di Indonesia. Menurut saya ide Sang Editor sangat bagus sehingga akhirnya saya merevisi buku itu menjadi 34 tari Nusantara.
Revisi penambahan naskah berjalan lancar, demikian pula ilustrasinya. Dalam waktu dua bulan, naskah revisi sudah saya kirimkan pada editor. Kemudian saya menunggu...menunggu...menunggu...

Tiga tahun berlalu...

Saya tidak bisa lagi bersabar untuk menunggu dan menunggu. Saya menelepon redaksi penerbitnya menanyakan status naskah saya yang sudah tanda tangan SPP. Akhirnya ada sebuah kepastian, salah satu editornya menghubungi saya, itu pun bukan editor buku anak. Sampai sekarang saya tidak bisa berkomunikasi langsung dengan editornya. 

Singkat cerita Mbak Editor mengirim pdf naskah 34 Jenis Tari Nusantara, dengan keterangan meminta persetujuan penulis. Hati saya sedikit senang, karena bisa komunikasi dengan editor walau hanya via email.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ingin bisa komunikasi via whatsapp atau minimal via sms dengan editornya. Ah tapi rasanya ini hanya mimpi hahahahaha

Sejak pengiriman PDF naskah untuk minta ACC, saya masih menunggu lagi, kurang lebih 8 bulan. Nah minggu lalu, saya mendapat pesan whatsapp dari seorang marketing penerbit yang memasarkan buku saya. Marketing itu menanyakan apakah saya mau membeli buku 34 Jenis Tari Nusantara. Saya terkejut senang sekaligus penuh tanda tanya. Saya belum tahu kalau buku itu sudah terbit dan dicetak.
Ketika akhirnya buku itu terbit, saya mengucapkan terima kasih kepada penerbit dan redaksinya. Saya minta maaf juga jika selama proses, saya begitu cerewet tanya-tanya terus tentang buku ini.

Judul : Buku Aktivitas Anak Mengenal 34 Jenis Tari Nusantara
Penulis : Paskalina Askalin
Ilustrator : Redi
Penerbit : Rainbow Andi Publisher
Harga : Rp 79.000
Pemesanan : wa 085695394235 atau langsung ke Andi Publisher 

Monday, 22 January 2018

Bukan Sekadar Pesta Ulang Tahun

Saya bertanya pada diri saya sendiri, ketika anak usia tiga tahun merayakan ulang tahunnya, apakah ini kesenangan anaknya atau keinginan ibunya.


Melihatnya senang, bahagia, saya merasa tidak ada salahnya merayakan ulang tahun Kenan yang ke-3. Pesta ini bukan hanya keinginan saya sebagai ibunya, ini keinginan Kenan juga.

Apakah nanti di usianya ke-4 akan dirayakan juga. Pasti saya jawab TIDAK. Di usia nanti, dia akan lebih paham, bukan pesta yang terpenting, tetapi berbagi dan nilai-nilai luhur lainnya yang akan dia pahami sedikit demi sedikit.

Ada dua hal unik ketika pesta ulang tahun Kenan, kemarin. Pertama, Kenan tidak mau duduk di kursi di depan yang sudah disediakan untuknya. Ini adalah pestanya, jadi Kenan menjadi raja dalam pesta ulang tahunnya. Tetapi, Kenan memilih duduk di antara teman-temannya.

Bagi saya ini adalah sebuah nilai kebersamaan tanpa batas. Semua sama, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang direndahkan. Harapan saya, kelak Kenan akan memupuk nilai ini lebih tajam sehingga dia menjadi anak yanh sederhana, santun, dan tidak membeda-bedakan.
Kedua, ketika Kenan usai memotong kue ulang tahunnya suatu peristiwa terjadi. Semua bertanya pada Kenan mau diberikan pada siapa potongan kue pertamanya. Dengan yakin Kenan menjawab, "Untuk teman-teman."


Di kanan kirinya berbisik, "Kasih ke Bunda, kasih ke Ayah, Ken."  Kenan tak bergeming, dia berikan kue potongan pertama pada salah satu teman dan semua yang datang dapat potongan kue ulang tahunnya.

Dalam hati saya bangga, Kenan sudah belajar namanya berbagi. Kenan tidak berikan potongan kue pertama untuk orang terdekatnya. Kenan tahu, pesta ulang tahun ini untuknya, jadi saatnya bagi dia untuk berbagi dengan orang lain. Pesta ulang tahunnya bukan untuk kebahagiaannya dan keluarga, tetapi kebahagiaan bagi orang lain.

Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang takut akan Tuhan, sehingga selalu berjalan dan bertindak sesuai kehendakNya dan menjauhi laranganNya.
Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang berani melakukan hal yang benar tanpa takut oleh ancaman.
Kenanutama Sinduaji, jadilah anak yang santun dan sederhana, sehingga tidak me jadi sombong oleh harta dan dunia.
Kenanutama Sinduaji, jadilah yang terbaik..
Amin amin amin

Saturday, 13 January 2018

Bolehkah Anak Usia 3 Tahun Belajar Calistung?

Dulu, dulu sekali, saya belajar membaca, menulis, dan berhitung di kelas 1 SD. Nah sekarang, anak-anak belum masuk SD sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Bapak dan Ibu Guru yang mengajar kelas 1 SD tidak perlu bersusah payah mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Eit.. tunggu dulu, faktanya tidak semua anak masuk SD itu sudah bisa membaca dan menulis. Kenapa begitu ya, apakah di taman kanak-kanak tidak diajari membaca, menulis, dan berhitung?

Tentang membaca, menulis, dan berhitung yang diajarkan di taman kanak-kanak, ini masih menjadi sebuah perdebatan yang tidak kelihatan. Walaupun kadang-kadang muncul menjadi viral di media sosial, tetapi lalu lenyap ditelan bumi. (Baca tulisan saya ini)

Jadi sebenarnya, boleh tidak sih mengajarkan calistung (baca membaca, menulis, dan berhitung) pada anak usia dini, usia 3 tahun misalnya? Boleh-boleh saja (menurut saya). Sejak seorang anak lahir (bahkan ketika masih dalam kandungan) anak sudah bersinggungan dengan membaca, menulis, dan berhitung. Contoh yang saya alami seperti ini:

(1) Sejak masih dalam kandungan, saya membacakan buku cerita atau dongeng setiap hari. Calon bayi saya dalam kandungan sudah mendengarkan kata, kalimat, dan cerita dari ucapan saya. Itu artinya dia sudah bersinggungan dengan membaca.

(2) Ketika bayi sudah lahir, saya membacakan buku cerita lagi bahkan lebih banyak. Setiap kata dan kalimat yang saya ucapkan, menjadi sebuah memori bahasa yang tersimpan di otak anak yang nantinya menjadi kosa kata yang akan anak ucapkan ketika sudah bisa berbicara.

(3) Tanpa saya sadari, setiap kali saya bicara dengan anak saya, sering mengucapkan angka dan hitungan. Padahal saya tahu, kalau anak saya pasti tidak tahu angka saat itu.
Jadi, calistung tidak bisa dijauhkan dari proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemerintah telah mengatur regulasi yang ketat soal batasan-batasan pembelajaran calistung prasekolah dasar dan sekolah dasar. Bahkan, ada juga aturan yang mengatur, tidak boleh ada tes calistung sebagai syarat masuk SD. Namun, walaupun demikian kebanyakan orangtua pasti akan khawatir jika anaknya yang duduk di bangku taman kanak-kanak belum bisa calistung. Sehingga mereka berbondong-bondong mencari tempat les calistung untuk anak mereka.

Bagaimana dengan saya, anak saya usia 3 tahun, haruskah ikut les calistung?
Tentu saja tidak. Saya senang sekali jika anak saya bisa calistung di usianya yang ke-3. Itu keinginan saya, egoisme manusia saya, namun saya sadari, anak saya di masa emasnya, tidak boleh dipaksa melakukan hal yang bukan saatnya. Saya mengenalkan angka, huruf, dan berbagai kosa kata, tetapi bukan untuk dikuasainya, HANYA UNTUK DIKENALNYA. Setelah angka dan huruf dikenalnya dengan baik, dengan sendirinya dia akan memiliki keinginan untuk membaca, menulis, dan berhitung.

Jangan paksa anak belajar calistung. Sediakan saja di dekatnya buku-buku yang bisa mengenalkan anak pada calistung. - Paskalina Askalin -

Thursday, 11 January 2018

Kembali ke Masa Lalu: Teman-teman SMP

Siang ini saya dikejutkan dengan japri seorang teman di masa lalu. Tidak tanggung-tanggung, karena teman itu saya harus mengumpulkan ingatan demi ingatan 24 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bernama Bojonegoro. Dia seorang teman dari masa SMP. Jujur, saya lupa tentang dia, apa dia dulu sekelas dengan saya, atau satu angkatan. Saya benar-benar lupa.

Jadilah hari ini muncul sebuah WAG baru, teman-teman satu angkatan SMPN 2 Bojonegoro. Zaman memang telah berubah, teman dan sahabat yang lama sekali tidak bertemu akhirnya bisa bertegur sapa. Saya senang sekali akhirnya bisa bertegur sapa dengan salah satu sahabat saya waktu SMP, kami sekelas, sering pulang bareng, dan saya sering main ke rumahnya. Dia kini tinggal di Malang.

Ketika menemukan sahabat lama itu, rasanya seperti menemukan permata yang hilang, mengharukan. Jika bisa bertemu, mungkin akan sangat membahagiakan. Semoga saya bisa terhubung dengan sahabat saya lainnya, yang belum diketahui rimbanya.

SMPN 2 Bojonegoro, menjadi bagian dari hidup saya. Walau saya hanya singgah sebentar di kota kelahiran saya ini, ada banyak cerita dan rasa yang terpendam bersama dengan waktu. Setiap sudut jalan yang selalu saya lalui ketika pulang pergi sekolah, amat sangat saya ingat. Sepeda butut yang menemani saya sekolah pun, masih membekas dalam ingatan, karena sepeda itu sering blong remnya, sehingga ketika tiba di turunan (dekat SD Kepatihan) kaki saya harus cepat mengerem sebelum menabrak sepeda lain. Itu hanya sepenggal kisah, masih banyak kisah saya lainnya yang mengharukan hingga memalukan.

Mungkin akan bagus ya, jika cerita saya ketika SMP dibuat menjadi sebuah novel. Ah saya jadi bermimpi.. hahahahaha

- to be continue -

Wednesday, 10 January 2018

Viral, Tulisan Seorang Dokter yang Menyebut PAUD itu Bukan Pendidikan...


Saya tidak ingin membahas tentang tulisan dokter itu. Saya hanya ingin cerita tentang dilema yang saya alami. Dilema itu seakan muncul lagi karena tulisan dokter itu.

Saya pernah menulis ini di catatan saya sebelumnya:
Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari.
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum.
Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah. (Lengkapnya di sini)

Tentang sekolah Paud ini sebagai seorang ibu, saya sebenarnya agak galau, antara memasukkan Kenan ke Paud atau tidak. Kegalauan saya karena stereotipe masyarakat sekitar saya yang memandang sekolah Paud (baca kelompok bermain) sebagai sebuah keharusan bagi anak padahal kelompok bermain itu tidak wajib bagi anak. Setiap kali bertemu saudara atau teman yang lama tak bertemu, pertanyaannya adalah "Kenan sudah sekolah belum?"
Orang tak dikenal di puskesmas, di stasiun, atau tempat lain pun, selalu menanyakan hal yang sama pada Kenan. Apalagi ketika melihat Kenan menghitung benda atau bersenandung lagu ABC. Mereka mengira KARENA KENAN SUDAH SEKOLAH PAUD, Kenan jadi bisa menghitung dan mengenal huruf.

Saya sadar betul, kalau terlalu peduli dengan ocehan orang malah jadi ribet sendiri. Akhirnya saya (kami, saya dan suami) putuskan Kenan tidak masuk sekolah PAUD (baca kelompok bermain).  Jika saya ibu yang bekerja, mungkin keputusannya bisa lain. Saya sepanjang waktu di rumah, jadi saya bisa mengajak Kenan belajar dan bermain semaunya. Lagi pula saya punya banyak buku untuk menunjang proses belajar. Kenan pun bisa belajar sesuka hatinya, tanpa ada tekanan dari siapapun. Mau bermain terus seharian pun tidak jadi soal.

Jadi, tentang keputusan apa perlu memasukkan anak ke sekolah Paud, itu tergantung dari kebijaksanaan orangtua masing-masing anak. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda-beda, setiap anak pun mempunyai kebutuhan yang berbeda. Berikan yang terbaik untuk buah hati, bukan yang terbaik untuk orangtua.

Tulisan ini mengandung curhat ^_^

Tuesday, 9 January 2018

Kenapa Saya Menulis Buku ini?

Alasan pertama saya menulis buku ini adalah karena editor penerbit menyarankan membuat buku ini, jadi saya mencoba membuat proposal naskahnya, lalu di ACC, dan saya tulis. Sesederhana itulah alasannya.
Namun jika dirunut lebih ke dalam buku ini punya sesuatu yang lain bagi saya, penulisnya.

Buku ini kerja sama pertama saya dengan penerbit Elex Media Komputindo. Pertemuan saya dengan Editor Penerbit Elex tidak ujug-ujug. Bulan April 2017 saya mengikuti acara "Ngopi Seru" yang diselenggarakan Komunitas Penulis Bacaan Anak bersama Editor Elex Media. Acara berlangsung di Gedung Kompas Gramedia, Bandung. 

Sebelum acara berlangsung, saya dan penulis lainnya sudah mengajukan proposal naskah. Bagi proposal naskah yang sudah diterima bisa langsung memproses naskahnya dan bekerja sama dengan ilustrator. Nah, proposal naskah saya tidak diterima, jadi Editor memberikan usulan tema lain untuk saya tulis. Salah satu tema yang diajukan adalah buku aktivitas persiapan masuk SD.

Acara Ngopi Seru di Bandung

Ada beberapa tahap yang saya lalui hingga buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit. Berikut ini tahap-tahap proses pembuatan buku ini mulai dari proses menulis hingga terbit.

1. Membuat sampel naskah untuk diajukan ke Editor Penerbit Elex Media.
2. Setelah mendapat persetujuan dari Editor, saya mulai menulis naskah hingga selesai.
3. Keseluruhan naskah yang sudah selesai, saya kirimkan ke Editor.
4. Editor sudah menyetujui naskah, selanjutnya mencari ilustrator.
5. Meminta sampel gambar dari beberapa ilustrator.
6. Editor menyetujui salah satu sampel gambar, selanjutnya editor berkomunikasi langsung dengan ilustrator.
7. Proses pembuatan gambar membutuhkan waktu cukup lama. Setelah gambar selesai, saya memeriksa kelengkapan gambar dan kesesuaian gambar dengan naskah.
8. Naskah dan gambar diserahkan pada Editor untuk diedit, dilayout, hingga akhirnya menjadi dummy.
9. Editor mengirimkan file dummy untuk saya periksa. Kemudian masukan dan catatan koreksi saya serahkan ke Editor.
10. Proses selesai, selanjutnya menunggu proses terbit. Puji Tuhan, buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD terbit 30 Oktober 2017, sehari menjelang ulang tahun saya.

Harapan saya di tahun 2018 ini buku saya yang lain bisa terbit lagi bersama Penerbit Elex Media Komputindo

Monday, 8 January 2018

Karakter Anak : Mandiri (Kemandirian)

Pengalaman saya sebagai seorang ibu….
Mandiri adalah dalam keadaan bisa berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI). Mandiri bisa diterapkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan berulang.

Hal yang sangat sederhana jika dilatihkan terus-menerus akan membuat anak menjadi mandiri. Misalnya memakai sandal sendiri, makan sendiri, membawa tas sendiri, membereskan mainan sendiri, dan sebagainya.

Orangtua kadang tidak mau repot menunggu anak makan sendiri. Apa lagi ketika anak makan sendiri bisa menyebabkan sisa makanan tercecer di mana-mana, kotor, dan berantakan. Hal ini kadang membuat orangtua tidak mau direpotkan sehingga lebih memilih menyuapi anak. Walau kadang anaknya sendiri juga meminta makan sendiri, orangtua tidak memberikan, dengan alasan bikin kotor.

Padahal kerepotan orangtua adalah proses belajar anak. Anak belum paham perbuatannya membuat kotor atau berantakan. Yang ada dibenak anak adalah dia bisa melakukan sendiri, dan orangtua seharusnya membantu proses belajar anak untuk menjadi bisa.

Sering sekali saya melihat, orangtua atau pengasuh anak yang membawakan tas anak ketika pergi dan pulang sekolah. Menurut saya hal ini memutus proses kemandirian anak. Anak menjadi manja, tidak mau dan tidak peduli pada tasnya sendiri. Lama kelamaan hal ini akan terbawa terus hingga remaja.

Berikut ini beberapa kebiasaan orangtua atau orang dewasa atau pengasuh anak, yang membuat anak tidak mandiri:
- Menyuapi makan
- Memakaikan sandal/sepatu
- Membawakan tas saat pulang dan pergi sekolah
- Mengambilkan barang
- Melarang anak membantu
- Membereskan mainan anak

Enam hal di atas sering dilakukan orangtua pada anaknya atau orangtua menyuruh pengasuh anak melakukan hal itu demi anaknya. Saya sebagai orangtua kadang juga terlena untuk memudahkan segala hal demi anak. Tetapi yang saya lakukan justru membuat anak manja, tidak mandiri.
Saya ingin menanamkan kemandirian sejak dini pada anak saya. Saya memulainya dengan makan sendiri tanpa disuapi. Saya memintanya mengambil barang yang diinginkan sendiri. Saya memintanya membantu membereskan mainannya. Saya melibatkan anak saya dalam berbagai aktivitas yang saya lakukan. Hasilnya… kini anak saya bisa makan sendiri, bisa memakai sandal sendiri tanpa pernah terbalik kanan di kiri atau kiri di kanan, anak saya bisa mengambil minum sendiri, dan masih banyak lagi aktivitas yang bisa dilakukan sendiri olehnya.
Untuk sampai pada kemandiriannya, saat ini sebagai seorang Ibu saya harus sabar menghadapi kerepotan atau berantakan karena ulahnya. Saya nikmati itu dengan bahagia.

Tulisan dari blog sebelah, www.paskalina.wordpress.com

Sunday, 7 January 2018

10 Kebaikan yang Bisa Kita Lakukan pada Orang Lain Setiap Hari

Berbuat kebaikan bisa kita lakukan dengan mudah, tanpa harus bersusah payah. Yang menjadikan kita sulit berbuat kebaikan adalah gengsi kita. Gengsi bisa membuat kita takut direndahkan. Padahal dengan kita merendahkan diri, tidak akan menurunkan derajat kita di hadapan Tuhan.
10 kebaikan yang bisa kita lakukan pada orang lain setiap hari.

1. Tersenyum

Untuk memberikan senyum, kita tak perlu mengeluarkan tenaga, apalagi uang. Jadi, berikan senyummu sebanyak-banyaknya pada orang-orang di sekitarmu.

2. Memaafkan

Memaafkan itu akan melegakan hati kita, sekaligus membuat orang yang kita maafkan senang. Harga diri kita tidak akan jadi rendah, hanya karena memberi maaf pada orang lain.

3. Membantu

Orang lain akan menjadi senang ketika menerima bantuan. Oleh karenanya kita telah melakukan kebaikan untuk orang lain. Walaupun kadang kita menemukan orang yang gengsi atau malu menerima bantuan dari kita, tak perlu kita risaukan. Yang penting, kita secara tulus mau membantu orang lain.

4. Menolong

Banyak peristiwa yang membuat seseorang tertolong. Walau kadang pertolongan yang kita berikan dianggap sepele, dan tidak kita anggap sebagai perlakuan baik untuk orang lain. Pertolongan yang kita lakukan bisa menyelamatkan seseorang dari masalah. Misalnya, menolong seorang Nenek yang kesulitan menyeberang, menolong seorang anak mengambil kucing di pohon, dan sebagainya.

5. Menyapa

Ketika berada di tempat baru, tidak kenal satu pun orang yang ada di situ, saat ada orang baru menyapa kita rasanya senang sekali. Seperti merasa ada teman di tempat asing. Kita bisa lakukan kebaikan dengan menyapa orang lain.

6. Memberi

Memberi waktu kita sebentar untuk mendengarkan curhatan teman atau sahabat adalah sebuah kebaikan. Memberi keleluasaan teman bercerita, menjadi pendengar yang baik, itu menyenangkan bagi orang lain. Jadi, jangan segan-segan memberikan waktumu untuk orang-orang di sekitarmu.

7. Merelakan

Merelakan sesuatu untuk orang lain (saudara atau teman), itu merupakan kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain. Misalnya merelakan baju dipakai oleh adik, merelakan bagian terbesar makanan untuk kakak, dan sebagainya.

8. Mengalah

Mengalah bukan berarti kalah. Ketika kamu mengalah pada adikmu, itu sebuah kebaikan. Ketika kamu mengalah di jalan raya dan membiarkan orang lain lewat lebih dahulu, itu juga sebuah kebaikan.

9. Berdonasi

Berdonasi untuk mereka yang membutuhkan adalah bentuk kebaikan kita untuk orang lain. Berdonasi atau memberikan sumbangan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. 

10. Meminjamkan

Meminjamkan barang bisa menjadi kebaikan yang bisa kita lakukan. Di suatu tempat, di mall, kita bisa meminjamkan bolpoin pada orang lain yang membutuhkan.

Kebaikan yang mana yang sudah kamu lakukan hari ini?

Berapa kebaikan yang kamu lakukan hari ini?

Tulisan lama dari blog www.paskalina.wordprees.com

Friday, 5 January 2018

Cerita Berima untuk Anak

Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan (KBBI Luring).
Ada banyak buku anak yang memanfaatkan rima akhir untuk membuat cerita anak. Anak-anak memang lebih mudah mencerna kata berima.

Anak saya, Kenan 3 tahun, sering menyahut ketika mendengar suatu kata dan menghubungkannya dengan kata lain yang mempunyai bunyi akhir sama.
Misalnya, saya mengatakan pada Kenan, Kenan duduknya yang sopan. Jawab Kenan, iya, kalau yang di Bojonegoro itu Om Topan. Kenan menghubungkan kata sopan dengan topan.

Kata lainnya yang menarik bagi Kenan adalah kutipan kalimat dalam buku Si Kumbi.

Bukan kami tak ingin berbagi
Perbuatanmu itu tidak terpuji

Kenan jadi tahu kata TIDAK TERPUJI. Kenan juga paham artinya jika mencuri itu perbuatan tidak terpuji. Kata kumbi, terpuji, berbagi, mencuri, dan sebagainya diakhiri bunyi "i" yang mudah dipahami oleh anak.

Semalam, tiba-tiba saya ingin menulis cerita mini berima. Ini dia hasilnya, tiga cerita mini berima. Semoga bisa dimanfaatkan oleh pembaca sekalian.

Balonku

Balonku ada lima
Dibelikan oleh bunda
Aduh hilang tiga
Jadinya sisa dua

Balonku warna biru
Satunya berwarna ungu
Balonku kejepit pintu
Balonku tersisa satu


Topi

Aku punya topi
Hadiah dari bibi
Topiku bagus sekali
Topiku terus dipuji

Topiku berwarna biru
Mana topiku
Aku lupa menyimpan topiku
Ah topiku ada di balik pintu


Membaca

Aku suka membaca
Membaca buku cerita
Membaca itu berguna
Menambah pintar kosakata

Ini buku hadiah dari Bunda
Karena aku rajin membaca
Besok bunda akan ke kota
Aku pesan buku lima



Ditulis oleh Paskalina Askalin

Wednesday, 3 January 2018

Buku Sahabat: Peluncuran dan Bedah Buku Embara Embun Mimpi

tepian sawah
mewah kau duduk makan
mengusir padi

bangau tunggui
petani bajak sawah
mencari makan

(Dua haiku dalam buku Embara Embun Mimpi)

Saya sungguh turut berbahagia untuk dua sahabat saya, Ira Diana dan Dwi Guna, untuk peluncuran buku terbaru mereka berjudul Embara Embun Mimpi. Buku ini ada sebuah buku haiku yang unik karena semua ilustrasinya adalah lukisan. Dimana kebanyakan buku haiku menggunakan ilustrasi foto.

Ira dan Guna pertama kali bertemu sejak 2013 ketika mereka menjadi jawara dalam sayembara buku yang diadakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Ira menulis buku naskah drama dan Guna menulis buku biografi. Sementara, saya mengenal dekat mereka ketika buku kami menjadi buku terpilih dalam Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Gerakan Literasi Nasional 2017.

Ira dan Guna sudah malang-melintang cukup lama di dunia penulisan, buku ini entah buku ke berapa buat mereka. Nah, pertanyaan ini mungkin nanti bisa ditanyakan pada mereka ketika acara PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU EMBARA EMBUN MIMPI. Silakan hadir dalam acara ini karena didukung pula dengan acara musikalisasi puisi serta pameran lukisan. Acara dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20 Januari 2018, pukul 11.00 wib.


Untuk sedikit memancing rasa ingin tahu kita tentang buku ini, saya berikan beberapa testimoni untuk buku Embara Embun Mimpi.

"Jujur, ini buku yang ingin saya tulis juga .... Antalogi haiku dipadu padan dengan ilustrasi yang disebut haiga. Dwi Guna dan Ira berhasil menyajikan fenomena alam Nusantara secara apik dan sederhana dalam bingkai haiga. Buku yang baik untuk berbahagia dengan puisi tradisional Jepang ini." -- Bambang Trim, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Direktur Institut Penulis Indonesia.

Sebagai penulis yang tumbuh dalam tradisi sastra Melayu-Nusantara, dulu saya bersikap skeptis terhadap haiku, puisi khas Jepang yang, menurut saya, mengandung 'split' estetika. Ini berbeda dengan pantun dan syair, misalnya, dimana kata, irama (bunyi), dan makna begitu solid. Belakangan saya tahu haiku berusaha menyatukan yang terpecah itu. Haiku juga merefleksikan kosmologi orang Jepang; sebagaimana pantun/syair merefleksikan kosmologi bangsa Melayu. Maka tidak mudah bagi penyair Indonesia untuk menulis haiku. Namun Guna dan Ira menunjukkan sebaliknya. Mereka mampu mengatasi kedua problem di atas; estetikanya berdenyar menyentuh intuisi, dan kosmologinya berpijak di lingkungan sendiri. -- Ahmad Gaus, Dosen sastra Swiss German University (SGU), penulis buku puisi Senja di Jakarta (2017) dan Kutunggu Kamu di Cisadane (2013).

日本人として、この南半球でインドネシアの方が俳句を詠み俳句に親しまれるのを誇りに思います。
定型の短い文章の中で、一瞬にして、読者を詠み手の目の前の世界へと誘ってくれる俳句。
著者達が紡ぎ出す言葉の「わび・さび」に感銘を受けました。
Sebagai orang Jepang, saya bangga penulis Indonesia menikmati menulis Haiku di belahan bumi selatan ini. Dalam kondisi tertentu, dalam sekejap mata, saya diundang ke dunia penyair Haiku. Saya terkesan dengan perasaan Wabi-Sabi dalam kata-kata yang berhasil mereka jalin.---Megumi Nakao 
Bagi saya, membaca testimoni di atas membuat penasaran dan ingin segera membaca dan memiliki buku ini. Ira pernah menawarkan pada saya untuk memperlihatkan file isi buku ini. Ah, tetapi saya menahan rasa penasaran saya hingga tanggal 20 Januari nanti ketika acara peluncuran buku ini.

Bagi yang ingin membeli buku ini dan belum bisa hadir di acara peluncuran nanti. Jangan khawatir, ada harga spesial untuk buku Embara Embun Mimpi menjelang peluncurannya. Silakan cek dalam flyer di bawah ini.  TAPI SAYA SARANKAN UNTUK HADIR DI ACARA PELUNCURAN, kenapa? karena ada suvenir keren untuk 20 undangan yang hadir. Yuk, buruan daftar dan buruan pesan, sebelum kehabisan.



Tuesday, 2 January 2018

Belajar di Rumah: Mengenal Angka (1)


Beberapa waktu lalu saya dan Kenan serta ayahnya liburan ke tempat simbahnya Kenan, di Purbalingga. Pada suatu waktu sedang kumpul keluarga, Kenan beraksi menghitung benda hiasan yang ada di lemari.
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh," kata Kenan.
"Eh, sudah sekolah Paud ya," sahut salah satu keluarga ketika melihat Kenan menghitung.
"Belum," jawab saya sambil tersenyum.

Sebenarnya batin saja agak tersedak saat mendengar itu. Apa perlu Kenan sekolah di usia masih 3 tahun? Orangtua yang bekerja memilih memasukkan anaknya ke kelompok bermain di usianya yang masih sangat kecil. Usia 2-3 tahun sudah masuk sekolah.

Saya khawatir Kenan bosan bersekolah jika harus masuk sekolah diusia 3 tahun. Saya juga tidak ingin mengambil waktu bermainnya untuk dihabiskan di sekolah.

Saya selalu di rumah, jadi saya bisa menemani Kenan setiap saat. Saya bisa menjadi ibu sekaligus guru untuk Kenan. Apa yang diajarkan di sekolah bisa saya ajarkan di rumah. Saya juga tidak perlu memaksa Kenan untuk belajar. Belajar bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Salah satu yang sudah saya kenalkan pada Kenan adalah ANGKA. Ada banyak aktivitas yang saya lakukan untuk mengenalkan angka pada Kenan. Berikut ini di antaranya:

1. Melalui Lagu
Sejak kecil kita sudah mengenal lagu Satu Satu.

Satu Satu
Satu satu aku sayang ibu
Dua dua juga sayang ayah
Tiga tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya.

Lagu ini secara tidak langsung mengenalkan anak pada angka. Sambil menyanyikan lagu saya memperagakan tangan saya, ☝✌ dan seterusnya. Lagu ini bisa dinyanyikan sebelum tidur atau kapan pun ketika ada kesempatan.

Lagu Satu Satu ini juga bisa dimodifikasi sendiri sesuai kreativitas kita. Saya memodifikasi dengan menggunakan bahasa Inggris.

Number one, I love my mother
Number two, I love my father
Number three, I love my grandma
One two three, I love my family

Lagu Satu Satu ini mengenalkan anak pada angka 1, 2, dan 3. Dalam pengenalan ini kita tidak perlu memaksa anak untuk hafal angka. Kita hanya perlu mengenalkan pada anak, bukan mengharuskan hafal angka. Anak adalah peniru yang hebat. Mendengar dan melihat angka secara berulang-ulang akan melekat pada ingatan anak. 


2. Menghitung Mainan
Anak-anak mempunyai banyak mainan. Kita bisa mengajak anak menghitung mainannya. Cobalah ajak anak menghitung 1-10. Anak pada awalnya mungkin tidak peduli, tetapi semakin sering kita mengulang menghitung pada akhirnya anak akan mengingat dan mencoba menghitung.

Fakta:
Kenan belum genap berusia 3 tahun. Saat ini setiap kali melihat jejeran benda dia akan menghitung benda itu, 1-10.

Anak adalah peniru ulung, sehingga ketika sebuah perkataan diulang-ulang akan mudah diingat oleh anak. Oleh karena itu, orangtua harus selalu mengulang menyebutkan angka 1-5, kemudian 1-10, dan seterusnya.



Bersambung ke Belajar di Rumah: Mengenal Angka (2)

Ditulis oleh Paskalina Askalin

Monday, 1 January 2018

Bermain di Luar Rumah

Saya tertarik dengan ajakan sebuah iklan sabun, "Ayo bermain di luar."
Ajakan ini sangat positif dan patut diikuti oleh seluruh keluarga Indonesia.
Di era gawai ini, anak-anak cenderung menyukai berlama-lama duduk dengan gawai-nya masing-masing. Anak-anak tidak banyak bergerak sebagaimana mestinya.

Orangtua memang tidak bisa melepaskan anak dari keberadaan gawai. Walaupun orangtua bersikeras menjauhkan anak dari gawai, anak tetap akan bersinggungan dengan gawai melalui lingkungan pergaulannya.

Ada hubungan erat antara bermain di luar dan gawai. Bermain di luar bisa membuat anak melupakan dari gawai.  Anak-anak menyukai aktivitas bergerak yang dilakukan di luar rumah. Namun, orangtua kadang malas menemani anak bermain di luar.

Anak saya, Kenan (3 tahun), sudah tertarik dengan gawai. Bagaimana tidak tertarik, kami orang dewasa, ayah, bunda, dan neneknya sering lupa pada situasi sehingga fokus pada gawainya masing-masing. Hal ini membuat Kenan pun ikut-ikutan memegang gawai.
Hal seperti di atas, saya yakin dialami oleh semua orangtua. Ada orangtua yang santai saja menanggapinya dan memberi kebebasan pada anak memakai gawai. Ada pula orangtua yang ekstra ketat melarang anaknya menggunakan gawai, kecuali hari libur.
Saya termasuk orangtua yang berada pada posisi tengah, saya tidak melarang anak saya bersentuhan dengan gawai, tetapi saya juga tidak memberi kebebasan memegang gawai. Jadi sebenarnya tergantung orangtua, bukan? Ketika anak sudah suka pada satu aktivitas di gawai, bermain game atau menonton kartun edukasi Youtube, akan sulit memintanya berhenti. Nah, jadi harus ada aktivitas pengganti untuk anak bisa meninggalkan gawainya.

Bermain di luar rumah bisa menjadi pilihan untuk menjauhkan anak dari kebiasaan bermain gawai. Orangtua dapat mengajak anak melakukan aktivitas permainan di luar rumah, bisa di teras, halaman, atau di taman kompleks. Bermain di luar rumah membuat anak bergerak bebas. Nah, kini tugas orangtua  menciptakan permainan yang menarik untuk dimainkan bersama anak.

Warning: Ingat ya, dimainkan bersama, bukan menyuruh anak bermain sendiri, sementara orangtua duduk diam memperhatikan.

Bermain di luar rumah bisa dilakukan kapan saja, pagi, siang, sore, maupun malam hari. Orangtua bisa menyesuaikan waktu sesuai kondisi. Bagi orangtua yang bekerja, bisa mengajak anak bermain di luar rumah ketika liburan tiba. Atau orangtua bisa memberitahukan pada orang yang mengasuh atau menemani anak untuk mengajak anak bermain di luar rumah.
Bagi orangtua (ayah/ibu) yang bekerja di rumah, bermain di luar rumah bisa selalu dilakukan kapan saja. Bermain di luar rumah tidak perlu dilakukan setiap hari, yang utama mengimbangi kegiatan sehari-hari anak.

Bermain di luar rumah tidak melulu bermain. Orangtua bisa menambahkan aktivitas edukasi yang bermanfaat seperti menghijaukan lingkungan, kerja bakti membersihkan halaman, atau merawat tanaman.

Berikut ini ide aktivitas/permainan untuk bermain di luar rumah bersama anak.
1. Bermain bola atau mainan lain
2. Bermain pasir
3. Menyiram tanaman
4. Menanam pohon
5. Melukis botol atau kaleng bekas untuk pot atau benda fungsional lainnya
6. Bermain drum dari kaleng bekas

Enam ide di atas sudah pernah saya lakukan. Bukan bermaksud untuk bermain di luar, tetapi ternyata bermain di luar itu bermanfaat untuk kecerdasan serta tumbuh kembang anak.

Ditulis oleh Paskalina Askalin


Buku Baru: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD

Judul: Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD Penulis: Paskalina Askalin Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: Mei, 2019 Tebal: 10...